Ramadhan di Seluruh Dunia
Perbatasan Arab Saudi-Yaman bak ‘Kota Mati’ Saat Ramadhan
Muhajirin
Senin, 11 April 2022 - 11:41 WIB
Jumardi Harfin Muhammad di King Khalid University di Abha Aseer, Arab Saudi (foto: dok pribadi)
Suasana Ramadhan di Abha ‘Asir, Arab Saudi seumpama ‘kota mati’ sejak Subuh hingga Maghrib. Tidak ada masyarakat yang ngabuburit seperti di Indonesia. Bahkan, buka bersama pun jarang ditemui.
Abha merupakan daerah pinggiran selatan Arab Saudi yang berbatasan dengan Yaman. Suasana Ramadhan di kota ini jauh dari kebisingan. Hening dan sunyi. Masyarakat lebih memilih beraktivitas di dalam rumah menghabiskan waktu bersama keluarga.
Jumardi Harfin Muhammad, mahasiswa King Khalid University (Jamiatul Malik Khalid Abha), menyebut hal tersebut sebagai pemandangan dan pengalaman baru. Dua dekade berpuasa di tengah keramaian di Indonesia, ia tiba-tiba masuk dalam lingkaran orang-orang yang lebih suka sunyi saat bulan puasa.
Baca juga: Saudi Izinkan 1 Juta Jamaah Beribadah Haji, Ini Persyaratannya
“Puasanya jauh beda dengan Indonesia yang banyak orang berfoya-foya dan ngabuburit. Di sini, tidak ada orang jalan-jalan santai. Betul-betul sunyi. Siang kayak kosong, sepi, kebanyakan aktivitas di malam hari,” kata Jumardi kepada LANGIT7.ID, Senin (11/4/2022).
Jurmadi menuturkan, masyarakat muslim di Arab Saudi benar-benar memanfaatkan Ramadhan sebagai bulan memperbanyak amal ibadah. Seluruh jam pekerjaan dikurangi. Jika berjalan ke kota-kota, Kendaraan roda empat dan dua masih terparkir rapi di garasi rumah.
Selain fokus ibadah, alasan lain berdiam diri di rumah adalah cuaca. Jumardi menyebut Arab Saudi saat ini berada di penghujung musim semi. Meski begitu, hawa panas sudah terasa. Tenggorokan selalu kering. Apalagi jika terkena sinar matahari.
Abha merupakan daerah pinggiran selatan Arab Saudi yang berbatasan dengan Yaman. Suasana Ramadhan di kota ini jauh dari kebisingan. Hening dan sunyi. Masyarakat lebih memilih beraktivitas di dalam rumah menghabiskan waktu bersama keluarga.
Jumardi Harfin Muhammad, mahasiswa King Khalid University (Jamiatul Malik Khalid Abha), menyebut hal tersebut sebagai pemandangan dan pengalaman baru. Dua dekade berpuasa di tengah keramaian di Indonesia, ia tiba-tiba masuk dalam lingkaran orang-orang yang lebih suka sunyi saat bulan puasa.
Baca juga: Saudi Izinkan 1 Juta Jamaah Beribadah Haji, Ini Persyaratannya
“Puasanya jauh beda dengan Indonesia yang banyak orang berfoya-foya dan ngabuburit. Di sini, tidak ada orang jalan-jalan santai. Betul-betul sunyi. Siang kayak kosong, sepi, kebanyakan aktivitas di malam hari,” kata Jumardi kepada LANGIT7.ID, Senin (11/4/2022).
Jurmadi menuturkan, masyarakat muslim di Arab Saudi benar-benar memanfaatkan Ramadhan sebagai bulan memperbanyak amal ibadah. Seluruh jam pekerjaan dikurangi. Jika berjalan ke kota-kota, Kendaraan roda empat dan dua masih terparkir rapi di garasi rumah.
Selain fokus ibadah, alasan lain berdiam diri di rumah adalah cuaca. Jumardi menyebut Arab Saudi saat ini berada di penghujung musim semi. Meski begitu, hawa panas sudah terasa. Tenggorokan selalu kering. Apalagi jika terkena sinar matahari.