Kisah Kasim Arifin, KKN 15 Tahun di Pelosok Demi Berdayakan Petani
Muhajirin
Ahad, 29 Mei 2022 - 01:00 WIB
Ilustrasi (foto: langit7.id/istock)
Di dunia kampus, Kuliah Kerja Nyata (KKN) menjadi salah satu tahapan yang wajib dilalui setiap mahasiswa. KKN biasanya dilaksanakan beberapa hari atau beberapa bulan saja.
Namun, ternyata ada mantan mahasiswa di Institut Pertanian Bogor (IPB) yang pernah KKN selama 15 tahun. Dia adalah Mohammad Kasim Arifin, pria kelahiran Langsa, Aceh pada 18 April 1938.
Mengutip laman ristekdikti, pada 1964, Fakultas Pertanian IPB mengirim Kasim untuk mengabdi di Waimital, Pulau Seram, Maluku. Ia berangkat membawa misi program ‘Pengerahan Tenaga Mahasiswa’ yang kini bisa disebut sebagai KKN.
Baca juga: Peneliti IPB Ungkap Dokumen AMDAL Penambangan di Desa Wadas
Kasim bertugas mengenalkan program Panca Usaha Tani. Untuk menjalankan program itu, dia mulai mendatangi Waimital dan berbaur dengan warga setempat. Namun, hal itu justru membuatnya begitu terlibat dengan pengabdiannya.
Dia sangat totalitas dalam mengajar para petani setempat tentang cara meningkatkan hasil tanaman dan ternak mereka. Hingga, aktivitas itu membuat Kasim lupa untuk pulang dan menyelesaikan skripsinya.
Kasim telah banyak menolong masyarakat desa untuk menjadi mandiri. Bersama warga setempat, dia membuka jalan desa, membangun sawah-sawah baru, hingga membuat irigasi. Semua itu dia lakukan tanpa bantuan satu peser pun dari pemerintah.
Namun, ternyata ada mantan mahasiswa di Institut Pertanian Bogor (IPB) yang pernah KKN selama 15 tahun. Dia adalah Mohammad Kasim Arifin, pria kelahiran Langsa, Aceh pada 18 April 1938.
Mengutip laman ristekdikti, pada 1964, Fakultas Pertanian IPB mengirim Kasim untuk mengabdi di Waimital, Pulau Seram, Maluku. Ia berangkat membawa misi program ‘Pengerahan Tenaga Mahasiswa’ yang kini bisa disebut sebagai KKN.
Baca juga: Peneliti IPB Ungkap Dokumen AMDAL Penambangan di Desa Wadas
Kasim bertugas mengenalkan program Panca Usaha Tani. Untuk menjalankan program itu, dia mulai mendatangi Waimital dan berbaur dengan warga setempat. Namun, hal itu justru membuatnya begitu terlibat dengan pengabdiannya.
Dia sangat totalitas dalam mengajar para petani setempat tentang cara meningkatkan hasil tanaman dan ternak mereka. Hingga, aktivitas itu membuat Kasim lupa untuk pulang dan menyelesaikan skripsinya.
Kasim telah banyak menolong masyarakat desa untuk menjadi mandiri. Bersama warga setempat, dia membuka jalan desa, membangun sawah-sawah baru, hingga membuat irigasi. Semua itu dia lakukan tanpa bantuan satu peser pun dari pemerintah.