LANGIT7.ID - , Jakarta - Novelis berdarah Zanzibar, Abdulrazak Gurnah memenangkan Nobel Sastra 2021. Gurnah menjadi penulis kulit hitam pertama, dalam kurun 35 tahun, yang memenangkan penghargaan bergengsi ini.
Menurut Komite Nobel, Gurnah berhak mendapat penghargaan tertinggi ini atas penetrasi tanpa kompromi dan penuh kasih terhadap efek kolonialisme dan nasib pengungsi.
"Novel-novelnya melompat dari deskripsi stereotipe dan membuka pandangan kita ke Afrika Timur yang beragam secara budaya, namun belum dikenal banyak orang di bagian lain dunia," lanjut penyelenggara Nobel tersebut.
Melansir dari The Guardian, Gurnah dibesarkan di salah satu pulau di Zanzibar sebelum melarikan diri dari penganiayaan hingga tiba di Inggris, saat itu dirinya berstatus sebagai mahasiswa pada 1968.
Setidaknya Gurnah telah menerbitkan 10 novel dan sejumlah cerita pendek. Menurut Ketua Komite Nobel, novel karya Gurnah membuka pandangan kita akan Afrika Timur dengan keragaman budayanya.
Baca juga : Sukses Kelola Manajemen Risiko, PLN Group Borong 11 Penghargaan TOP GRC Awards 2021"Gurnah secara konsisten menembus koloniaslime di Afrika Timur, sehingga memberi dampak pada kehidupan pengungsi," lanjut Olsson.
Saat pengumuman bahwa dirinya memenangkan penghargaan Nobel Sastra tahun ini, Gurnah malah menyangka dirinya terkena prank.
"Saya tidak menyangkanya. Karena hal-hal seperti ini seharusnya sudah didengungkan berminggu-minggu atau berbulan-bulan sebelumnya, tentang siapa yang dijagokan. Jadi itu sama sekali tidak ada dalam pikiran saya. Saya hanya berpikir, siapa yang akan mendapatkannya (Nobel Sastra)?"
Dilanjutkan Gurnah, dirinya merasa terhormat dengan penghargaan ini dan bergabung dengan para pemenang Nobel Sastra sebelumnya.
"Ini sangat luar biasa dan saya sangat bangga" lanjut Gurnah.
Editor Bloomsburry Alexandra Pringle mengatakan Gurnah sanga layak menjadi pemenang Nobel Sastra, terlebih bagi penulis yang tidak menerima pengakuan seperti Gurnah.
"Dia adalah salah satu penulis berdarah Afrika terbaik, sayangnya tidak ada yang mengenal dirinya. Minggu lalu saya membuat podcast dan saya mengatakan dia adalah salah satu orang yang diabaikan," jelas Pringle.
Novel terakhir Gurnah, Afterliver yang diterbitkan tahun lalu, menceritkan tentang Ilyas yang ditangkap pasukan kolonial Jerman yang kembali ke desanya setelah bertahun-tahun berperang melawan bangsanya sendiri.
Baca juga: Komunitas Muslim Pertama di Afrika Selatan Kental dengan Budaya IndonesiaAbdulrazak Gurnah lahir dan besar di Zanzibar di tahun 1948. Saat Zanzibar mengalami revolusi, dimana warga keturunan Arab dianiaya, Gurnah terpaksa meninggalkan tanah kelairannya saat dirinya berusia 18 tahun.
Gurnah mulai menulis sebagai pengungsi saat usia 21 tahun di Inggris. Dirinya memilih untuk menulis dalam bahasa Inggris, meski Swahili adalah bahasa ibunya.
Novel pertama Gurnah, Memory of Departure, diterbitkan pertama kali pada tahun 1987. Kini Gurnah mengajar sastra Inggris dan pascakolonial di University of Kent.
(est)