LANGIT7.ID-, - Klaim tanpa bukti yang dilayangkan Presiden Amerika Serikat
Donald Trump tentang Tylenol, obat pereda nyeri atau
parasetamol, ada hubungannya dengan autism mengundang kontroversi besar. Bahkan hal ini telah menyakiti perasaan para penyandang
autisme beserta keluarga mereka.
National Autistic Society, sebuah kelompok di Inggris yang mewakili penyandang autisme dan keluarga mereka, menyebut klaim Trump tentang Tylenol dan
autisme "tidak bertanggung jawab", dan mengatakan ia telah merendahkan derajat penyandang autisme.
"Informasi yang salah terus-menerus tentang autisme dari Presiden Trump dan Robert F. Kennedy Jr. berisiko merusak penelitian yang telah dilakukan selama puluhan tahun oleh para ahli yang dihormati di bidangnya," kata kelompok tersebut, dikutip Rabu (24/9/2025).
Baca juga: Tanpa Bukti, Donald Trump Klaim Tylenol Obat Pereda Nyeri Ada Hubungannya dengan AutismeHaley Drenon (29), wanita asal Austin, Texas, yang sedang hamil pertama kali, mengatakan pengumuman itu membuatnya gugup, karena ia harus mengonsumsi Tylenol selama trimester pertama untuk mengatasi sakit kepala.
"Pengumuman ini, jika dibuat tanpa konteks yang tepat, akan mengkhawatirkan banyak orang lain juga. Rasanya tidak perlu hanya karena berita utama menunjukkan bahwa data tersebut tidak dapat disangkal," ujar Drenon.
Diagnosis
autisme telah meningkat tajam sejak tahun 2000, dan pada tahun 2020, angkanya di antara anak usia 8 tahun mencapai 2,77%, menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC).
Para ilmuwan mengaitkan setidaknya sebagian dari peningkatan ini dengan meningkatnya kesadaran akan autisme dan perluasan definisi gangguan tersebut. Para peneliti juga telah menyelidiki faktor-faktor lingkungan.
Sebelumnya, Menteri Kesehatan Robert F. Kennedy Jr telah mengajukan teori-teori yang telah dibantah tentang meningkatnya angka autisme. Ia justru menyalahkan vaksin meskipun kurangnya bukti.
Klaim palsu ini bukan kali pertama disampaikan Trump. Ia bahkan pernah mempromosikan klaim medis yang tidak berdasar, termasuk selama
pandemi Covid-19.
Diberitaka sebelumnya bahwa para dokter di
Amerika Serikat (AS) akan segera disarankan untuk tidak meresepkan obat pereda nyeri Tylenol kepada ibu hamil. Presiden AS Donald Trump mengatakan, obat tersebut ada hubungannya dengan autisme. Sontak pernyataan Trump menjadi perdebatan sebab ia telah mengklaim sesuatu tanpa bukti.
Presiden AS tersebut mengklaim pada hari Senin bahwa mengonsumsi Tylenol, yang dikenal sebagai parasetamol di tempat lain, "tidak baik", dan hanya ibu hamil yang demam ekstrem yang dibolehkan mengonsumsinya.
Para ahli medis telah membantah keras klaim tersebut, beberapa di antaranya menyebut komentar presiden berbahaya. Bahkan para pejabat kesehatan di Inggris telah menekankan bahwa parasetamol tetap menjadi obat pereda nyeri teraman yang tersedia untuk ibu hamil.
"Sejujurnya, saya lebih percaya dokter daripada Presiden Trump dalam hal ini," kata Menteri Kesehatan Inggris Wes Streeting, dikutip Rabu (23/9/2025). (*/lsi/bbc)
(lsi)