Munggahan, Tradisi Jawa Menyambut Ramadhan
Muhajirin
Senin, 21 Maret 2022 - 11:52 WIB
Tradisi munggahan di tengah masyarakat (foto: bandung.go.id)
Masyarakat Jawa memiliki tradisi unik dalam menyambut bulan suci Ramadhan. Salah satunya tradisi munggahan atau punggahan. Dua tradisi ini merupakan tradisi yang sama hanya berbeda wilayah.
Munggahan merupakan tradisi yang dilakukan masyarakat Sunda di Jawa Barat, sedangkan punggahan adalah sebutan untuk tradisi yang dilakukan di pulau Jawa secara keseluruhan.
Mengutip laman resmi Kabupaten Kebumen, punggahan berasal dari kata munggah (bahasa Jawa) yang berarti naik. Artinya, masuknya Ramadhan perlu disambut dengan meningkatkan keimanan.
Baca juga: Tips Salim A. Fillah agar Khatam Al-Quran Selama Ramadhan
Punggahan bertujuan mengingatkan umat Islam bahwa Ramadhan sebentar lagi datang. Demikian juga sebagai ajang mendoakan orang-orang yang telah meninggal dunia.
Tradisi ini biasanya dilakukan di rumah dengan mengundang tetangga sekitar dan kiai untuk memimpin pembacaan tahlil dan doa. Bisa juga diadakan di rumah hidangan. Syaratnya, harus ada nasi kluban, bubur nasi, dan menu wajib pada tumpeng yakni apem, pasung, gedang rojo (pisang raja) dan ketan. Sedang di masjid atau mushala hanya membawa empat menu wajib.
Dalam jurnal berjudul Tradisi Punggahan Menjelang Ramadhan oleh Salma Al-Zahra Ramadhani dan Nor Mohammad Abdoeh dijelaskan, tradisi punggahan diperkenalkan oleh Sunan Kalijaga saat menyebarkan agama Islam di wilayah Jawa, terutama Jawa Tengah.
Munggahan merupakan tradisi yang dilakukan masyarakat Sunda di Jawa Barat, sedangkan punggahan adalah sebutan untuk tradisi yang dilakukan di pulau Jawa secara keseluruhan.
Mengutip laman resmi Kabupaten Kebumen, punggahan berasal dari kata munggah (bahasa Jawa) yang berarti naik. Artinya, masuknya Ramadhan perlu disambut dengan meningkatkan keimanan.
Baca juga: Tips Salim A. Fillah agar Khatam Al-Quran Selama Ramadhan
Punggahan bertujuan mengingatkan umat Islam bahwa Ramadhan sebentar lagi datang. Demikian juga sebagai ajang mendoakan orang-orang yang telah meninggal dunia.
Tradisi ini biasanya dilakukan di rumah dengan mengundang tetangga sekitar dan kiai untuk memimpin pembacaan tahlil dan doa. Bisa juga diadakan di rumah hidangan. Syaratnya, harus ada nasi kluban, bubur nasi, dan menu wajib pada tumpeng yakni apem, pasung, gedang rojo (pisang raja) dan ketan. Sedang di masjid atau mushala hanya membawa empat menu wajib.
Dalam jurnal berjudul Tradisi Punggahan Menjelang Ramadhan oleh Salma Al-Zahra Ramadhani dan Nor Mohammad Abdoeh dijelaskan, tradisi punggahan diperkenalkan oleh Sunan Kalijaga saat menyebarkan agama Islam di wilayah Jawa, terutama Jawa Tengah.