Ramadhan di Seluruh Dunia
Ramadhan di Inggris, Shalat Tarawih Tanpa Jarak Sosial
Fifiyanti Abdurahman
Senin, 11 April 2022 - 12:21 WIB
Mahasiswa Indonesia di Inggris, Gugun Gumilar. Foto: Istimewa
Menjalankan puasa Ramadhan di Indonesia tentu sangat menyenangkan. Tidak hanya karena dapat berkumpul dengan keluarga, suasana yang terasa lebih hidup dan durasi berpuasa yang pendek, sekitar 14 jam.
Namun, kondisi tersebut berbeda dengan umat Muslim yang tinggal di negara-negara Eropa. Di mana Islam menjadi agama minoritas di sebagian besar negara di Benua Biru.
Seperti yang diungkapkan mahasiswa S3 jurusan Philosophy of Religion Dublin City University, Irlandia, Gugun Gumilar. Ia mengungkapkan bagaimana rasanya merayakan Ramadhan di Eropa.
Baca juga: Perbatasan Arab Saudi-Yaman bak ‘Kota Mati’ Saat Ramadhan
Direktur Institute of Democracy and Education (IDE) Indonesia yang menjalani Ramadhan tahun ini dengan penuh keprihatinan. Sebab, ia baru saja ditinggal oleh sang ibunda tercinta.
"Tahun ini sangat-sangat prihatin, Ramadhan di Inggris, harus berjuang di tahun terakhir, semuanya harus serba mandiri, harus terus berlanjut kehidupan ini. Jadi Ramadhan tahun ini di Inggris sangat berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya," ujar Gugun kepada Langit7, Sabtu (9/4/2022).
Secara umum di Inggris, kehidupan sudah kembali seperti biasa. Di mana masyarakat sudah tidak lagi mengenakan masker saat bepergian. Sekolah pun sudah dibuka dan masjid-masjid sudah membuka pintunya untuk shalat tarawih.
Namun, kondisi tersebut berbeda dengan umat Muslim yang tinggal di negara-negara Eropa. Di mana Islam menjadi agama minoritas di sebagian besar negara di Benua Biru.
Seperti yang diungkapkan mahasiswa S3 jurusan Philosophy of Religion Dublin City University, Irlandia, Gugun Gumilar. Ia mengungkapkan bagaimana rasanya merayakan Ramadhan di Eropa.
Baca juga: Perbatasan Arab Saudi-Yaman bak ‘Kota Mati’ Saat Ramadhan
Direktur Institute of Democracy and Education (IDE) Indonesia yang menjalani Ramadhan tahun ini dengan penuh keprihatinan. Sebab, ia baru saja ditinggal oleh sang ibunda tercinta.
"Tahun ini sangat-sangat prihatin, Ramadhan di Inggris, harus berjuang di tahun terakhir, semuanya harus serba mandiri, harus terus berlanjut kehidupan ini. Jadi Ramadhan tahun ini di Inggris sangat berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya," ujar Gugun kepada Langit7, Sabtu (9/4/2022).
Secara umum di Inggris, kehidupan sudah kembali seperti biasa. Di mana masyarakat sudah tidak lagi mengenakan masker saat bepergian. Sekolah pun sudah dibuka dan masjid-masjid sudah membuka pintunya untuk shalat tarawih.