Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Rabu, 22 April 2026
home lifestyle muslim detail berita

Otak Salah Interpretasi, Kenali Gejala Sensory Processing Disorder pada Anak

Fifiyanti Abdurahman Senin, 21 Maret 2022 - 12:29 WIB
Otak Salah Interpretasi, Kenali Gejala Sensory Processing Disorder pada Anak
Ilustrasi anak dengan Sensory Processing Disorder. Foto: LANGIT7/iStock
LANGIT7.ID - , Jakarta - Pernahkah Anda mendengar istilah Sensory Processing Disorder (SPD) atau gangguan pemrosesan sensorik?

SPD atau gangguan pemrosesan sensorik merupakan suatu kondisi yang mempengaruhi cara otak memproses informasi sensorik, atau rangsangan. Gangguan ini dapat mempengaruhi satu sensasi tertentu seperti pendengaran, penciuman, rasa, sentuhan, penglihatan, atau lebih dari satu sensasi. Pada beberapa orang, gangguan pemrosesan sensorik dapat mempengaruhi semua indera.

Masalah proses sensorik biasanya teridentifikasi pada masa anak-anak, namun dapat juga mengenai orang dewasa. Umumnya SPD ditemukan dalam kondisi perkembangan seperti gangguan spektrum autisme.

Baca juga: Kebahagiaan Seorang Ayah, Anak-anaknya Bangga Jadi Muslim

Dokter spesialis anak, Prof. Dr. Hardiono D. Pusponegoro, Sp.A(K) mengatakan menurut literatur, anak yang mengalami SPD sekitar 16 persen. Jika dihitung dari 100 anak berarti ada 16 anak yang mengalami SPD.

Menurut dia, tanda-tanda SPD terbagi menjadi tiga macam yakni sensory discrimination disorder (SDD) atau gangguan diskriminasi sensorik, sensory-based motor disorder atau gangguan motorik berbasis sensorik, dan sensory modulation disorder atau gangguan modulasi sensorik.

Pertama, SDD adalah penyakit yang jika terkena mungkin akan mengalami kesulitan dalam memahami rangsangan.

"Artinya seorang anak bahkan orang dewasa itukan menerima rangsang dari luar namanya rangsang sensoris, seperti penciuman penglihatan pendengaran keseimbangan bahasa sentuh dan lainnya. Biasanya orang ketika perlu rangsangan sensoriknya akan terpanggil misal orang memanggil, kita pasti akan menoleh," ujar Prof Hardiono dikutip dari YouTube Tentang Anak, Senin (21/3/2022).

Akan tetapi, lanjut dia, ketika anak mengalami SDD mereka tidak bisa memproses mana yang ia butuhkan dan mana yang tidak dibutuhkan. Jadi reaksinya akan berlebihan, yang dimana ketika orang normal akan bereaksi biasa saja.

Baca juga: Anak Aman, Simak Tips Pilih ART ala Rahne Putri

"Contoh lain, anak kan biasanya suka dipeluk tetapi ketika dia mengalami hal ini, ia akan tidak mau dipeluk. Jadi ia tidak bisa mendiskriminasi atau membedakan mana rangsangan biasa yang mesti diterima dengan baik mana yang tidak perlu ia perhatikan," ungkapnya.

Selanjutnya, sensory-based motor disorder merupakan gangguan yang jika terkena akan mengalami kesulitan dengan keseimbangan, koordinasi motorik, dan melakukan tugas motorik terampil, non-kebiasaan, dan kebiasaan.

"Hal ini banyak ditemukan kepada anak SD, ini kan jadi problem. Karena yang kelihatan itu gangguan gerak dan gangguan postur misal anaknya lemas. Gangguan gerak ini akan mengakibatkan anak malas berolahraga, menulisnya jelek dan lainnya," katanya.

"Ini sudah diteliti, dan ternyata kita menemukan 128 anak yang waktu itu mengidap sensory-based motor disorder," pungkas Prof Hardiono.

Kemudian yang paling sulit yakni sensory modulation disorder. Ini merupakan gangguan yang jika terkena akan mengalami kesulitan dalam menanggapi rangsangan sensorik. Mereka mungkin terlalu responsif, kurang responsif, atau mendambakan rangsangan.

"Ketika anak mendapatkan rangsangan, lalu ia tidak senang maka ia akan bereaksi secara berlebihan. Reaksinya sendiri bermacam-macam, ada yang bereaksi mengamuk, ada yang bereaksi dengan menarik diri atau ketakutan dan lainnya," ujarnya.

Baca juga: Perlukah Bayi Ditahnik? Begini Penjelasan Dokter Anak

Prof Hardiono berkata setiap anak memiliki rangsangan yang berbeda-beda, hal tersebut tergantung bagaimana ia mengatur dirinya agar tidak terlalu hebat menerima rangsangan tersebut.

"Modulasi ini agak susah menilainya, dan terapinya juga susah," pungkasnya.

Lalu, kapan orang tua harus khawatir? Prof Hardiono berkata, orang tua harus khawatir jika perilaku anak menjadi tidak jelas atau luntang lantung, misal ketika ada suara keras yang bagi orang normal biasa saja, tetapi baginya sangat menggangu sehingga membuatnya langsung menutup telinga dan lainya.

"Kalau ada gejala seperti ini tanya ke dokter. Untuk dokter, sebenarnya penyakit ini belum banyak dikenal, makanya belum ada dokter khusus jadi untuk sementara Anda bisa membawa anak ke dokter neurologi atau ke dokter anak," ungkapnya.

"Prinsipnya Anda bisa membawa anak ke dokter jika sudah mengganggu aktifitas sehari-harinya," tutur Prof Hardiono.

(est)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Rabu 22 April 2026
Imsak
04:27
Shubuh
04:37
Dhuhur
11:55
Ashar
15:14
Maghrib
17:52
Isya
19:02
Lihat Selengkapnya
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ تَعَالَوْا اِلٰى كَلِمَةٍ سَوَاۤءٍۢ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ اَلَّا نَعْبُدَ اِلَّا اللّٰهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهٖ شَيْـًٔا وَّلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۗ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُوْلُوا اشْهَدُوْا بِاَنَّا مُسْلِمُوْنَ
Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang Muslim.”
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)