Waspada, Penyakit Jantung Bawaan Harus Dideteksi Dini
Mahmuda attar hussein
Rabu, 23 Maret 2022 - 08:50 WIB
Olahraga kardio untuk mendeteksi penyakit jantung bawaan. (Foto: iStock).
Penyakit jantung bawaan menjadi salah satu masalah di Indonesia karena sebaran fasilitas yang tidak merata. Minimnya penanganan dini menyababkan kasus ini berakhir dengan kematian.
"Kesadaran masyarakat akan pentingnya skrining memang belum masif," kata dokter spesialis jantung dan pembuluh darah, dr Radityo Prakoso, dilansir Antaranews Rabu (23/3/2022).
Berdasarkan data Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) angka kejadian PJB di Indonesia yang diperkirakan mencapai 43.200 kasus dari 4,8 juta kelahiran hidup atau 9:1.000 setiap tahunnya.
Baca Juga: Diduga Kena Serangan Jantung, Buya Syafi'i Dilarikan ke Rumah Sakit
Adapun 30 persen di antaranya memperlihatkan gejala pada pekan pertama kehidupan. Sebagian besar pasien penyakit jantung bawaan (PJB) terbaikan atau tidak tertangani dengan benar.
"PJB dapat disebabkan karena malnutrisi atau infeksi yang dialami selama masa kehamilan," ujarnya.
Menurut dia, seiring dengan kemajuan teknologi di bidang kedokteran, khususnya dalam bidang intervensi kardiologi anak, sebagian anak penderita PJB tidak perlu lagi mengalami operasi atau pembedahan terbuka.
"Kesadaran masyarakat akan pentingnya skrining memang belum masif," kata dokter spesialis jantung dan pembuluh darah, dr Radityo Prakoso, dilansir Antaranews Rabu (23/3/2022).
Berdasarkan data Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) angka kejadian PJB di Indonesia yang diperkirakan mencapai 43.200 kasus dari 4,8 juta kelahiran hidup atau 9:1.000 setiap tahunnya.
Baca Juga: Diduga Kena Serangan Jantung, Buya Syafi'i Dilarikan ke Rumah Sakit
Adapun 30 persen di antaranya memperlihatkan gejala pada pekan pertama kehidupan. Sebagian besar pasien penyakit jantung bawaan (PJB) terbaikan atau tidak tertangani dengan benar.
"PJB dapat disebabkan karena malnutrisi atau infeksi yang dialami selama masa kehamilan," ujarnya.
Menurut dia, seiring dengan kemajuan teknologi di bidang kedokteran, khususnya dalam bidang intervensi kardiologi anak, sebagian anak penderita PJB tidak perlu lagi mengalami operasi atau pembedahan terbuka.