LANGIT7.ID-Jakarta; Suriah dan Israel menggelar perundingan tingkat tinggi yang dimediasi Amerika Serikat di Yordania pada Minggu, dengan fokus meredakan ketegangan setelah serangkaian serangan Israel di wilayah Suriah.
Kantor berita pemerintah Suriah, SANA, melaporkan pertemuan tersebut dengan mengutip sumber diplomatik di Kementerian Luar Negeri Suriah. Perundingan membahas mekanisme praktis untuk menghentikan serangan Israel, penangkapan, serta operasi yang menargetkan pihak-pihak tertentu.
Kedua pihak juga membahas upaya menghidupkan kembali negosiasi menuju kesepakatan keamanan yang dapat menjadi landasan bagi kesepakatan yang lebih luas pada masa mendatang.
Selain hubungan Suriah-Israel, pertemuan tersebut turut membahas cara meredakan ketegangan antara Israel dan Turki. Kedua pihak berupaya mencegah persaingan antara kedua negara itu meluas ke wilayah Suriah.
Menteri Luar Negeri Suriah Asaad al-Shaibani sebelumnya mengatakan kepada Reuters pada Sabtu bahwa Damaskus memperkirakan negosiasi keamanan dengan Israel akan segera dilanjutkan. Namun, ia mengakui masih terdapat persoalan kurangnya kepercayaan antara kedua negara.
Perundingan sebelumnya terhenti sejak dimulainya perang Iran. Menurut al-Shaibani, Suriah kemudian memutuskan seluruh kontak setelah Israel melancarkan serangan terhadap pangkalan udara Abu al-Duhur di Suriah pekan lalu.
Selama lebih dari satu tahun, Washington telah berupaya menjadi penengah dalam pembentukan kesepakatan keamanan antara Israel dan pemerintahan Presiden Suriah Ahmed al-Sharaa.
Al-Shaibani mengatakan kedua pihak secara prinsip telah menyepakati "hampir semuanya" pada sekitar awal tahun ini. Kesepakatan tersebut mencakup pengaturan zona keamanan di Suriah bagian selatan serta zona penyangga yang hanya akan ditempati pasukan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Namun, Damaskus masih meragukan kesediaan Israel untuk menjalankan kesepakatan tersebut. Kantor Perdana Menteri Israel tidak menanggapi permintaan komentar mengenai pernyataan al-Shaibani.
Dalam pertemuan Minggu, SANA melaporkan Suriah menegaskan bahwa prioritas langsungnya tetap mencakup penarikan pasukan Israel ke posisi yang mereka tempati sebelum penggulingan Bashar al-Assad pada 8 Desember 2024.
Suriah juga menuntut pemulihan penuh perjanjian pelepasan pasukan tahun 1974.
Damaskus menyampaikan kepada delegasi Israel bahwa pihaknya tidak akan menerima pengaturan yang membatasi hak Suriah untuk membangun kembali dan mengembangkan angkatan bersenjatanya. Suriah juga menolak pembatasan terhadap haknya dalam menentukan aliansi dan kemitraan.
Menurut laporan SANA, Suriah kembali menegaskan bahwa Dataran Tinggi Golan yang diduduki Israel merupakan wilayah Suriah. Namun, Damaskus menyatakan pembahasan mengenai status akhir kawasan tersebut masih terlalu dini.
Israel telah berulang kali melancarkan serangan terhadap situs-situs militer Suriah sejak jatuhnya pemerintahan al-Assad. Israel menyatakan tindakan tersebut diperlukan untuk melindungi keamanannya.
Suriah membantah menimbulkan ancaman terhadap Israel dan terus menuntut penghentian serangan serta aksi penyerbuan Israel ke wilayahnya.
Suriah dan Israel secara teknis masih berada dalam kondisi perang sejak 1948. Israel merebut Dataran Tinggi Golan dari Suriah dalam Perang Enam Hari pada 1967 dan kemudian menganeksasinya. Langkah tersebut diakui Amerika Serikat, tetapi tidak diakui oleh sebagian besar masyarakat internasional.
(lam)