LANGIT7.ID, Jakarta - Noor Saadeh merupakan seorang musisi klasik dan penyanyi opera. Sejak berusia 18 tahun, dia rutin berpentas dalam konser-konser musik di New York dan di luar negeri.
Suatu hari, dia pergi ke kedai kopi milik seorang muslim asal Mesir. Di sana, Saadeh terlibat percakapan yang asyik tentang agama Islam. Saadeh takjub mendapati banyak persamaan antara Islam dan Kristen, agama yang dianutnya.
“Saya telah terlibat dalam monoteisme, agama Ibrahimiah sepanjang hidup saya. Tiba-tiba seseorang memberitahu saya, ‘kami merupakan bagian ketiga dari Trilogi Ibrahimiah jika Anda menyebutnya begitu, dari agama Yahudi, Kristen, dan Islam’,” kata Saadeh, dikutip kanal
YouTube Ayatuna Ambassador, Jumat (11/3/2022).
Baca juga: Misi Dakwah di London Tak Pernah Temui PenghalangKala itu, Saadeh Masih berusia 36 tahu. Ia mengaku terkejut mendengar pernyataan pria asal Mesir itu. Dia akhirnya rutin datang ke kedai kopi tersebut sekadar berbincang tentang Islam sambil minum kopi.
Suatu hari, Saadeh datang untuk menikmati secangkir kopi. Saat masuk ke dalam kedai, ia melihat pria Mesir tersebut tengah membaca Al-Qur’an. Dia tak tahu jika itu kitab suci umat Islam. Ia hanya melihat sebuah buku yang berisi kaligrafi sangat indah.
“Saya seorang seniman, saya tidak bisa menggambar tapi saya bisa mengapresiasi gambar semacam itu. Saya memperhatikan kaligrafinya begitu bagus. Berdasarkan jiwa seni saya, saya tahu bahwa itu sangat Indah,” kata Saadeh.
Pria Mesir itu lalu menjelaskan perihal Al-Qur’an yang tengah dia baca. Saadeh lalu meminta Al-Qur’an terjemahan bahasa Inggris. Dia lalu rutin membaca terjemahan Qur’an tersebut.
“Saat saya membaca Tafsir Al-Qur’an dalam Bahasa Inggris, saya merasa seperti potongan puzzle yang tersusun menjadi satu. Bagi saya Islam seperti agama orang yang berpikir. Allah sering mengatakan, ‘Tidakkah kamu mendengar, melihat, berpikir?’,” kata Saadeh.
Dia mengaku takjub karena Al-Qur’an tidak mengajak umat Islam untuk menyembah Allah secara taklid buta. Namun, banyak ayat dalam Al-Qur’an memerintahkan untuk berpikir dan terus mencari kebenaran.
Baca juga: Ian Dallas, Seniman dari Eropa Jadi Pemimpin Sufi di Afrika“Berpikirlah, gunakan nalar. Saya menemukan banyak hal yang masuk akal dalam Al-Qur’an, banyak sejarah, psikologi. Saya pikir ini merupakan buku yang bagus untuk psikologi manusia,” ucapnya.
Setelah enam bulan mengkaji Al-Qur’an, dia mantap mengucapkan dua kalimat syahadah. Dia mulai berpakaian layaknya seorang muslimah dan meninggalkan dunia musik.
Dia merasa dunia musik tidak sejalan dengan akhlak seorang muslimah, tampil dengan gaun Indah lalu ditonton ribuan orang. “Allah izinkan saya dengan mudah untuk menutup lembaran lama dalam hidup saya dan lebih melanjutkan kehidupan muslim saya,” ucap Saadeh.
Berdakwah Lewat PendidikanSalah satu ajaran paling Saadeh kagumi dalam Islam adalah perintah menuntut ilmu. Dia menyebut wahyu pertama yang turun kepada Nabi Muhammad SAW adalah perintah untuk menuntut ilmu yakni “iqra”.
“Kita melihat generasi pertama umat muslim, mereka sungguh-sungguh dalam belajar, seperti yang terjadi di Baghdad, kemudian Andalus yang pindah ke Kekaisaran Ottoman. Ada rasa ingin mencari dan haus akan pengetahuan,” kata Saadeh.
“Saya merasa itu sangat kuat dalam diri saya dan juga hasrat untuk menyebarkan Islam pada semua orang. Cerita lucunya, ketika baru menjadi muslim, saya ingin ke puncak gedung Empire State Building dan berteriak 'Bacalah Al-Qur’an, Anda tidak tahu apa-apa!'” lanjut Saadeh.
Hal itu Saadeh wujudkan. Setelah meninggalkan dunia musik, dia mencurahkan energi dan bakat seninya untuk mengajar di sekolah-sekolah Islam di banyak tempat di Amerika Serikat.
Saadeh lalu bertemu jodoh dengan pemuda asal Yordania, Ammar Saadeh. Dari Berkshires di Massachusetts, mereka pindah ke kota Dallas di Texas. Mereka merasa sangat senang berbaur dengan komunitas muslim di kota itu.
Baca juga: Hari Kopi Sedunia, Minuman yang Tren di Mekkah hingga EropaBekerja di lingkungan anak-anak, Saadeh memanfaatkan latar belakang keseniannya menarasikan kisah-kisah Qur’an ke dalam bahasa Inggris dan mempopulerkan lagu-lagu anak-anak Amerika ke dalam konteks Islami. Di samping itu, dia menciptakan lagu-lagunya sendiri.
Pada 1997, Ammar dan Saadeh mendirikan perusahaan bernama Noorart. Berbagai buah karya mereka, antara lain
Razanne, the Muslim Doll ("Razanne, Boneka Muslim"); perangkat musik dan lagu
We Are Muslims ("Kami Muslim"); dan
We Love Muhammad ("Kami Cinta Muhammad").
(jqf)