LANGIT7.ID, Jakarta - Ada banyak kandungan dan keutamaan beristighfar, khususnya makna dalam doa sayidul istigfar. Salah satunya yakni memenuhi dan membenarkan janji kepada Allah subhanahu wata ala.
Makna ini terkandung dalam kalimat doa "Wa ana abdika wa ana 'ala ahdika wa wa'dika wasthathotu." Artinya "Aku akan berusaha memenuhi janji-janjiku kepada-Mu dan membenarkan janji-janji-Mu sekuat tenagaku."
Menurut pengasuh Pusat Kajian Fikih (Puskafi) Dr Zain An-Najah, al-Ahdu adalah janji seorang hamba kepada Allah), yaitu seorang hamba mengakui bahwa Allah adalah Rabbnya, dia pernah berjanji kepada Allah, bahwa dia akan melaksanakan seluruh perintah dan larangan-Nya.
Janji ini pernah disampaikan kepada Allah sewaktu dia berada di sulbi Adam, sebagaimana yang pernah disampaikan Allah Subhanahu Wa Ta'ala dalam friman-Nya:
"Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Rabb-mu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi." (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)". (Qs Al A’raf: 172).
Janji itu diucapkan hamba-Nya untuk melaksanakan segala perintah Allah sesuai kemampuannya, bukan sesuai hak Allah yang harus dia penuhi, tentunya hal ini tidak akan sanggup dilakukan oleh seorang hamba. Ini sesuai dengan firman Allah :
لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا
"La yukallifullahu nafsan illa wus'aha."
"Allah tidaklah membebani seseorang kecuali sesuai dengan kemampuannya." (Qs. al-Baqarah: 286).
Allah juga berfirman:
فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ
"Fattaqullaha mastatho'tum."
"Bertaqwalah kepada Allah sesuai dengan kemampuan kalian." (Qs. at-Taghabun: 1).
Allah juga berfirman:
لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا مَا آتَاهَا
"La yukallifullahu nafsan illa ma ataaha."
"Allah tidaklah membebani seseorang kecuali sesuai dengan apa yang diberikan kepadanya." (Qs. ath-Thalaq: 7).
Adapun al-Wa’du, yaitu janji Allah kepada hamba-Nya bahwa Allah akan memberikan pahala bagi yang taat dan memberikan hukuman bagi yang bermaksiat. Ini sesuai dengan firman Allah:
"Dan hanya kepunyaan Allah-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi supaya Dia memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat jahat terhadap apa yang telah mereka kerjakan dan memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik dengan pahala yang lebih baik (syurga)." (Qs. an-Najm: 31).
Allah juga berfirman:
"Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula." (Qs. al-Zalzalah : 7- 8).
Maka kandungan dari petikan doa di atas, adalah sebagai berikut:
"Ya Allah aku juga membenarkan janji-Mu, bahwa Engkau akan memberikan pahala bagi yang taat dan memberikan hukuman bagi yang bermaksiat, oleh karena itu aku akan mentaatimu ya Allah dan meninggalkan larangan-larang-Mu menurut kekuatan dan kemampuanku."
(bal)