Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Sabtu, 04 Juli 2026
home masjid detail berita

Mengalir Sejak Awal Zaman, Istighfar sebagai Sunnah Para Nabi

ahmad zuhdi Sabtu, 04 Juli 2026 - 22:09 WIB
Mengalir Sejak Awal Zaman, Istighfar sebagai Sunnah Para Nabi
Mengalir Sejak Awal Zaman, Istighfar sebagai Sunnah Para Nabi. Foto:
LANGIT7.ID, Jakarta,- - ‎Membaca lembaran sejarah para utusan Allah akan membawa kita pada satu kesimpulan besar mengenai rahasia keselamatan jiwa. Di balik kesucian tugas dan tingginya derajat mereka, para nabi adalah hamba yang paling gigih dalam melantunkan permohonan ampun.

Istighfar bukanlah sekadar penawar bagi mereka yang berlumur noda, melainkan sebuah sunnah abadi yang diwariskan oleh para nabi terdahulu dari awal penciptaan hingga akhir zaman. ‎Istighfar atau permohonan ampunan dimulai sejak manusia pertama menapakkan kakinya di muka bumi.

Baca juga: RenunganMalam: Memperbanyak Istighfar di Tengah Banyaknya Kelalaian

‎Ketika Nabi Adam AS dan Ibunda Hawa menyadari kekhilafan mereka di surga, kalimat pertama yang mereka rapal untuk mengetuk pintu rahmat Ilahi adalah untaian istighfar. Melalui untaian doa tersebut, mereka mengajarkan kepada seluruh anak cucunya bahwa mengakui kelemahan di hadapan Sang Pencipta adalah awal dari segala bentuk keluhuran jiwa.

‎Allah SWT mengabadikan kalimat taubat yang sakral dari Nabi Adam AS tersebut dalam Al-Qur'an:

‎قَالَا رَبَّنَا ظَلَمْنَآ أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ ٱلْخَٰسِرِينَ

‎Artinya: "Keduanya berkata: 'Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi. (QS. Al-A'raf: 23)

‎Berabad-abad setelahnya, warisan istighfar ini dilanjutkan secara masif oleh Nabi Nuh AS di tengah kaumnya yang membangkang. Beliau tidak hanya memohon ampun untuk dirinya sendiri, tetapi juga menjadikan istighfar sebagai strategi dakwah utama untuk menyelamatkan umatnya dari bencana.

‎Nabi Nuh AS meyakinkan kaumnya bahwa permohonan ampun yang tulus merupakan kunci pembuka gerbang rezeki dan kemakmuran hidup di dunia. ‎Kisah penegasan pentingnya istighfar dari Nabi Nuh AS ini direkam dengan sangat indah di dalam kitab suci:

‎فَقُلْتُ ٱسْتَغْفِرُوا۟ رَبَّكُمْ إِنَّهُۥ كَانَ غَفَّارًا

‎Artinya: "Maka aku katakan kepada mereka: 'Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun. (QS. Nuh: 10).

Baca juga: RenunganMalam: Menghidupkan Hati dengan Istighfar

‎Mata rantai keteladanan ini akhirnya mencapai puncak kesempurnaannya pada diri baginda Nabi Muhammad SAW. Sebagai penutup para nabi yang telah dijamin suci dari dosa (ma'shum), beliau justru menjadi sosok yang paling menggetarkan langit dengan gemuruh istighfarnya setiap hari.

‎Di penghujung masa kerasulannya, Allah SWT bahkan menurunkan perintah khusus agar beliau menutup tugas sucinya di dunia dengan tasbih dan permohonan ampun. Perintah pamungkas dari Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW tersebut tertuang dalam Surah An-Nasr:

فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَٱسْتَغْفِرْهُ ۚ إِنَّهُۥ كَانَ تَوَّابًۢا

‎Artinya: "Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat. (QS. An-Nasr: 3).

‎Dalam implementasi kehidupan sehari-hari, Nabi Muhammad SAW menerjemahkan perintah tersebut ke dalam rutinitas dzikir yang sangat luar biasa. Beliau tidak pernah membiarkan harinya berlalu tanpa melantunkan istighfar sebanyak kurang lebih 100 kali dalam sehari semalam.

‎Komitmen luhur ini menjadi tamparan sekaligus cermin bagi umatnya yang jauh dari kata suci agar tidak pernah memelihara sifat sombong dan malas dalam memohon ampunan.

Baca juga: Gapai Syafaat Rasulullah dengan Baca Sayyidul Istighfar di Pagi dan Petang

‎Pada akhirnya, merutinkan istighfar berarti manusia sedang menyambungkan diri dengan frekuensi yang sama dengan para kekasih Allah. Mulai dari kepasrahan Nabi Adam AS, kegigihan Nabi Nuh AS, hingga kesempurnaan Nabi Muhammad SAW, semuanya bermuara pada satu ketundukan yang sama.

(est)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Sabtu 04 Juli 2026
Imsak
04:33
Shubuh
04:43
Dhuhur
12:01
Ashar
15:22
Maghrib
17:54
Isya
19:07
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan