LANGIT7.ID, Jakarta - Hujan buatan atau yang dikenal dengan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) menjadi solusi untuk mengatasi kebakaran hutan maupun kekeringan. Dua masalah itu kerap terjadi pada puncak musim kemarau di Indonesia.
“Teknologi modifikasi cuaca merupakan upaya yang dilakukan untuk mempercepat pertumbuhan awan, dengan melakukan penyemaian awan menggunakan bahan-bahan yang bersifat menyerap air,” kata Prakirawan BMKG, Anas Baihaqi, melalui kanal Info
Iklim NTB, dikutip Selasa (22/3/2022).
TMC dilakukan dengan meniru proses yang terjadi di dalam awan melalui aktivitas penyemaian awan (cloud seeding). Sementara, awan yang dijadikan objek penyemaian adalah awan Cumulus (Cu) dengan kandungan uap air tinggi.
Baca juga: Kenali 3 Jenis Hujan dalam Islam, Ada Manfaat Masing-MasingSejumlah partikel higroskopik yang dibawa pesawat disemprotkan langsung ke dalam awan. Itu agar proses pengumpulan butiran tetes air segera dimulai. Pelepasannya dapat dilakukan di bawah dasar awan maupun langsung ke dalam awan.
“Dengan mempercepat proses pembesaran tetes air hujan pada awan, maka hujan juga turun lebih cepat, sehingga proses yang terjadi lebih efektif,” ucap Anas.
Satu kali pengaplikasian, TMC menghabiskan 3000 karung garam atau sekitar 4 ton yang diangkut menggunakan pesawat. Setelah menemukan titik yang tepat, seluruh garam tersebut ditebar.
“Selain menggunakan pesawat, modifikasi cuaca juga dapat menggunakan roket untuk menembak ke dalam awan,” ucap Anas.
Di Indonesia, teknologi modifikasi cuaca ini melibatkan banyak sektoral atau instansi. Di antaranya, ada Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) yang menyiapkan bahan baku.
Baca juga: Mengenal Teknologi Modifikasi Cuaca untuk Lancarkan MotoGP 2022Ada pula TNI Angkatan Udara yang menyiapkan pesawat. Lalu, ada BMKG yang memantau dan memperkirakan kapan dan di mana operasi TMC dapat dilakukan. Peran BMKG sangat penting dalam operasi ini, karena upaya TMC sangat bergantung pada kondisi cuaca.
“Karena syarat utamanya harus ada awan yang siap untuk disemai. Jika tidak ada awan yang bisa disemai, maka proses modifikasi cuaca tidak mungkin bisa dilakukan,” ucap Anas.
Sejarah Teknologi Modifikasi CuacaDi Indonesia, kata Anas, teknologi modifikasi cuaca ini berawal dari gagasan Presiden Soeharto untuk mendukung sektor pertanian. Itu meniru yang sudah dilakukan Thailand.
UPT Hujan Buatan didirikan pada 1985, yang berfungsi untuk meningkatkan intensitas curah hujan, pengisian waduk irigasi teknis dan pembangkit listrik tenaga air (PLTA), mengantisipasi bencana penyimpangan iklim (kekeringan dan banjir).
Hasil pengembangan TMC sudah mampu meningkatkan pelayanan kepada pemerintah dan masyarakat secara signifikan. Itu ditunjukkan dengan adanya peningkatan permintaan TMC dari waktu ke waktu.
Baca juga: Bagaimana Hukum Mengundang Pawang Hujan?“Teknologi modifikasi cuaca ini pertama kali diuji coba di Bogor,” kata Anas.
Sejak uji coba pertama kali pada 1977 atas gagasan Soeharto, yang difasilitasi BJ Habibie melalui Advance Teknologi sebagai embrio BPPT, hingga saat ini lebih dari 120 kali dilakukan pelayanan TMC. Pelayanan itu berupa pengisian waduk, mengatasi kekeringan, serta menanggulangi kebakaran hutan dan lahan.
(jqf)