LANGIT.ID, Jakarta - Museum History of Java, Yogyakarta menyimpan sebuah sandal kayu berusia ratusan abad. Masyarakat Jawa mengenalnya dengan sebutan sandal teklek atau istilah yang lebih umum adalah bakiak.
Saat ini, bakiak sudah jarang digunakan masyarakat sebagai bagian dari mode busana. Penggunaannya sangat terbatas pada masjid, surau, mushalla sebagai sandal wudhu, pesantren, dan petani ketika menyiangi sawah.
Sebutan “teklek” adalah Istilah onomatophae, yakni sebutan menurut suara yang dihasilkan oleh benda yang disebutnya. Menurut pendengaran masyarakat Jawa, sandal ini mengeluarkan bunyi
teklak- teklek ketika dipakai berjalan.
Sandal yang dipajang museum itu diperkirakan berasal dari abad 19 yang ditemukan di Madura. Masyarakat Jawa Timur mengenal sandal jenis ini sebagai bangkiak. Bermotif sulur, dengan perpaduan motif bergaya Madura campuran China, dipakai kaum perempuan kalangan bangsawan di masa lampau.
Istilah lain yang digunakan masyarakat Jawa Timur adalah klompen. Berasal dari Bahasa Belanda untuk menyebut sepatu kayu yang digunakan para pekerja.
Terdapat perbedaan bentuk antara teklek dan klompen. Pada teklek alas pijak telapak kaki itu berupa lempeng kayu. Adapun klompen, wujudnya berupa sepatu kayu.
Budaya sandal kayu ini diperkirakan dibawa oleh oleh orang-orang China Utara yang merantau ke selatan dimasa Dinasti Tang yang merupakan orang Tang-lang di Hokkian pada abad 8. Dari perantauan orang Tang-lang ke Nan Yang atau Asia Tenggara, maka terbawalah bakiak yang pada umumnya sebagai alas kaki para wanita atau nyonya.
Kata
bak-kia adalah dialek Hokkian. Nu-ju (bak-kia) lantas berdifusi ke Korea, Jepang, bahkan hingga ke Nusantara. Ada sebutan serupa di Filipina, yaitu bakya.
Semula, bakiak dihiasi dengan gambar lukisan bunga-bunga yang cantik. Menempel di kaki para bangsawan zaman Dinasti Han. Bakiak sering dikaitkan dengan legenda Ji Zietui di masa Dinasti Zhou.
Ketika masuk ke Indonesia, bakiak yang mewah itu turun kelas menjadi sandalnya para pekerja, petani dan kaum santri. Dibuat dari kayu ringan dan diberi tali dari bekas ban untuk tempat jari kaki. Sederhana, murah, dan awet merupakan faktor mengapa sandal ini populer di kalangan masyarakat bawah.
Menurut sumber lain, jejak pengaruh bakiak di Jawa didapati paling tidak sejak era Majapahit (Abad 14 sampai 16 Masehi). Hal itu antara lain terbukti pada arca batu yang menggambarkan pendeta laki-laki berasal dari daerah Blitar abad 14 sampai 15 Masehi yang tersimpan di Museum Nasinonal, Jakarta. Bentuknya mengingatkan kepada bakiak (bak-kia) dari China.
Merujuk arca itu, dengan demikian budaya bakiak berkembang Jawa paling tidak berkembang pada masa Hindu-Buddha, tepatnya pada akhir Majapahit. Kala itu sebaran pengaruh bakiak asal China telah sampai ke daerah Blitar, yakni tempat dimana arca itu diketemukan.
"Sangat boleh jadi, para rohaniawan mengenakan alas kali untuk menjaga kebersihan atau kesucian kakinya. Bagi rokhaniawan, kesucian adalah hal penting, yang musti senantiasa dijaganya," dikutip Nusadaily.
Pada era Majapahit, teklek dipandang sebagai simbol kekuasaan raja. Bentuknya tentu tidak seperti teklek saat ini. Terompah kayu para raja yang disebut gamparan ini diukir dengan motif bunga-bunga, berwarna emas, kuning, dan cerah dengan satu knop sebagai jepitan ibu jari dan telunjuk kaki.
Pada prasasti-prasasti masa Girindrarddhanavamsa (paruh kedua abad 15 hingga paruh pertama abad 16 Masehi), tertera simbol kekuasaan yang berupa sepasang terompah, payung, serta tombak dililit ular. Demikianlah, secara simbolik kekuasaan raja bisa diwakli oleh terompahnya.
(asf)