Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Selasa, 25 Agustus 2026
home global news detail berita

Trump Sebut Iran Runtuh, AS Siapkan Tekanan Ekonomi Besar-besaran

tim langit 7 Selasa, 25 Agustus 2026 - 17:02 WIB
Trump Sebut Iran Runtuh, AS Siapkan Tekanan Ekonomi Besar-besaran
(Dok: Ilustrasi Langit7.id)
LANGIT7.ID-Jakarta; Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan Iran sedang “runtuh” ketika Washington bersiap mengumumkan rincian kampanye tekanan ekonomi baru terhadap Teheran. Iran mengecam langkah tersebut sebagai pengakuan bahwa AS telah gagal mencapai tujuannya secara militer.

Hampir enam bulan setelah perang berlangsung, kedua pihak masih berada dalam kebuntuan. Perundingan damai terhenti, Iran tetap menutup Selat Hormuz, sementara Washington terus menjalankan blokade tandingan melalui jalur laut terhadap Iran.

Di tengah tekanan politik di dalam negeri akibat dampak ekonomi perang, Trump kini mengalihkan fokus dari aksi militer ke instrumen ekonomi.

“IRAN BENAR-BENAR RUNTUH!!!” tulis Trump pada Senin melalui platform media sosialnya, Truth Social, dengan gaya huruf kapital yang menjadi ciri khasnya.

Pernyataan itu muncul beberapa jam setelah Menteri Keuangan AS Scott Bessent, melalui kolom opini di Financial Times, menyatakan bahwa “D-Day ekonomi” terhadap Teheran telah dimulai. Ia juga memperingatkan bahwa negara mana pun yang terus membantu Iran akan menjadi “paria global”.

Bessent juga mengklaim melalui X bahwa AS telah “membongkar kemampuan militer Iran, menghancurkan hampir 100 persen pabrik militernya, dan mengubur program nuklirnya.”

Iran merespons dengan sikap menantang. Teheran menyebut langkah terbaru AS sebagai pengakuan atas kekalahan militer dan memperingatkan negara-negara lain agar tidak membantu Washington.

Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi menulis di X bahwa peralihan AS menuju perang finansial justru membuktikan klaim Bessent tidak benar.

“Cerita yang Anda sampaikan tidak masuk akal,” kata Gharibabadi. Ia mempertanyakan, jika Washington memang telah mencapai tujuannya, mengapa masih diperlukan “invasi finansial terbesar dalam sejarah” serta pengerahan “seluruh institusi dan kekuatan” Amerika Serikat.

“Apakah ini kemenangan atau pengakuan atas kekalahan Amerika?” ujarnya.

AS dan Israel mengaitkan dimulainya perang mereka pada Februari dengan program nuklir Iran. Namun, sejak hari-hari awal pertempuran, perhatian lebih banyak tertuju pada Selat Hormuz, jalur vital bagi pasokan minyak dan gas dunia.

Teheran terus memblokade selat tersebut, sesuatu yang tidak dilakukannya sebelum perang. Kondisi itu mendorong kenaikan inflasi global sekaligus meningkatkan tekanan domestik terhadap Trump menjelang pemilihan paruh waktu pada November.

Ekspor Minyak Anjlok

Bessent dijadwalkan memaparkan rincian rencana AS pada Senin. Namun, belum jelas seberapa besar lagi tekanan ekonomi yang dapat diberikan Washington kepada Teheran.

Blokade laut AS terhadap Iran membuat ekspor minyak melalui Selat Hormuz turun dari dua juta barel per hari sebelum perang menjadi hanya 0,4 juta barel per hari pada pertengahan Agustus, berdasarkan data pelacak maritim Kpler.

Sementara itu, Iran telah menghadapi sanksi internasional yang sangat berat selama puluhan tahun. Tekanan tersebut sempat mereda untuk sementara setelah kesepakatan nuklir 2015, sebelum Trump kemudian membatalkannya sebagai bagian dari kampanye “tekanan maksimum”.

Iran mampu bertahan menghadapi berbagai upaya tersebut. Sebelum perang, negara itu masih mengekspor jutaan barel minyak, sebagian besar ke China, sekaligus menghindari sanksi melalui jaringan keuangan internasional yang kompleks.

Bessent dan Trump sama-sama memperingatkan negara-negara lain agar tidak membantu Iran. Hal ini menandai perubahan fokus Washington, dengan kolom Bessent di Financial Times menyoroti negara-negara yang “menenangkan” dan “memungkinkan” Iran.

Teheran pada Senin memperingatkan negara-negara lain agar tidak bekerja sama dengan upaya AS tersebut. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei mengatakan keterlibatan dalam langkah itu “pasti akan memiliki konsekuensinya sendiri”.

Bagi masyarakat Iran, kebuntuan tersebut kemungkinan hanya akan menambah tekanan ekonomi setelah bertahun-tahun menghadapi inflasi tinggi. Kondisi itu memicu aksi protes besar-besaran antipemerintah pada Desember dan Januari.

Pada Minggu, Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengakui bahwa negaranya menghadapi “banyak masalah dalam masyarakat”.

“Kami berusaha dengan sepenuh hati untuk mengatasi inflasi, masalah penghidupan, pengangguran, dan menjamin masa depan rakyat, sehingga mereka dapat hidup dengan bermartabat dan penuh kebanggaan,” kata Pezeshkian.

Pekan lalu, presiden Iran yang dianggap relatif moderat itu mengatakan Teheran harus “mengakhiri perang sekarang karena kami berada dalam posisi yang kuat dan bermartabat”.

Pernyataan tersebut disampaikan setelah Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei menunjuk sejumlah tokoh garis keras untuk menduduki posisi-posisi penting di bidang keamanan.

Sepanjang perang berlangsung, berbagai upaya diplomatik yang didorong para mediator terus dilakukan untuk mencari jalan keluar melalui perundingan.

Pada Senin, kepala angkatan darat Pakistan diperkirakan akan tiba di Iran. Islamabad merupakan salah satu mediator utama dalam perundingan yang membantu menghasilkan gencatan senjata pada April, sebelum kesepakatan tersebut akhirnya runtuh.

Menteri Luar Negeri Oman Badr al-Busaidi juga dijadwalkan tiba di Iran pada Selasa. Oman dan Teheran tengah berupaya mencapai kesepakatan mengenai pengaturan lalu lintas melalui Selat Hormuz.

(lam)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Selasa 25 Agustus 2026
Imsak
04:30
Shubuh
04:40
Dhuhur
11:58
Ashar
15:17
Maghrib
17:57
Isya
19:06
Lihat Selengkapnya
right-3 (Desktop - langit7.id)
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ تَعَالَوْا اِلٰى كَلِمَةٍ سَوَاۤءٍۢ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ اَلَّا نَعْبُدَ اِلَّا اللّٰهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهٖ شَيْـًٔا وَّلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۗ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُوْلُوا اشْهَدُوْا بِاَنَّا مُسْلِمُوْنَ
Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang Muslim.”
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan