Santri di Afrika Belajar Al-Quran Bukan di Mushaf, tapi Papan Kayu
Muhajirin
Senin, 28 Maret 2022 - 12:58 WIB
Mushaf Quran di papan kayu Afrika (foto: istock/Langit7)
Eisa Hamid Al-Gani adalah seorang hafidz Al-Qur’an asal Republik Chand, Afrika Tengah. Terkurung di dalam daratan, Chand berbatasan dengan Libya di utara, Republik Afrika Tengah di selatan, Niger di barat, Sudan timur dan Nigeria serta Kamerun di barat daya.
Dia mulai menghafal Al-Qur’an sejak berusia tujuh tahun di sebuah lembaga Khusus pendidikan Islam. Hal yang menarik adalah caranya menghafal kitab suci Al-Qur’an.
Biasanya, anak-anak muslim menghafal ayat-ayat Al-Qur’an menggunakan mushaf. Namun Eisa, bersama anak-anak Afrika secara umum, menggunakan papan kayu untuk menghafal.
Baca juga: Noor Saadeh, Musisi Klasik Mualaf yang Berdakwah Lewat Pendidikan
Menulis ayat-ayat Al-Qur’an di atas batu atau kayu merupakan budaya manuskrip kuno di Afrika yang masih bertahan hingga saat ini. Umum di Afrika, kayu dan batu menjadi wadah tulis untuk belajar Al-Qur’an. Itu sudah dilakukan secara turun-temurun.
Anak-anak berlatih menulis Al-Qur’an di atas papan atau batu. Setelah semua tulisan dalam papan dihafal, maka mereka akan segera menghapus dan mengganti dengan tulisan baru untuk dihafal. Begitu seterusnya hingga hafal 30 juz. Bahkan, ini berlaku untuk setiap pelajaran agama Islam.
Bentuk papan berbeda-beda di setiap daerah. Ada yang berbentuk panjang dengan lingkaran di ujung, ada pula berbentuk panjang dengan motif kubah di ujung papan. Namun secara fungsi tetap sama, sebagai wadah untuk menulis ayat-ayat Al-Qur’an untuk dihafal.
Dia mulai menghafal Al-Qur’an sejak berusia tujuh tahun di sebuah lembaga Khusus pendidikan Islam. Hal yang menarik adalah caranya menghafal kitab suci Al-Qur’an.
Biasanya, anak-anak muslim menghafal ayat-ayat Al-Qur’an menggunakan mushaf. Namun Eisa, bersama anak-anak Afrika secara umum, menggunakan papan kayu untuk menghafal.
Baca juga: Noor Saadeh, Musisi Klasik Mualaf yang Berdakwah Lewat Pendidikan
Menulis ayat-ayat Al-Qur’an di atas batu atau kayu merupakan budaya manuskrip kuno di Afrika yang masih bertahan hingga saat ini. Umum di Afrika, kayu dan batu menjadi wadah tulis untuk belajar Al-Qur’an. Itu sudah dilakukan secara turun-temurun.
Anak-anak berlatih menulis Al-Qur’an di atas papan atau batu. Setelah semua tulisan dalam papan dihafal, maka mereka akan segera menghapus dan mengganti dengan tulisan baru untuk dihafal. Begitu seterusnya hingga hafal 30 juz. Bahkan, ini berlaku untuk setiap pelajaran agama Islam.
Bentuk papan berbeda-beda di setiap daerah. Ada yang berbentuk panjang dengan lingkaran di ujung, ada pula berbentuk panjang dengan motif kubah di ujung papan. Namun secara fungsi tetap sama, sebagai wadah untuk menulis ayat-ayat Al-Qur’an untuk dihafal.