LANGIT7.ID-Jakarta; Ancaman Amerika Serikat untuk menjatuhkan “sanksi terberat dalam sejarah” guna memaksa Iran memenuhi tuntutannya setelah hampir enam bulan perang meningkatkan kekhawatiran akan munculnya babak eskalasi baru di kawasan Teluk.
Lantas, bagaimana Iran dapat merespons tekanan ekonomi tersebut?Salah satu pilihan yang dapat ditempuh Teheran adalah menghentikan lebih banyak ekspor minyak dari kawasan Timur Tengah.
Mohsen Rezaei, mantan kepala Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) sekaligus sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, sebelumnya telah mengancam akan menghentikan ekspor minyak. Langkah tersebut menjadi salah satu pendekatan strategis utama Teheran sejak perang dimulai pada 28 Februari.
“Jika perang ekonomi berlanjut, tidak setetes pun minyak akan diekspor, baik melalui Selat Hormuz maupun dari mana pun di Teluk,” kata Rezaei.
Serangan dan ancaman Iran terhadap kapal-kapal telah menghentikan sebagian besar lalu lintas pelayaran melalui Selat Hormuz. Kondisi itu pada dasarnya menutup jalur perairan yang sebelum konflik berlangsung membawa sekitar seperlima energi dunia.
Meski sejumlah kapal tanker minyak masih melintasi selat tersebut dalam beberapa pekan terakhir, volumenya tetap sangat rendah. Pada Minggu, Iran bahkan memasukkan 45 kapal tanker ke dalam daftar hitam karena dinilai tidak mematuhi aturan yang ingin diberlakukan Teheran terhadap pelayaran di Hormuz.
Serangan menggunakan rudal, drone, maupun kapal cepat terhadap kapal tanker yang berusaha meninggalkan Teluk berulang kali mendorong kenaikan harga minyak selama enam bulan konflik berlangsung.
Di sisi lain, sekutu Teheran, kelompok Houthi, telah membatasi pelayaran di Laut Merah melalui serangkaian serangan dan ancaman untuk memblokade seluruh pelayaran Arab Saudi. Jalur tersebut digunakan untuk mengangkut minyak mentah menuju Asia melalui Selat Bab el-Mandeb, melewati wilayah yang menjadi basis kelompok tersebut di Yaman.
Pada awalnya, serangan hanya menghentikan sebagian kapal. Hingga pertengahan Agustus, lebih dari separuh kapal masih berhasil melintasi jalur tersebut. Namun, situasinya semakin sulit bagi perusahaan pelayaran. Menurut sumber industri, perusahaan pelayaran China kini mengubah rute untuk menghindari Bab el-Mandeb.
Serangan lanjutan, seperti serangan yang menargetkan sebuah kapal di dekat terminal minyak utama Arab Saudi di Laut Merah, Yanbu, pada Senin, atau serangan drone di dekat Terusan Suez pada awal Agustus, dapat meningkatkan kekhawatiran di pasar minyak sekaligus mendorong harga minyak mentah.
Apakah Negara-Negara Teluk Masih Berisiko Diserang Iran?Iran telah mengancam akan membalas negara-negara tetangganya yang ikut ambil bagian dalam upaya Amerika Serikat untuk mencekik perekonomian Iran dengan kekuatan seperti “gempa bumi”.
Selama perang berlangsung, Iran berulang kali menargetkan negara-negara Teluk dan Yordania. Sebagian besar serangan berfokus pada pangkalan militer Amerika Serikat, tetapi sejumlah fasilitas energi dan target lainnya juga terkena serangan.
Serangan yang semakin intensif terhadap fasilitas hulu minyak atau gas dapat kembali mendorong kenaikan harga energi. Kondisi tersebut berpotensi menimbulkan dampak politik bagi pemerintahan Donald Trump dan mungkin lebih sulit dipulihkan dibandingkan serangan terhadap jalur pelayaran.
Menargetkan pembangkit listrik dan fasilitas desalinasi air di kawasan yang panas serta kering juga akan menjadi risiko besar bagi kerajaan-kerajaan Teluk yang bersekutu dengan AS dan berperan sebagai pusat keuangan penting bagi perekonomian global.
Bisakah Iran Menyerang Negara-Negara Barat Secara Langsung?Negara-negara Barat berada di luar jangkauan sebagian besar persenjataan utama Iran. Namun, Garda Revolusi Iran secara historis bersedia mencari cara alternatif untuk melancarkan serangan.
Pada Senin, Inggris mengatakan peretas yang terkait dengan Iran telah mematikan sebuah pembangkit listrik kecil. Sementara itu, pejabat Amerika Serikat menyatakan Teheran kemungkinan berada di balik serangan siber terhadap fasilitas pengolahan air di Minnesota. Iran belum memberikan komentar mengenai tuduhan tersebut.
Badan keamanan negara-negara Barat juga menuduh Iran merekrut orang-orang lokal untuk melancarkan serangan atau mencoba melakukan pembunuhan terhadap target di negara-negara Barat.
Iran telah membantah tuduhan tersebut.
(lam)