LANGIT7.ID-, Palestina -
Hamas dan faksi-faksi Palestina lainnya telah menyepakati dokumen yang memuat rencana pelucutan senjata mereka di Gaza. Hal ini menyusul pernyataan Presiden Amerika Serikat
Donald Trump yang menyatakan bahwa Israel akan menarik diri dari
Gaza setelah kelompok Palestina tersebut melucuti senjatanya.
Trump juga menyebut Langkah tersebut sebagai "langkah monumental" menuju perdamaian dan keamanan.
Media Al Jazeera telah menerima salinan kesepakatan yang dicapai pada hari Kamis tersebut, yang menetapkan bahwa peta jalan rinci pelucutan senjata harus disusun dalam waktu 14 hari, dengan kemungkinan perpanjangan waktu yang bergantung pada persetujuan badan verifikasi internasional.
"Negosiasi ini berlangsung alot dan sulit, dan kami berupaya mencapai formula terbaik yang dapat direalisasikan," ujar Ghazi Hamad, anggota delegasi negosiasi Hamas kepada Al Jazeera, dikutip Jumat (31/7/2026).
Namun, Hamad menegaskan bahwa Hamas tidak akan melaksanakan bagian mana pun dari kesepakatan tersebut jika pasukan Israel gagal memenuhi kewajiban mereka.
Ia memastikan bahwa pelucutan senjata bergantung pada penarikan mundur Israel dari Gaza serta kemajuan dalam upaya rekonstruksi di wilayah Palestina tersebut.
Baca juga: Lebih dari 4.200 Pemukim Israel Menyerbu Masjid Al-Aqsa dan Melarang Warga Palestina MasukSebaliknya, dari pihak Israel belum ada tanggapan terkait hal tersebut.
Trump menggambarkan kesepakatan ini sebagai keberhasilan bagi Dewan Perdamaian (Board of Peace), sebuah badan yang dibentuk untuk mengawasi tata kelola pemerintahan di Gaza.
"Kesepakatan ini merupakan langkah krusial agar Gaza pada akhirnya dipimpin oleh pemerintahan Palestina baru yang akan bekerja sama erat dengan Dewan Perdamaian demi membantu rakyat Palestina," tulis Trump di platform Truth Social miliknya pada hari Kamis (30/7).
"Pada saat yang sama, Israel akan mendapatkan keamanan yang layak mereka dapatkan, di mana Gaza tidak lagi dijadikan sebagai basis serangan terror," lanjut Trump.
Mekanismen Proses Pelucutan SenjataSeorang pejabat Dewan Perdamaian mengatakan bahwa Hamas dan faksi-faksi bersenjata lainnya akan menyerahkan senjata mereka kepada Komite Nasional yang dibentuk untuk mengelola Gaza.
Pejabat tersebut menyatakan bahwa senjata yang dipegang oleh kepolisian akan diserahkan terlebih dahulu, diikuti dengan penonaktifan senjata berat. Berdasarkan rencana tersebut, seluruh aktivitas militer di Gaza harus dihentikan, meskipun pejabat itu mengakui bahwa proses pelaksanaannya akan memakan waktu.
Trump menggambarkan pelucutan senjata akan dilakukan secara bertahap. Ini merupakan bagian dari kesepakatan "gencatan senjata" yang ia mediasi pada bulan Oktober untuk mengakhiri perang genosida Israel terhadap Gaza, yang telah menewaskan lebih dari 73.000 warga Palestina dan meluluhlantakkan wilayah kantong Palestina tersebut.
Namun seperti diketahui, Israel telah berulang kali melanggar gencatan senjata itu. Alih-alih menjalani apa yang telah disepakati, Israel tetap melancarkan serangan ke Palestina hingga menewaskan lebih dari 1.200 warga Palestina sejak kesepakatan tersebut mulai berlaku.
Tak hanya itu, Israel juga merebut lebih banyak wilayah, serta terus membatasi pergerakan orang dan barang keluar-masuk Gaza. Enam warga Palestina lainnya tewas dalam serangan Israel di Gaza pada hari Kamis (30/7), termasuk dua orang anak.
Baca juga: Resolusi PBB: 142 Negara Akui Palestina, 10 Negara Menolak Salah Satunya Nauru yang Akan Membuka Kedutaannya di YerusalemTrump mengatakan Israel akan menarik diri dari Gaza dan digantikan oleh Pasukan Stabilisasi Internasional yang bekerja sama dengan "pasukan polisi Palestina yang baru" setelah proses pelucutan senjata rampung.
"Berdasarkan kesepakatan ini, Gaza pada akhirnya akan berada di tangan pemerintahan Palestina baru yang melayani RAKYATNYA," tambah Trump.
Sementara itu, para pemimpin Hamas telah berada di ibu kota Mesir, Kairo, sejak akhir pekan lalu untuk membahas kesepakatan gencatan senjata dengan para mediator dari Mesir, Qatar, dan Turki.
Seorang pejabat Hamas yang tidak disebutkan namanya dikutip pada hari Kamis mengatakan bahwa perundingan tersebut berlangsung "positif" dan "menunjukkan kemajuan".
Menurut saluran berita Mesir, Al-Qahera News, Mesir akan segera menjadi tuan rumah pembicaraan lanjutan di Kairo yang melibatkan mediator dari Mesir, AS, Qatar, dan Turki guna mengamankan komitmen terhadap tahap kedua peta jalan gencatan senjata.
Saluran tersebut, yang mengutip sumber Mesir yang mengetahui masalah ini, menyatakan bahwa Hamas dan faksi-faksi Palestina lainnya telah secara resmi menyetujui usulan tersebut, yang mencakup pengerahan pasukan internasional dan dimulainya tugas Komite Nasional.
Namun, Palestinian Islamic Jihad yaitu kelompok bersenjata lain di Gaza menyatakan bahwa laporan mengenai adanya kesepakatan antara faksi-faksi tersebut dan Israel tidak akurat, seraya menambahkan bahwa mereka memiliki keberatan terhadap rumusan ketentuan yang sedang beredar.
Pada tanggal 6 Juli, Hamas telah mengumumkan pembubaran badan yang dipimpinnya yang selama hampir dua dekade memerintah Gaza.
(lsi)