LANGIT7.ID, Jakarta - Ramadhan tinggal menghitung hari. Sudah sepatutnya setiap umat Islam mempersiapkan raga dan jiwa yang menyambut bulan agung tersebut. Ramadhan merupakan bulan paling agung dibanding bulan-bulan lain.
Pengasuh Pondok Pesantren Al-Bahjah, KH Yahya Zainul Ma’arif (Buya Yahya), menjelaskan, ada dua hal penting yang harus dipersiapkan setiap umat Islam dalam menyambut bulan suci Ramadhan.
Baca juga: Jelang Ramadhan dan Idul Fitri, Airlangga Pastikan Bahan Pokok AmanMelakukan persiapan merupakan sunnah Rasulullah dan para sahabat beliau. Orang yang akan mulia pada bulan Ramadhan adalah mereka yang memuliakan Ramadhan. Orang yang beruntung pada bulan itu adalah mereka yang menanti kedatangan Ramadhan.
“Ada persiapan lahir dan batin. Batin adalah hati. Lahir ada hubungan dengan ilmu, seperti ilmu puasa. Paling utama adalah persiapan batin. Hati yang tertata akan mudah melaksanakan ibadah puasa,” kata Buya Yahya saat menyampaikan tausiyah secara virtual, dikutip Sabtu (19/3/2022).
1. Menata Hati dan LisanMenata hati dan lisan merupakan persiapan sangat penting menyambut Ramadhan. Hal paling utama dalam persiapan ini adalah meningkatkan keimanan kepada Allah Ta’ala. Setiap umat Islam pasti memiliki keimanan.
“Tapi tanda ketulusan iman kepada-Nya justru saat berurusan dengan sesama manusia. Kalau untuk berpuasa, disebutkan sebagai kewajiban agar mampu menjadi orang bertakwa. Takwa itu bisa baik kepada Allah dan baik kepada manusia,” kata Buya Yahya.
Beriman bukan sekadar percaya kepada Allah Ta’ala. Ketulusan iman harus dibuktikan dengan kebaikan kepada sesama manusia. Di sini letak pentingnya menjaga lisan. Seorang di zaman Nabi SAW dikenal sangat rajin beribadah. Sampai-sampai para sahabat merasa sangat kagum.
Namun, Rasulullah menimpali, wanita itu memiliki kebiasaan buruk yang bisa membuatnya masuk neraka. Ia memiliki lisan yang suka menyakiti hati para tetangganya. Sehingga, ia tidak tulus beriman, karena hanya bersifat vertikal saja. Ia lupa berbuat baik kepada sesama.
Biasakan lisan mengucapkan yang baik, bukan yang jelek untuk seseorang atau tentang seseorang. Kalau hati sudah tertata, maka Ramadhan kita akan Indah. Bayangkan saat puasa emosi, dendam, akan capek,” kata Buya Yahya.
Baca juga: Tombo Ati, Intisari Al-Qur'an-Hadits Karya Sunan BonangDi kampung-kampung Jawa ada tradisi sangat baik menyambut Ramadhan. Setiap orang saling bertukar makanan sebelum masuk ramadhan. Ini budaya yang harus dipertahankan. Sehingga, saat memasuki ramadhan, hubungan dengan tetangga sangat baik. Itu menjadi pemicu hati tertata.
“Memang menjaga lisan itu Berat, mendoakan kebaikan untuk orang yang berbuat kejahatan kepada kita, memang berat karena itu pekerjaan para kekasih Allah. Anda harus paksakan. Hilangkan kejelekan ucapan dari lisan dengan doa yang baik. Doa yang tulus,” ucap Buya Yahya.
2. Persiapan IlmuIlmu puasa itu sederhana. Puasa adalah menahan diri dari makan dan minum serta segala perbuatan yang bisa membatalkan puasa, mulai dari terbit fajar hingga terbenam Matahari, dengan syarat tertentu, untuk meningkatkan ketakwaan seorang muslim. Berpuasa merupakan salah satu dari lima rukun Islam.
Buya Yahya mengatakan, ada 9 hal yang membatalkan puasa dan ada 9 kelompok orang yang tidak wajib berpuasa. Buya Yahya telah menulis sembilan hal yang membatalkan puasa itu dalam fiqih praktis.
“Ada 9 hal yang membatalkan puasa dan 9 orang yang boleh berbuka puasa, kalau anda tergolong orang yang 9 tidak wajib puasa,” tutur Buya Yahya.
Sembilan hal yang membatalkan puasa itu antara lain, pertama; memasukkan sesuatu ke salah satu dari lubang lima yakni lubang mulut, lubang hidung, lubang telinga, lubang air kecil, dan lubang air besar.
Baca juga: Supaya Lancar Puasa Ramadhan, Hindari Jenis Minuman IniKedua, muntah dengan sengaja. Ketiga, berhubungan suami istri. Keempat, keluar mani dengan sengaja. Kelima, haid. Keenam, nifas. Ketujuh, melahirkan. Kedelapan, hilang akal. Kesembilan, murtad.
Kemudian, sembilan orang yang tidak wajib berpuasa di antaranya anak kecil, orang gila, orang yang sedang sakit, orang lanjut usia, perempuan yang sedang haid, perempuan yang sedang nifas, perempuan yang sedang hamil, perempuan yang sedang menyusui, dan orang yang sedang bepergian.
(jqf)