Dzikir Pagi Petang, Keutamaan Istighfar yang Sering Terlupakan
Ahmad zuhdi
Kamis, 29 Juli 2021 - 10:10 WIB
Ilustrasi berdzikir dan membaca Al-Quran. (Foto: Istimewa).
Ada banyak kandungan dan keutamaan beristighfar, khususnya makna dalam doa sayidul istigfar. Salah satunya yakni memenuhi dan membenarkan janji kepada Allah subhanahu wata ala.
Makna ini terkandung dalam kalimat doa "Wa ana abdika wa ana 'ala ahdika wa wa'dika wasthathotu." Artinya "Aku akan berusaha memenuhi janji-janjiku kepada-Mu dan membenarkan janji-janji-Mu sekuat tenagaku."
Menurut pengasuh Pusat Kajian Fikih (Puskafi) Dr Zain An-Najah, al-Ahdu adalah janji seorang hamba kepada Allah), yaitu seorang hamba mengakui bahwa Allah adalah Rabbnya, dia pernah berjanji kepada Allah, bahwa dia akan melaksanakan seluruh perintah dan larangan-Nya.
Janji ini pernah disampaikan kepada Allah sewaktu dia berada di sulbi Adam, sebagaimana yang pernah disampaikan Allah Subhanahu Wa Ta'ala dalam friman-Nya:
"Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Rabb-mu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi." (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)". (Qs Al A’raf: 172).
Janji itu diucapkan hamba-Nya untuk melaksanakan segala perintah Allah sesuai kemampuannya, bukan sesuai hak Allah yang harus dia penuhi, tentunya hal ini tidak akan sanggup dilakukan oleh seorang hamba. Ini sesuai dengan firman Allah :
لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا
Makna ini terkandung dalam kalimat doa "Wa ana abdika wa ana 'ala ahdika wa wa'dika wasthathotu." Artinya "Aku akan berusaha memenuhi janji-janjiku kepada-Mu dan membenarkan janji-janji-Mu sekuat tenagaku."
Menurut pengasuh Pusat Kajian Fikih (Puskafi) Dr Zain An-Najah, al-Ahdu adalah janji seorang hamba kepada Allah), yaitu seorang hamba mengakui bahwa Allah adalah Rabbnya, dia pernah berjanji kepada Allah, bahwa dia akan melaksanakan seluruh perintah dan larangan-Nya.
Janji ini pernah disampaikan kepada Allah sewaktu dia berada di sulbi Adam, sebagaimana yang pernah disampaikan Allah Subhanahu Wa Ta'ala dalam friman-Nya:
"Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Rabb-mu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi." (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)". (Qs Al A’raf: 172).
Janji itu diucapkan hamba-Nya untuk melaksanakan segala perintah Allah sesuai kemampuannya, bukan sesuai hak Allah yang harus dia penuhi, tentunya hal ini tidak akan sanggup dilakukan oleh seorang hamba. Ini sesuai dengan firman Allah :
لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا