LANGIT7.ID-Jakarta; Iran memperingatkan negara-negara agar tidak bekerja sama dengan Amerika Serikat dalam kampanye tekanan ekonomi terhadap Teheran. Pemerintah Iran menegaskan akan melawan sanksi tersebut dengan memanfaatkan kemampuan multilateral.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menyampaikan peringatan itu pada Senin. Pernyataan tersebut muncul ketika Iran bersiap menghadapi langkah baru Amerika Serikat yang disebut bakal memberikan tekanan ekonomi lebih berat.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent sebelumnya berjanji akan mengumumkan langkah-langkah keras terhadap Iran dalam konferensi pers pada pukul 13.00 EDT atau 17.00 GMT, Senin. Iran sendiri telah menghadapi sanksi ekonomi yang berlangsung hampir tanpa jeda sejak Revolusi Islam 1979.
Bessent tidak merinci bentuk sanksi yang akan diumumkan. Namun, dia memberi sinyal bahwa Amerika Serikat akan menargetkan negara-negara yang disebutnya "penakut" karena memilih melakukan "appeasement" dengan tetap terlibat dalam perekonomian dan sistem keuangan Iran.
Iran telah bersiap menghadapi sanksi tersebut selama beberapa hari terakhir. Sejumlah pernyataan keras yang dikeluarkan pemerintah Iran bahkan mengisyaratkan kemungkinan adanya respons militer besar.
Di tengah situasi tersebut, Kepala Angkatan Darat Pakistan Asim Munir tiba di Iran untuk melakukan pembicaraan, menurut laporan media Iran. Munir diketahui memiliki hubungan pribadi yang cukup dekat dengan Presiden AS Donald Trump.
Pakistan mengatakan kunjungan tersebut merupakan bagian dari upayanya "untuk mendorong perdamaian dan stabilitas regional". Seorang sumber dari Pakistan mengatakan Munir diperkirakan akan bertemu dengan sejumlah orang yang dekat dengan pemimpin tertinggi Iran.
Sementara itu, Teheran menyatakan Menteri Luar Negeri Oman akan berkunjung ke Iran pada Selasa. Kunjungan tersebut dijadwalkan untuk membahas Selat Hormuz.
(lam)