home global news

Tanpa Pawang Hujan, Begini Teknologi Modifikasi Cuaca

Selasa, 22 Maret 2022 - 18:00 WIB
Skema Teknologi Modifikasi Cuaca (foto: BMKG)
Hujan buatan atau yang dikenal dengan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) menjadi solusi untuk mengatasi kebakaran hutan maupun kekeringan. Dua masalah itu kerap terjadi pada puncak musim kemarau di Indonesia.

“Teknologi modifikasi cuaca merupakan upaya yang dilakukan untuk mempercepat pertumbuhan awan, dengan melakukan penyemaian awan menggunakan bahan-bahan yang bersifat menyerap air,” kata Prakirawan BMKG, Anas Baihaqi, melalui kanal Info Iklim NTB, dikutip Selasa (22/3/2022).

TMC dilakukan dengan meniru proses yang terjadi di dalam awan melalui aktivitas penyemaian awan (cloud seeding). Sementara, awan yang dijadikan objek penyemaian adalah awan Cumulus (Cu) dengan kandungan uap air tinggi.

Baca juga: Kenali 3 Jenis Hujan dalam Islam, Ada Manfaat Masing-Masing

Sejumlah partikel higroskopik yang dibawa pesawat disemprotkan langsung ke dalam awan. Itu agar proses pengumpulan butiran tetes air segera dimulai. Pelepasannya dapat dilakukan di bawah dasar awan maupun langsung ke dalam awan.

“Dengan mempercepat proses pembesaran tetes air hujan pada awan, maka hujan juga turun lebih cepat, sehingga proses yang terjadi lebih efektif,” ucap Anas.

Satu kali pengaplikasian, TMC menghabiskan 3000 karung garam atau sekitar 4 ton yang diangkut menggunakan pesawat. Setelah menemukan titik yang tepat, seluruh garam tersebut ditebar.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Topik Terkait :
bmkg prakiraan cuaca cuaca ekstrem sains motogp mandalika
Berita Terkait
Berita Lainnya
berita lainnya