Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Sabtu, 18 April 2026
home wirausaha syariah detail berita

Dulu Manajer BUMN Sekarang Juragan Kambing, Berusaha Mencari Berkah

mahmuda attar hussein Rabu, 28 Juli 2021 - 13:00 WIB
Dulu Manajer BUMN Sekarang Juragan Kambing, Berusaha Mencari Berkah
Didi bersama presiden Jokowi dalam satu kesempatan. Foto: Instagram @bhuminararya
LANGIT7.ID, Yogyakarta - Menduduki jabatan mumpuni di sebuah perusahaan besar tentu menjadi impian banyak orang. Berbagai fasilitas dan kemudahan jadi alasan. Jarang orang yang rela melepaskan jabatan dan keluar dari zona nyaman.

Salah seorang yang jarang itu ternyata dilakoni Didi. Manajer di perusahaan BUMN ini memutuskan mundur untuk beralih profesi menjadi peternak kambing. Terdengar sepele memang, karena beternak kambing identik dengan masyarakat pedesaan yang dianggap memiliki kelas ekonomi menengah ke bawah.

“Sejak 2000 saya putuskan untuk mundur dari BUMN, bisa dibilang saya memiliki penghasilan dan fasilitas yang lebih dari cukup saat itu. Tapi dari beternak kambing ini, saya bisa lebih mendapatkan rasa bahagia, syukur, dan merdeka atas sebuah makna hidup,” katanya dikanal Youtube CapCapung.
Dulu Manajer BUMN Sekarang Juragan Kambing, Berusaha Mencari Berkah
Bhumi Nararya Farm, peternakan Didi di Yogyakarta ini merupakan peternakan kambing perah, yang bisnis utamanya adalah melakukan breeding, mulai dari perkawinan, pemerahan indukan, hingga perawatan cempe (anakan kambing) dengan menggunakan sistem kandang individu agar ternak tetap terjaga dan terkontrol.

“Kami dapat cempe, susunya kami perah, sisanya kami jual. Jadi cempe mendapatkan susu secukupnya dari induk yang kami, sisa susunya kami jual. Sehingga kami mendapatkan keuntungan secara menyeluruh,” ujarnya.

Bagi peternak kambing perah seperti Didi, kandang menjadi prioritas utama dalam sebuah pembuatan peternakan. Didi selalu memastikan perawatan dan kebersihan kandangnya untuk membuat pekerja, pembeli, dan ternak tetap nyaman.

Menurutnya, peternakan kambing perah lebih sustainable dibandingkan yang lain. Selain itu, susu kambing saat ini semakin memasyarakat dan mengalami peningkatan permintaan.

“Kami berada di dusun sentra pengolahan produk susu kambing. Sehingga secara pasar kami jauh lebih dekat dengan hilirnya,” ujarnya.

Baginya, substansi dari peternak kambing perah bukan hanya sekedar menjual susu. Melainkan bisa membagikan kemanfaatan, seperti kebersihan dan kesehatan kepada sekitar.

“Itulah yang kami lakukan di Bhumi Nararya Farm ini, kegiatan perah susu yang kami lakukan menggunakan peralatan dan tempat yang modern dan higienis. Susu yang kami perah kita minimalkan terkontaminasi dengan udara, dan diperah dengan mesin dan ditampung di ruangan yang steril,” ujarnya.

Bhumi Nararya Farm bisa menghasilkan susu kambing 300 liter per harinya. Ia menargetkan tahun ini bisa memerah kambing sebanyak 400 ekor di peternakannya. Diperkirakan menghasilkan susu 700-800 liter per hari.

“Intinya susu kambing di negara maju mulai menjadi sebuah tren. Dulu orang membeli susu kambing karena sakit, di tahun 2020 ketika pandemi Covid-19, orang beli susu kambing karena ingin menjaga kesehatan. Jadi ada perubahan paradigma, dulu beli karena sakit, sekarang untuk sehat,” katanya.

Perjalanan Karir Peternak Kambing Perah

Sebelum memutuskan menjadi peternak, Didi menjabat sebagai manajer di sebuah perusahaan BUMN. Tahun 2000 silam memutuskan untuk mundur. Ia diajak kakaknya bergabung untuk membuka petenakan kambing.

Baginya, beternak merupakan kegiatan yang membahagiakan, mensejahterakan, dan sunatullah. Ia beternak tidak semata untuk mencari kejayaan dan mengumpulkan harta yang berlebihan.

“Kami lebih mencari sebuah keberkahan, dari apa yang kita dapat memiliki manfaat untuk kita, keluarga, dan orang sekitar. Buat kami itu jauh lebih bernilai ketimbang harta yang berlebihan,” katanya.
Dulu Manajer BUMN Sekarang Juragan Kambing, Berusaha Mencari Berkah
Ia mengatakan, mendapatkan pengalaman spiritual pertama kali ketika salah satu kambing dipeternakannya melahirkan. Didi merasakan sebuah kenikmatan dan syukur yang luar biasa.

“Ternyata begitu hebatnya Allah. Dari situ saya mulai mencintai dan memutuskan untuk peternak breeding,” jelasnya.

Memulai usaha pada 2012, peternakannya diawali dengan jenis kambing Jawa Randu, sebanyak 70 ekor dan 1 ekor pejantan Saanen. Hingga saat ini, populasi kambing di peternakan Didi sudah mencapai 732 ekor, 98 persennya adalah genetik Sapera atau Saanen peranakan Etawa.

Sebelumnya, karena keterbatasan pengetahuan dan keterampilan, peternakan Didi sempat merugi akibat kematian beberapa kambingnya. Dari 70 ekor kambing di awal usaha, dalam kurun satu bulan hanya tersisa 40 ekor saja.

“Kalau 1 ekor Rp600 ribu, maka saya kehilangan aset hampir Rp18 juta. Kemudian berjalannya waktu, kami mulai memahami dan bisa meminimalisasikan kerugian ternak yang sebenarnya tidak perlu terjadi jika sudah ada pemahaman sebelumnya,” jelasnya.

Ada perbedaan antara peternak kambing perah dengan peternak perah kambing. Peternak kambing perah adalah peternak yang mengelola dan merawat kambing perah, mulai dari proses melahirkan, sapih hingga berkembang biak.

Sementara peternak perah orientasinya hanyalah susu kambing. Sehingga kambing milik Didi diperah hingga 10 tahun.

“Peternak perah kambing memang sesaat akan memberikan manfaat ekonomi yang cukup. Tetapi secara jangka panjang ada penurunan genetik, karena kambing yang diperah pasti kambing yang bagus, sedangkan sisanya tidak diperah. Ini akan menghasilkan keturunan dari kambing yang tidak bagus,” katanya.

Kambing Perah Bhumi Nararya Farm

Kambing Saanen berasal dari suatu lembah di Swiss, tapi banyak dikembangkan di Australia. Jenis inilah yang dijadikan Didi sebagai penjantan di peternakannya. Sementara indukan, ia menggunakan kambing lokal, seperti Etawa, Jawa Randu dan lainnya.

“Disebutnya hari ini jenis Sapera. Jenis peranakan ini, lebih adaptif dengan kondisi Indonesia, maka Sapera jauh lebih tahan terhadap lingkungan Indonesia, lebih tahan terhadap penyakit,” jelasnya.

Lebih lanjut, produktivitas kambing Sapera jauh lebih tinggi ketimbang kambing lokal. Sapera yang terawat baik diyakini mampu menghasilkan susu sebanyak 2 liter per hari.

“Kambing di tempat kami dibudidayakan melalui recording ketat. Sehingga kami mampu mengelola ternak breeding dengan terstruktur,” jelasnya.

Dalam peternakan kambing, sumber daya manusia (SDM) menjadi faktor utama yang menentukan. Selain itu, genetik dan sistem perawatan ternak juga mempengaruhi jalannya perkembangan dari bisnis peternakan.

“Cashflow itu juga penting di dalam usaha peternakan kambing dan domba. Tetapi sangat jarang kita lakukan. Artinya manajemen keuangan, di mana prinsip pertama keuangan harus tercatat, dan prinsip kedua harus memisahkan uang rumah dengan uang kambing. Maka dilanjutkan lagi dengan pemasaran yang tepat sasaran,” imbuhnya.

(zul)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Sabtu 18 April 2026
Imsak
04:28
Shubuh
04:38
Dhuhur
11:56
Ashar
15:14
Maghrib
17:54
Isya
19:03
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)