Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Selasa, 21 April 2026
home sosok muslim detail berita

Kisah Kasim Arifin, KKN 15 Tahun di Pelosok Demi Berdayakan Petani

Muhajirin Ahad, 29 Mei 2022 - 01:00 WIB
Kisah Kasim Arifin, KKN 15 Tahun di Pelosok Demi Berdayakan Petani
Ilustrasi (foto: langit7.id/istock)
LANGIT7.ID, Jakarta - Di dunia kampus, Kuliah Kerja Nyata (KKN) menjadi salah satu tahapan yang wajib dilalui setiap mahasiswa. KKN biasanya dilaksanakan beberapa hari atau beberapa bulan saja.

Namun, ternyata ada mantan mahasiswa di Institut Pertanian Bogor (IPB) yang pernah KKN selama 15 tahun. Dia adalah Mohammad Kasim Arifin, pria kelahiran Langsa, Aceh pada 18 April 1938.

Mengutip laman ristekdikti, pada 1964, Fakultas Pertanian IPB mengirim Kasim untuk mengabdi di Waimital, Pulau Seram, Maluku. Ia berangkat membawa misi program ‘Pengerahan Tenaga Mahasiswa’ yang kini bisa disebut sebagai KKN.

Baca juga: Peneliti IPB Ungkap Dokumen AMDAL Penambangan di Desa Wadas

Kasim bertugas mengenalkan program Panca Usaha Tani. Untuk menjalankan program itu, dia mulai mendatangi Waimital dan berbaur dengan warga setempat. Namun, hal itu justru membuatnya begitu terlibat dengan pengabdiannya.

Dia sangat totalitas dalam mengajar para petani setempat tentang cara meningkatkan hasil tanaman dan ternak mereka. Hingga, aktivitas itu membuat Kasim lupa untuk pulang dan menyelesaikan skripsinya.

Kasim telah banyak menolong masyarakat desa untuk menjadi mandiri. Bersama warga setempat, dia membuka jalan desa, membangun sawah-sawah baru, hingga membuat irigasi. Semua itu dia lakukan tanpa bantuan satu peser pun dari pemerintah.

Masyarakat setempat sangat menghargai kesederhanaan, kedermawanan, dan tutur kata yang lembut dari seorang Kasim. Maka itu, masyarakat setempat, menyebutnya sebagai Antua, sebuah sebutan bagi orang yang dihormati di Maluku.

Seharusnya, Kasim hanya ditugaskan selama tiga bulan saja. Saat teman-temannya kembali ke Bogor, dia memutuskan tetap tinggal. Dia merasa tugasnya belum selesai.

Baca juga: Segudang Manfaat dari Pekarangan Si Madu Garapan IPB University

Rektor IPB kala itu, Andi Hakim Nasution, hingga orang tuanya pun tak dihiraukan ketika memintanya pulang. Sampai ketika utusan khusus Rektor IPB, Saleh Widodo, berhasil meyakinkan Kasim untuk pulang dari tempat KKN 15 Tahun kemudian.

IPB menganugerahi Kasim dengan gelar Insinyur Pertanian Istimewa. Dia diwisuda pada 22 September 1979. Bukan karena skripsi atau ujian, tapi karena bakti tanpa pamrih pada dunia pertanian.

Kisah Kasim Arifin ini juga menggerakkan salah satu penyair Indonesia, Taufiq Ismail membuatkan satu puisi. Mengutip laman resmi IPB, puisi itu berjudul ‘Syair untuk Seorang Petani dari Waimital, Pulau Seram, yang Pada Hari Ini Pulang ke Almamaternya’.

Dari pulau itu, dia telah pulang
Dia yang dikabarkan hilang
Lima belas tahun lamanya
Di Waimital Kasim mencetak harapan
Di kota kita mencetak keluhan(Aku jadi ingat masa kita diplonco dua puluh dua tahun yang lalu)
Dan kemarin, di tepi kali Ciliwung aku berkaca
Kulihat mukaku yang keruh dan leherku yang berdasi
Kuludahi bayanganku di situ itu karena masa laluku
Ketika aku mengingatmu, Sim

Setelah wisuda, Kasim menerima berbagai tawaran pekerjaan dan kesempatan meninjau pertanian di Amerika Serikat. Namun, ia memilih kembali ke Waimital. Baru setelah itu, Kasim menerima pekerjaan sebagai dosen di Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh.

Baca juga: IPB Garap Potensi Desa Wisata Cibanteng

Dia pensiun dari jabatan dosen pada 1993. pada 1982, Kasim juga mendapat penghargaan Kalpataru dari pemerintah. Dia menikah dengan salah seorang guru Bahasa Indonesia di sebuah SMA di Banda Aceh. Sulung dari ketiga anak mereka juga berkuliah di Universitas Syiah Kuala. Kasim Wafat di Banda Aceh 26 Juli 2006.

(jqf)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Selasa 21 April 2026
Imsak
04:27
Shubuh
04:37
Dhuhur
11:55
Ashar
15:14
Maghrib
17:53
Isya
19:02
Lihat Selengkapnya
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ تَعَالَوْا اِلٰى كَلِمَةٍ سَوَاۤءٍۢ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ اَلَّا نَعْبُدَ اِلَّا اللّٰهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهٖ شَيْـًٔا وَّلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۗ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُوْلُوا اشْهَدُوْا بِاَنَّا مُسْلِمُوْنَ
Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang Muslim.”
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)