LANGIT7.ID-, -
Omar M. Yaghi, warga Amerika keturunan Palestina, dinobatkan sebagai pemenang
Hadiah Nobel Kimia 2025 atas pengembangan kerangka logam organik (MOF).
Yaghi, profesor kimia dari University of California-Barkeley bersama dua rekannya, Susumu Kitagawa dari Universitas Kyoto dan Richard Robson dari Universitas Melbourne, mengekstrasi air dari udara gurun menggunakan kerangka moskuler.
Komite Nobel menyebut inovasi Yaghi dan rekannya seperti tas Hermione dari
Harry Potter atau tas ajaib milik Mary Poppins, yang terlihat kompak namun memiliki ruang yang luar biasa luas di dalamnya.
Baca juga: Sunarso, Dirut BRI Disebut Presiden-Menkeu Calon Dapat NobelOmar Yaghi tumbuh besar di kamp pengungsi Yordania. Ia adalah putra
pengungsi Palestina dari desa Al-Masmiyya di Gaza.
Orang tuanya hampir tidak bisa membaca atau menulis. Keluarganya tinggal di satu kamar, berbagi dengan ternak.
Air mengalir ke lingkungan tempat tinggalnya selama beberapa jam setiap 14 hari. Jika Yaghi tidak bangun subuh untuk membuka keran, keluarganya—bahkan sapi mereka—akan kekurangan air.
Pagi-pagi sekali, Yaghi menunggu air yang mungkin tak kunjung datang. Kondisi ini mengajarkannya tentang kelangkaan.
Ia berangkat ke AS pada usia 15 tahun, belajar bahasa Inggris sambil jalan. Perjalanan dari satu kamar di Yordania menuju puncak pencapaian ilmiah tidaklah mudah, tetapi diterangi oleh sesuatu yang Yag
Yaghihi yakini: bahwa sains tidak peduli dari mana Anda berasal.
"Sains adalah kekuatan penyeimbang yang hebat di dunia," ujarnya dalam wawancara pertamanya setelah kemenangan tersebut, dilansir dari TRT World, Jumat (10/10/2025).
Yaghi memulai dengan hampir tanpa apa-apa. Ia hanya memiliki rasa ingin tahu bahwa hal-hal indah dapat dibangun dari pemahaman bagaimana molekul saling terhubung.
"Saya bertekad untuk membangun hal-hal indah dan memecahkan masalah intelektual," katanya kepada Adam Smith, peraih Nobel.
Baca juga: Penerima Nobel Perdamaian, Malala Menikah di Birmingham"Semakin dalam Anda menggali, semakin indah Anda menemukan konstruksinya."
Hasil penemuan
Yaghi dan kawan-kawannya dapat menyediakan air bagi jutaan orang di wilayah yang kekurangan air. Orang-orang yang menghadapi perjuangan yang sama seperti yang pernah dialami keluarga Yaghi.
Sebelum Nobel, Yaghi telah meraih banyak penghargaan, seperti Penghargaan Wolf yang bergengsi di bidang Kimia pada 2018.
Penghargaan Internasional Raja Faisal di bidang Sains pada tahun 2015. Kemudian, pada tahun 2024 saja, Solvay Prize, Tang Prize, dan Penghargaan Balzan.
Yaghi meraih gelar doktor di bidang kimia dari University of Illinois di Urbana-Champaign dan menjadi peneliti pascadoktoral National Science Foundation di Universitas Harvard.
Ia mengajar di UCLA sebelum bergabung dengan UC Berkeley.
Baca juga: Abdulrazak Gurnah Raih Penghargaan Nobel Sastra 2021(est)