Rantangan, Cara Warga Betawi Pererat Silaturahmi di Hari Lebaran
Fajar adhitya
Senin, 02 Mei 2022 - 08:00 WIB
Tradisi silaturahmi di hari lebaran. (Foto: Istimewa).
Banyak cara untuk mempererat tali silaturahmi di hari lebaran Idul Fitri. Bagi masyarakat Betawi, tradisi yang biasa dilakukan disebut Rantangan atau berbagi makanan.
Disebut rantangan berangkat dari cara mengirim makanan yang disajikan dalam rantang, panci bersusun dan bertutup untuk tempat makanan. Saat lebaran, masyarakat saling mengunjungi keluarga, kerabat, guru sambil menenteng rantang.
Dalam rantang, terdapat berbagai makanan tradisional, buah-buahan, sayur, maupun lauk pauk. Rantang paling bawah diisi sayur sambal godog atau semur daging kebo atau gulai, kedua diisi nasi atau ketupat, ketiga dan seterusnya diisi kue-kue (dodol, uli, wajik atau geplak).
“Karena sudah terbiasa kunjung-mengunjung menenteng rantang, maka orang menyebut di masyarakat Betawi ada tradisi rantangan. Bisa jadi ini benar, karena kebiasaan ini sudah diamalkan atau dilakukan turun-temurun,” kata Budayawan Betawi Yahya Andi Saputra dikutip aman Kebudayaan Betawi.
Baca Juga: H-3 Lebaran, Jasa Marga: 1,3 Juta Kendaraan Tinggalkan Jabotabek
Tradisi Rantangan dilakukan untuk menjaga tali silaturahmi antar keluarga dan kerabat. Makanan yang dibawa dalam rantang pun memiliki simbol-simbol tersendiri yang menggambarkan simbol kekuatan persaudaraan, hingga simbol rasa sayang, rasa hormat, dan rasa terima kasih.
Saat ini, tradisi Rantangan sudah semakin dilupakan dengan alasan kepraktisan. Beberapa perlengkapan untuk mengantar makanan, yakni rantang, tenong, dan besek karena sulit didapat dan rusak.
Disebut rantangan berangkat dari cara mengirim makanan yang disajikan dalam rantang, panci bersusun dan bertutup untuk tempat makanan. Saat lebaran, masyarakat saling mengunjungi keluarga, kerabat, guru sambil menenteng rantang.
Dalam rantang, terdapat berbagai makanan tradisional, buah-buahan, sayur, maupun lauk pauk. Rantang paling bawah diisi sayur sambal godog atau semur daging kebo atau gulai, kedua diisi nasi atau ketupat, ketiga dan seterusnya diisi kue-kue (dodol, uli, wajik atau geplak).
“Karena sudah terbiasa kunjung-mengunjung menenteng rantang, maka orang menyebut di masyarakat Betawi ada tradisi rantangan. Bisa jadi ini benar, karena kebiasaan ini sudah diamalkan atau dilakukan turun-temurun,” kata Budayawan Betawi Yahya Andi Saputra dikutip aman Kebudayaan Betawi.
Baca Juga: H-3 Lebaran, Jasa Marga: 1,3 Juta Kendaraan Tinggalkan Jabotabek
Tradisi Rantangan dilakukan untuk menjaga tali silaturahmi antar keluarga dan kerabat. Makanan yang dibawa dalam rantang pun memiliki simbol-simbol tersendiri yang menggambarkan simbol kekuatan persaudaraan, hingga simbol rasa sayang, rasa hormat, dan rasa terima kasih.
Saat ini, tradisi Rantangan sudah semakin dilupakan dengan alasan kepraktisan. Beberapa perlengkapan untuk mengantar makanan, yakni rantang, tenong, dan besek karena sulit didapat dan rusak.