LANGIT7.ID - , Jakarta - Menjalankan puasa Ramadhan di Indonesia tentu sangat menyenangkan. Tidak hanya karena dapat berkumpul dengan keluarga, suasana yang terasa lebih hidup dan durasi berpuasa yang pendek, sekitar 14 jam.
Namun, kondisi tersebut berbeda dengan umat Muslim yang tinggal di negara-negara Eropa. Di mana Islam menjadi agama minoritas di sebagian besar negara di Benua Biru.
Seperti yang diungkapkan mahasiswa S3 jurusan Philosophy of Religion Dublin City University, Irlandia, Gugun Gumilar. Ia mengungkapkan bagaimana rasanya merayakan Ramadhan di Eropa.
Baca juga: Perbatasan Arab Saudi-Yaman bak ‘Kota Mati’ Saat RamadhanDirektur Institute of Democracy and Education (IDE) Indonesia yang menjalani Ramadhan tahun ini dengan penuh keprihatinan. Sebab, ia baru saja ditinggal oleh sang ibunda tercinta.
"Tahun ini sangat-sangat prihatin, Ramadhan di Inggris, harus berjuang di tahun terakhir, semuanya harus serba mandiri, harus terus berlanjut kehidupan ini. Jadi Ramadhan tahun ini di Inggris sangat berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya," ujar Gugun kepada Langit7, Sabtu (9/4/2022).
Secara umum di Inggris, kehidupan sudah kembali seperti biasa. Di mana masyarakat sudah tidak lagi mengenakan masker saat bepergian. Sekolah pun sudah dibuka dan masjid-masjid sudah membuka pintunya untuk shalat tarawih.
"Untuk shalat tarawih sudah tidak ada jaga jarak, sudah normal," ucapnya.
Selain longgarnya aturan pandemi, Gugun juga menceritakan Ramadhan di musim semi yang cuacanya cenderung hangat namun sering turun hujan. Perubahan suhu ini diakui Gugun membuat bibir menjadi cepat kering.
Terlepas dari perbedaan cuaca dan suhu, durasi berpuasa pun menjadi pengalaman baru bagi Gugun. Ia menceritakan, puasa di Inggris memakan waktu lebih dari 14 jam, berbeda dengan Indonesia.
"Kami disini rata-rata sahur jam 4 pagi, dan berbuka jam 8 malam, tapi ada juga yang jam 8.30 bukanya, jadi tergantung wilayahnya. Yang pasti kita di sini suka cita, lancar semuanya kegiatan," ungkapnya.
Lebih lanjut, pria yang pernah menempuh pendidikan S2 di Hartford International University, jurusan Religious Studies, di Amerika Serikat ini menceritakan kisahnya ketika ngabuburit di Inggris.
"Kalau ngabuburit di sini, saya paling di kampus membaca Al-Quran, terus menulis karena sudah tingkat akhir atau jalan-jalan bersama keluarga sambil beli makanan dan lainnya," tuturnya.
Mengalami pengalaman baru berpuasa di negeri orang, tak lantas membuat Gugun lupa akan Indonesia. Bahkan, dirinya mengaku kangen dengan makanan Indonesia yang identik ditemui bulan Ramadhan seperti kolak, bala-bala, hingga sop buah.
Baca juga: Keteladanan Klub Liga Inggris Hormati Pemain Muslim di Bulan Ramadhan"Biasanya saya dan keluarga cara mengatasinya dengan buat sendiri," katanya.
Selain makanan, Gugun juga rindu dengan hidupnya suasana Ramadhan di Indonesia. Semua kegiatan bisa dilakukan bersama-sama atau berjamaah. Berbeda dengan di Inggris, di mana aturannya benar-benar harus menghormati tetangga.
"Masjid maupun gereja itu suaranya benar-benar harus menghormati tetangga. Di Indonesia itu kita selalu dengar suara dimana-mana, apalagi dalam suasana Ramadhan jadi terasa hidup. Di sini itu benar-benar kita khidmat, artinya sendiri-sendiri, mengaji sendiri, shalat bareng keluarga di masjid dan lainnya," pungkasnya.
(est)