Tradisi Dugderan, Sebuah Akulturasi Agama dan Budaya
Arif purniawan
Ahad, 03 April 2022 - 19:11 WIB
Tradisi Dugderan di Kota Semarang digelar tanpa arak-arakan (foto: humas Pemkot)
Tradisi dugderan yang digelar Pemkot Semarang pada tahun ini digelar tanpa arak-arakan. Namun begitu, upacara menyambut Ramadhan tetap dilakukan. Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi yang berperan menjadi RM Tumenggung Purboningrat, Bupati Semarang tahun 1882 Masehi.
Di sela-sela kegiatan, di halaman balai kota disuguhkan aneka macam tarian Semarang dan juga parada drum band dari AMNI, yang diikuti sejumlah ormas, dan elemen masyarakat, serta perwakilan dari 16 kecamatan di Kota Semarang.
Menariknya pada dugderan tahun ini yang digelar tanpa arak-arakan, Pemkot Semarang menghadirkan sosok warak ngendog, hewan rekaan yang menjadi maskot Kota Semarang dalam bentuk animatronik, atau dibuat seperti robot. Warak ngendog selalu hadir setiap kegiatan dugderan.
Baca juga:Istilah Ngabuburit, Jalan-Jalan sambil Tunggu Waktu Berbuka Puasa
Setelah di balai kota, rombongan “RM Tumenggung Purbaningrat” menuju Masjid Agung Semarang (Masjid Kauman) untuk menemui ulama setempat. Pertemuan ini sekaligus memberitahukan kepada masyarakat luas bahwa keesokan selepas acara dugderan, merupakan awal puasa di bulan suci Ramadan.
Setelah pemberitahuan tersebut, ditabuhlah bedug masjid sehingga berbunyi dug dan juga disulut petasan atau mercon sehingga berbunyi der.
Sehingga kegiatan tahunan ini biasa masyarakat sebut tradisi dugderan. Kegiatan diakhiri dengan kunjungan ke Masjid Agung Jawa Tengah.
Di sela-sela kegiatan, di halaman balai kota disuguhkan aneka macam tarian Semarang dan juga parada drum band dari AMNI, yang diikuti sejumlah ormas, dan elemen masyarakat, serta perwakilan dari 16 kecamatan di Kota Semarang.
Menariknya pada dugderan tahun ini yang digelar tanpa arak-arakan, Pemkot Semarang menghadirkan sosok warak ngendog, hewan rekaan yang menjadi maskot Kota Semarang dalam bentuk animatronik, atau dibuat seperti robot. Warak ngendog selalu hadir setiap kegiatan dugderan.
Baca juga:Istilah Ngabuburit, Jalan-Jalan sambil Tunggu Waktu Berbuka Puasa
Setelah di balai kota, rombongan “RM Tumenggung Purbaningrat” menuju Masjid Agung Semarang (Masjid Kauman) untuk menemui ulama setempat. Pertemuan ini sekaligus memberitahukan kepada masyarakat luas bahwa keesokan selepas acara dugderan, merupakan awal puasa di bulan suci Ramadan.
Setelah pemberitahuan tersebut, ditabuhlah bedug masjid sehingga berbunyi dug dan juga disulut petasan atau mercon sehingga berbunyi der.
Sehingga kegiatan tahunan ini biasa masyarakat sebut tradisi dugderan. Kegiatan diakhiri dengan kunjungan ke Masjid Agung Jawa Tengah.