Komunitas Pegon, Sejarawan Milenial Nahdlatul Ulama dari Ujung Timur Jawa
Fajar adhitya
Kamis, 29 Juli 2021 - 14:50 WIB
Ilustrasi: Alquran terjemah ke bahasa Indonesia-Latin dan Jawa-Hanacaraka koleksi Komunitas Pegon. (Foto: Twitter Komunitas Pegon)
Bila Soekarno memiliki semboyan “Jas Merah” yang berarti jangan sekali-kali meninggalkan sejarah, Nahdlatul Ulama (NU) mempunyai “Jas Hijau” yang berarti jangan sekali-kali menghilangkan jasa ulama. Motivasi inilah yang mendorong nahdliyin muda di Banyuwangi, Jawa Timur membentuk Komunitas Pegon.
Komunitas Pegon memiliki perhatian pada kajian sejarah pesantren dan NU di Banyuwangi. Komunitas ini melakukan riset, pendokumentasian hingga melakukan publikasi di berbagai media, terutama di platform digital seperti media sosial dan berita daring mengenai jejak intelektual para ulama terdahulu.
Pegon sendiri adalah huruf Arab yang dimodifikasi sedemikian rupa untuk menuliskan bahasa Jawa,Madura, dan Sunda. Kata pegon berasal dari bahasa Jawa, pegon, yang artinya “ora lumrah anggone ngucapake” (tidak lazim saat diucapkan).
Hal ini disebabkan karena banyaknya kata Jawa yang ditulis dengan tulisan Arab dan menjadi aneh ketika diucapkan. Aksara ini begitu populer dan menjadi alat komunikasi teks para ulama dalam menyebarkan ajaran Islam pada abad ke-18 sampai 19.
Beberapa ulama Jawa yang mempopulerkan aksara pegon antara lain, KH Ahmad Rifa’i Kalisasak (1786–1878), KH Sholeh Darat Semarang (1820–1903), KH. Hasyim Asy'ari Jombang (1875–1947), Haji Hasan Mustafa, Garut (1852–1930), KH Bisri Mustofa Rembang (1915–1977).
Dalam kerja-kerja risetnya, Komunitas Pegon banyak mengumpulkan dan merawat naskah-naskah kuno serta foto-foto bersejarah. Komunitas yang resmi didirikan pada 6 Agustus 2017 ini berhasil menghimpun sedikitnya 50 manuskrip kuno yang didapat dari beberapa pondok pesantren dan kiai.
"Kami banyak menemukannya di pesantren-pesantren tua. Jadi kebanyakan berupa naskah keislaman," ujar pendiri Komunitas Pegon, Ayung Notonegoro dikutip banyuwangikab.go.id.
Komunitas Pegon memiliki perhatian pada kajian sejarah pesantren dan NU di Banyuwangi. Komunitas ini melakukan riset, pendokumentasian hingga melakukan publikasi di berbagai media, terutama di platform digital seperti media sosial dan berita daring mengenai jejak intelektual para ulama terdahulu.
Pegon sendiri adalah huruf Arab yang dimodifikasi sedemikian rupa untuk menuliskan bahasa Jawa,Madura, dan Sunda. Kata pegon berasal dari bahasa Jawa, pegon, yang artinya “ora lumrah anggone ngucapake” (tidak lazim saat diucapkan).
Hal ini disebabkan karena banyaknya kata Jawa yang ditulis dengan tulisan Arab dan menjadi aneh ketika diucapkan. Aksara ini begitu populer dan menjadi alat komunikasi teks para ulama dalam menyebarkan ajaran Islam pada abad ke-18 sampai 19.
Beberapa ulama Jawa yang mempopulerkan aksara pegon antara lain, KH Ahmad Rifa’i Kalisasak (1786–1878), KH Sholeh Darat Semarang (1820–1903), KH. Hasyim Asy'ari Jombang (1875–1947), Haji Hasan Mustafa, Garut (1852–1930), KH Bisri Mustofa Rembang (1915–1977).
Dalam kerja-kerja risetnya, Komunitas Pegon banyak mengumpulkan dan merawat naskah-naskah kuno serta foto-foto bersejarah. Komunitas yang resmi didirikan pada 6 Agustus 2017 ini berhasil menghimpun sedikitnya 50 manuskrip kuno yang didapat dari beberapa pondok pesantren dan kiai.
"Kami banyak menemukannya di pesantren-pesantren tua. Jadi kebanyakan berupa naskah keislaman," ujar pendiri Komunitas Pegon, Ayung Notonegoro dikutip banyuwangikab.go.id.