Otak Salah Interpretasi, Kenali Gejala Sensory Processing Disorder pada Anak
Fifiyanti Abdurahman
Senin, 21 Maret 2022 - 12:29 WIB
Ilustrasi anak dengan Sensory Processing Disorder. Foto: LANGIT7/iStock
Pernahkah Anda mendengar istilah Sensory Processing Disorder (SPD) atau gangguan pemrosesan sensorik?
SPD atau gangguan pemrosesan sensorik merupakan suatu kondisi yang mempengaruhi cara otak memproses informasi sensorik, atau rangsangan. Gangguan ini dapat mempengaruhi satu sensasi tertentu seperti pendengaran, penciuman, rasa, sentuhan, penglihatan, atau lebih dari satu sensasi. Pada beberapa orang, gangguan pemrosesan sensorik dapat mempengaruhi semua indera.
Masalah proses sensorik biasanya teridentifikasi pada masa anak-anak, namun dapat juga mengenai orang dewasa. Umumnya SPD ditemukan dalam kondisi perkembangan seperti gangguan spektrum autisme.
Baca juga: Kebahagiaan Seorang Ayah, Anak-anaknya Bangga Jadi Muslim
Dokter spesialis anak, Prof. Dr. Hardiono D. Pusponegoro, Sp.A(K) mengatakan menurut literatur, anak yang mengalami SPD sekitar 16 persen. Jika dihitung dari 100 anak berarti ada 16 anak yang mengalami SPD.
Menurut dia, tanda-tanda SPD terbagi menjadi tiga macam yakni sensory discrimination disorder (SDD) atau gangguan diskriminasi sensorik, sensory-based motor disorder atau gangguan motorik berbasis sensorik, dan sensory modulation disorder atau gangguan modulasi sensorik.
Pertama, SDD adalah penyakit yang jika terkena mungkin akan mengalami kesulitan dalam memahami rangsangan.
SPD atau gangguan pemrosesan sensorik merupakan suatu kondisi yang mempengaruhi cara otak memproses informasi sensorik, atau rangsangan. Gangguan ini dapat mempengaruhi satu sensasi tertentu seperti pendengaran, penciuman, rasa, sentuhan, penglihatan, atau lebih dari satu sensasi. Pada beberapa orang, gangguan pemrosesan sensorik dapat mempengaruhi semua indera.
Masalah proses sensorik biasanya teridentifikasi pada masa anak-anak, namun dapat juga mengenai orang dewasa. Umumnya SPD ditemukan dalam kondisi perkembangan seperti gangguan spektrum autisme.
Baca juga: Kebahagiaan Seorang Ayah, Anak-anaknya Bangga Jadi Muslim
Dokter spesialis anak, Prof. Dr. Hardiono D. Pusponegoro, Sp.A(K) mengatakan menurut literatur, anak yang mengalami SPD sekitar 16 persen. Jika dihitung dari 100 anak berarti ada 16 anak yang mengalami SPD.
Menurut dia, tanda-tanda SPD terbagi menjadi tiga macam yakni sensory discrimination disorder (SDD) atau gangguan diskriminasi sensorik, sensory-based motor disorder atau gangguan motorik berbasis sensorik, dan sensory modulation disorder atau gangguan modulasi sensorik.
Pertama, SDD adalah penyakit yang jika terkena mungkin akan mengalami kesulitan dalam memahami rangsangan.