Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Jum'at, 17 April 2026
home wisata halal detail berita

Tradisi Dugderan, Sebuah Akulturasi Agama dan Budaya

arif purniawan Ahad, 03 April 2022 - 19:11 WIB
Tradisi Dugderan, Sebuah Akulturasi Agama dan Budaya
Tradisi Dugderan di Kota Semarang digelar tanpa arak-arakan (foto: humas Pemkot)
LANGIT7.ID, Semarang - Tradisi dugderan yang digelar Pemkot Semarang pada tahun ini digelar tanpa arak-arakan. Namun begitu, upacara menyambut Ramadhan tetap dilakukan. Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi yang berperan menjadi RM Tumenggung Purboningrat, Bupati Semarang tahun 1882 Masehi.

Di sela-sela kegiatan, di halaman balai kota disuguhkan aneka macam tarian Semarang dan juga parada drum band dari AMNI, yang diikuti sejumlah ormas, dan elemen masyarakat, serta perwakilan dari 16 kecamatan di Kota Semarang.

Menariknya pada dugderan tahun ini yang digelar tanpa arak-arakan, Pemkot Semarang menghadirkan sosok warak ngendog, hewan rekaan yang menjadi maskot Kota Semarang dalam bentuk animatronik, atau dibuat seperti robot. Warak ngendog selalu hadir setiap kegiatan dugderan.

Baca juga: Istilah Ngabuburit, Jalan-Jalan sambil Tunggu Waktu Berbuka Puasa

Setelah di balai kota, rombongan “RM Tumenggung Purbaningrat” menuju Masjid Agung Semarang (Masjid Kauman) untuk menemui ulama setempat. Pertemuan ini sekaligus memberitahukan kepada masyarakat luas bahwa keesokan selepas acara dugderan, merupakan awal puasa di bulan suci Ramadan.

Setelah pemberitahuan tersebut, ditabuhlah bedug masjid sehingga berbunyi dug dan juga disulut petasan atau mercon sehingga berbunyi der.

Sehingga kegiatan tahunan ini biasa masyarakat sebut tradisi dugderan. Kegiatan diakhiri dengan kunjungan ke Masjid Agung Jawa Tengah.

Tradisi dugderan identik dengan pasar menjelang bulan Ramadan, tapi saat covid, tidak diberlakukan lagi. Termasuk pada kegiatan dugderan yang digelar sejak Kamis (31/3) siang. Meski demikian, antusias masyarakat yang berduyun-duyun datang ke Alun-alun Johar dan Masjid Kauman mencapai ribuan hingga menjelang sore.

“Tujuan dari diciptakannya tradisi dugderan yaitu mengumpulkan masyarakat dalam suasana suka cita untuk bersatu, berbaur dan bertegur sapa tanpa pembedaan. Selain sebagai penanda awal bulan Ramadan secara tegas dan serentak berdasarkan kesepakatan bupati dan imam masjid, “ demikian keterangan dari Jurnal Rinitami Njatrijani, dosen Fakultas Hukum Undip Semarang berjudul kearifan lokal dalam perspektif budaya di Semarang.

Baca Juga: Kurangi Tidur, Tetap Beraktivitas saat Ramadhan Lebih Afdhal

Tradisi dugderan konon sudah dilakukan sejak 200 tahun silam. Hingga kini, tradisi ini tetap lestari. Aneka bentuk arakan dan kreasi penyelenggaraan, menyesuaikan dengan kondisi zaman.

Ketika pandemi Covid-19 tahun lalu, tradisi ini tetap digelar tanpa menyedot ribuan pengunjung. Dulunya, tradisi dugderan ini ada tiga agenda akni pasar malam dugder, proses ritual pengumuman awal puasa dan kirab budata Warak Ngendok.

Pasar saat ini sudah ditiadakan untuk mencegah kerumunan di masa pandemi covid. Yang bertahan hanya prosesi ritual pengumuman bulan puasa dan dimeriahkan dengan warak ngendok di tengah perubahan sosial kultural masyarakat meski tanpa dikirab di sepanjang Jalan Pemuda.

Warak Ngendog berasal dari dua kata yakni warak yang berasal dari bahasa Arab “Wara’i” yang berarti suci dan Ngendog yang sama artinya dengan bertelur. Dua kata tu bisa diartikan sebagai siapa saja yang menjaga kesucian di bulan Ramadan, kelak di akhir bulan akan mendapatkan pahala di hari Lebaran.

View this post on Instagram

A post shared by Hendrar Prihadi (Hendi) (@hendrarprihadi)



Warak ngendog ini dahulu oleh warga Semarang dikenal sebagai hewan mitologi yang sakti. Bentuknya perpaduan antara kambing pada bagian kaki, naga pada bagian kepala,dan buraq di bagian badannya.

Rinitami menulis, menurut cerita warga, warak ngendok sudah hadir sejak awal mula pendirian warga Kota Semarang. Sejak Ki Ageng Pandan Arang mendirikan Kota Semarang dan menjadi bupati pertama, hewan rekaan ini sudah dikenal masyarakat.

“Warak ngendok memiliki makna filosofi yang selalu relevan sebagai pedoman hidup manusia pada zaman apapun, Wujud hewan mitologi ini merupakan gabungan tiga simbol etnis, mencerminkan persatuan dan akulturasi budaya di Seamrang,”.

Baca juga: Tradisi Padusan jadi Ajang Rekreasi Millenial Jelang Ramadhan

Di Kota Semarang sendiri terdapat sejumlah etnis, seperti Tionghoa, dan pemeluk agama Hindu dan Budha. Konon, ciri khas bentuk yang lurus dari warak ngendok menggambarkan citra warga Semarang yang terbuka, lurus dan berbicara apa adanya, sehingga tak ada perbedaan antara ungkapan hati dan ungkapan lisan.

(sof)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Jum'at 17 April 2026
Imsak
04:28
Shubuh
04:38
Dhuhur
11:56
Ashar
15:14
Maghrib
17:54
Isya
19:04
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سَبَّحَ لِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ
Apa yang di langit dan di bumi bertasbih kepada Allah. Dialah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)