home masjid

Sejarah Teklek Wudhu, Sandal Para Bangsawan dan Rohaniawan

Kamis, 29 Juli 2021 - 18:19 WIB
Teklek atau bakiak, alas kaki yang biasanya terparkir di tempat wudhu pada setiap masjid atau mushalla. Foto: Istimewa
Museum History of Java, Yogyakarta menyimpan sebuah sandal kayu berusia ratusan abad. Masyarakat Jawa mengenalnya dengan sebutan sandal teklek atau istilah yang lebih umum adalah bakiak.

Saat ini, bakiak sudah jarang digunakan masyarakat sebagai bagian dari mode busana. Penggunaannya sangat terbatas pada masjid, surau, mushalla sebagai sandal wudhu, pesantren, dan petani ketika menyiangi sawah.

Sebutan “teklek” adalah Istilah onomatophae, yakni sebutan menurut suara yang dihasilkan oleh benda yang disebutnya. Menurut pendengaran masyarakat Jawa, sandal ini mengeluarkan bunyi teklak- teklekketika dipakai berjalan.

Sandal yang dipajang museum itu diperkirakan berasal dari abad 19 yang ditemukan di Madura. Masyarakat Jawa Timur mengenal sandal jenis ini sebagai bangkiak. Bermotif sulur, dengan perpaduan motif bergaya Madura campuran China, dipakai kaum perempuan kalangan bangsawan di masa lampau.

Istilah lain yang digunakan masyarakat Jawa Timur adalah klompen. Berasal dari Bahasa Belanda untuk menyebut sepatu kayu yang digunakan para pekerja.

Terdapat perbedaan bentuk antara teklek dan klompen. Pada teklek alas pijak telapak kaki itu berupa lempeng kayu. Adapun klompen, wujudnya berupa sepatu kayu.

Budaya sandal kayu ini diperkirakan dibawa oleh oleh orang-orang China Utara yang merantau ke selatan dimasa Dinasti Tang yang merupakan orang Tang-lang di Hokkian pada abad 8. Dari perantauan orang Tang-lang ke Nan Yang atau Asia Tenggara, maka terbawalah bakiak yang pada umumnya sebagai alas kaki para wanita atau nyonya.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Topik Terkait :
masjid wudhu teklek bakiak terompah
Berita Terkait
Berita Lainnya
berita lainnya