LANGIT7.ID, Jakarta - Banyak cara untuk mempererat tali silaturahmi di hari
lebaran Idul Fitri. Bagi masyarakat Betawi, tradisi yang biasa dilakukan disebut Rantangan atau berbagi makanan.
Disebut rantangan berangkat dari cara mengirim makanan yang disajikan dalam rantang, panci bersusun dan bertutup untuk tempat makanan. Saat
lebaran, masyarakat saling mengunjungi keluarga, kerabat, guru sambil menenteng rantang.
Dalam rantang, terdapat berbagai makanan tradisional, buah-buahan, sayur, maupun lauk pauk. Rantang paling bawah diisi sayur sambal godog atau semur daging kebo atau gulai, kedua diisi nasi atau ketupat, ketiga dan seterusnya diisi kue-kue (dodol, uli, wajik atau geplak).
“Karena sudah terbiasa kunjung-mengunjung menenteng rantang, maka orang menyebut di masyarakat Betawi ada tradisi rantangan. Bisa jadi ini benar, karena kebiasaan ini sudah diamalkan atau dilakukan turun-temurun,” kata Budayawan Betawi Yahya Andi Saputra dikutip aman Kebudayaan Betawi.
Baca Juga: H-3 Lebaran, Jasa Marga: 1,3 Juta Kendaraan Tinggalkan JabotabekTradisi Rantangan dilakukan untuk menjaga tali silaturahmi antar keluarga dan kerabat. Makanan yang dibawa dalam rantang pun memiliki simbol-simbol tersendiri yang menggambarkan simbol kekuatan persaudaraan, hingga simbol rasa sayang, rasa hormat, dan rasa terima kasih.
Saat ini, tradisi Rantangan sudah semakin dilupakan dengan alasan kepraktisan. Beberapa perlengkapan untuk mengantar makanan, yakni rantang, tenong, dan besek karena sulit didapat dan rusak.
“Saat lebaran, mengantar makanan atau buah dengan besek dan bongsang biasanya wadah itu nggak dibawa pulang. Dulu wadah itu banyak dan mudah didapat. Rantang dan tenong yang harus dibawa pulang. Sering pula rantang itu diisi lagi oleh orang yang kita kunjungi. Bertukar kue. Datang berisi, pulang berisi. Balik modal,” kata Yahya.
Kini, tradisi rantangan yang biasa melibatkan makanan jadi yang dimasak sendiri mulai tergantikan. Masyarakat Betawi tidak lagi membagikan makanan yang dibuat sendiri dalam rantangan, tapi membagikan sembako dan uang.
(bal)