Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Kamis, 04 Juni 2026
home edukasi & pesantren detail berita

Munggahan, Tradisi Jawa Menyambut Ramadhan

Muhajirin Senin, 21 Maret 2022 - 11:52 WIB
Munggahan, Tradisi Jawa Menyambut Ramadhan
Tradisi munggahan di tengah masyarakat (foto: bandung.go.id)
LANGIT7.ID, Jakarta - Masyarakat Jawa memiliki tradisi unik dalam menyambut bulan suci Ramadhan. Salah satunya tradisi munggahan atau punggahan. Dua tradisi ini merupakan tradisi yang sama hanya berbeda wilayah.

Munggahan merupakan tradisi yang dilakukan masyarakat Sunda di Jawa Barat, sedangkan punggahan adalah sebutan untuk tradisi yang dilakukan di pulau Jawa secara keseluruhan.

Mengutip laman resmi Kabupaten Kebumen, punggahan berasal dari kata munggah (bahasa Jawa) yang berarti naik. Artinya, masuknya Ramadhan perlu disambut dengan meningkatkan keimanan.

Baca juga: Tips Salim A. Fillah agar Khatam Al-Quran Selama Ramadhan

Punggahan bertujuan mengingatkan umat Islam bahwa Ramadhan sebentar lagi datang. Demikian juga sebagai ajang mendoakan orang-orang yang telah meninggal dunia.

Tradisi ini biasanya dilakukan di rumah dengan mengundang tetangga sekitar dan kiai untuk memimpin pembacaan tahlil dan doa. Bisa juga diadakan di rumah hidangan. Syaratnya, harus ada nasi kluban, bubur nasi, dan menu wajib pada tumpeng yakni apem, pasung, gedang rojo (pisang raja) dan ketan. Sedang di masjid atau mushala hanya membawa empat menu wajib.

Dalam jurnal berjudul Tradisi Punggahan Menjelang Ramadhan oleh Salma Al-Zahra Ramadhani dan Nor Mohammad Abdoeh dijelaskan, tradisi punggahan diperkenalkan oleh Sunan Kalijaga saat menyebarkan agama Islam di wilayah Jawa, terutama Jawa Tengah.

Kala itu, Sunan Kalijaga menggunakan metode akulturasi budaya ketika mendakwahkan ajaran Islam. Empat menu wajib yang harus ada pada saat punggahan itu mempunyai arti tersendiri.

Sunan Kalijaga mengartikan menu wajib itu sebagai lughowi: ketan adalah kata yang berasal dari melayu, kemudian ditafsirkan dengan kata khata-an yang berarti kesalahan.

Baca juga: 2 Persiapan Penting Menyambut Ramadhan menurut Buya Yahya

Apem ditafsirkan dengan lafadz afwan yang berarti maaf. Selain bertaubat kepada Allah Ta’ala, manusia harus saling memaafkan. Gedang (pisang) ini dalam bahasa Arab yaitu ghadaan yang mempunyai arti esok hari atau waktu mendatang.

Pasung ditafsirkan dengan lafadz fashaum yang mempunyai arti maka berpuasalah, setelah bertaubat dan minta maaf, demi menyempurnakan keduanya.

(jqf)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Kamis 04 Juni 2026
Imsak
04:27
Shubuh
04:37
Dhuhur
11:54
Ashar
15:15
Maghrib
17:48
Isya
19:01
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سَبَّحَ لِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ
Apa yang di langit dan di bumi bertasbih kepada Allah. Dialah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)