LANGIT7.ID, Jakarta,- - Membaca lembaran sejarah para utusan Allah akan membawa kita pada satu kesimpulan besar mengenai rahasia keselamatan jiwa. Di balik kesucian tugas dan tingginya derajat mereka, para nabi adalah hamba yang paling gigih dalam melantunkan
permohonan ampun.
Istighfar bukanlah sekadar penawar bagi mereka yang berlumur noda, melainkan sebuah sunnah abadi yang diwariskan oleh para nabi terdahulu dari awal penciptaan hingga akhir zaman.
Istighfar atau
permohonan ampunan dimulai sejak manusia pertama menapakkan kakinya di muka bumi.
Baca juga: RenunganMalam: Memperbanyak Istighfar di Tengah Banyaknya KelalaianKetika
Nabi Adam AS dan
Ibunda Hawa menyadari kekhilafan mereka di surga, kalimat pertama yang mereka rapal untuk mengetuk pintu rahmat Ilahi adalah untaian istighfar. Melalui untaian doa tersebut, mereka mengajarkan kepada seluruh anak cucunya bahwa mengakui kelemahan di hadapan Sang Pencipta adalah awal dari segala bentuk keluhuran jiwa.
Allah SWT mengabadikan kalimat taubat yang sakral dari Nabi Adam AS tersebut dalam Al-Qur'an:
قَالَا رَبَّنَا ظَلَمْنَآ أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ ٱلْخَٰسِرِينَ
Artinya:
"Keduanya berkata: 'Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi. (QS. Al-A'raf: 23)
Berabad-abad setelahnya, warisan istighfar ini dilanjutkan secara masif oleh Nabi Nuh AS di tengah kaumnya yang membangkang. Beliau tidak hanya memohon ampun untuk dirinya sendiri, tetapi juga menjadikan istighfar sebagai strategi dakwah utama untuk menyelamatkan umatnya dari bencana.
Nabi Nuh AS meyakinkan kaumnya bahwa permohonan ampun yang tulus merupakan kunci pembuka gerbang rezeki dan kemakmuran hidup di dunia. Kisah penegasan pentingnya istighfar dari Nabi Nuh AS ini direkam dengan sangat indah di dalam kitab suci:
فَقُلْتُ ٱسْتَغْفِرُوا۟ رَبَّكُمْ إِنَّهُۥ كَانَ غَفَّارًا
Artinya:
"Maka aku katakan kepada mereka: 'Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun. (QS. Nuh: 10).
Baca juga: RenunganMalam: Menghidupkan Hati dengan IstighfarMata rantai keteladanan ini akhirnya mencapai puncak kesempurnaannya pada diri baginda Nabi Muhammad SAW. Sebagai penutup para nabi yang telah dijamin suci dari dosa (ma'shum), beliau justru menjadi sosok yang paling menggetarkan langit dengan gemuruh istighfarnya setiap hari.
Di penghujung masa kerasulannya, Allah SWT bahkan menurunkan perintah khusus agar beliau menutup tugas sucinya di dunia dengan tasbih dan permohonan ampun. Perintah pamungkas dari Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW tersebut tertuang dalam Surah An-Nasr:
فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَٱسْتَغْفِرْهُ ۚ إِنَّهُۥ كَانَ تَوَّابًۢا
Artinya:
"Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat. (QS. An-Nasr: 3).
Dalam implementasi kehidupan sehari-hari, Nabi Muhammad SAW menerjemahkan perintah tersebut ke dalam rutinitas dzikir yang sangat luar biasa. Beliau tidak pernah membiarkan harinya berlalu tanpa melantunkan istighfar sebanyak kurang lebih 100 kali dalam sehari semalam.
Komitmen luhur ini menjadi tamparan sekaligus cermin bagi umatnya yang jauh dari kata suci agar tidak pernah memelihara sifat sombong dan malas dalam memohon ampunan.
Baca juga: Gapai Syafaat Rasulullah dengan Baca Sayyidul Istighfar di Pagi dan PetangPada akhirnya, merutinkan istighfar berarti manusia sedang menyambungkan diri dengan frekuensi yang sama dengan para kekasih Allah. Mulai dari kepasrahan Nabi Adam AS, kegigihan Nabi Nuh AS, hingga kesempurnaan Nabi Muhammad SAW, semuanya bermuara pada satu ketundukan yang sama.
(est)