LANGIT7.ID-Riyadh; Saat konflik di Asia Barat terus meningkat melampaui perang AS-Israel melawan Iran, Pangeran Mahkota Saudi Mohammed bin Salman dilaporkan menyerukan Amerika Serikat untuk melancarkan serangan terhadap kelompok militan Yaman, Houthi.
Permintaan dari Arab Saudi ini muncul ketika kerajaan tersebut melihat eskalasi dalam konfliknya dengan proksi yang didukung Iran di Yaman.
Menurut laporan dari Axios, MBS dari Arab Saudi menelepon Presiden AS Donald Trump dua kali dan mendesaknya untuk melancarkan serangan terhadap Houthi di tengah blokade kelompok itu terhadap jalur laut vital di Laut Merah. Meskipun Trump menyampaikan kekhawatirannya mengenai konflik yang meningkat di Yaman, presiden AS tersebut menolak untuk melancarkan serangan terhadap kelompok itu.
Dua pejabat AS menegaskan bahwa pemerintahan Trump tidak memiliki rencana untuk melakukan intervensi langsung terhadap Houthi untuk saat ini, demikian tambahan dari laporan tersebut.
Sumber yang mengetahui masalah ini juga menyatakan bahwa Komandan Komando Pusat AS, Laksamana Brad Cooper, mengunjungi Riyadh untuk "pertemuan koordinasi mendesak."
Belum ada komentar resmi dari Gedung Putih maupun Kerajaan Arab Saudi.
Konfrontasi Saudi-Houthi meningkatKonflik antara Arab Saudi dan Houthi kembali berkobar pada Juli 2026 setelah Riyadh mencegah pesawat Iran yang membawa pejabat senior Houthi mendarat di ibu kota Yaman, Sana'a.
Sebagai respons, Houthi mulai menyerang kapal tanker Saudi di Laut Merah, mengancam jalur ekspor minyak kerajaan tersebut seiring blokade Selat Hormuz.
Sejak saat itu, Arab Saudi bersama sekutunya di Yaman merespons dengan serangan udara dan operasi darat terhadap Houthi.
Houthi juga menyerang Arab Saudi dan menargetkan raksasa minyak Aramco dalam serangan-serangan terbaru mereka. Peningkatan ketegangan pada 2026 ini menandai eskalasi serius pertama antara Arab Saudi dan Houthi sejak gencatan senjata 2022 yang dimediasi oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa runtuh.(*/saf/hindustantimes)
(lam)