Sejarah Segitiga Pilar NU di Jombang: Pesantren Tebuireng, Tambakberas dan Denanyar
Muhammad Hamzah Aryanto
Selasa, 29 Juni 2021 - 19:05 WIB
Tiga pendiri NU asal Jombang, Hadratus Syaikh KH Hasyim Asyari (tengah), KH Abdul Wahab Chasbullah (kiri), dan KH Bisri Syansuri (kanan). (Sumber : NU Online)
Kabupaten Jombang sebagai tempat berdirinya Nahdlatul Ulama Ormas Islam terbesar di Indonesia menyimpan banyak sejarah. Terlebih sebagai Kota Santri, pesantren-pesantren di Jombang punya banyak sejarah terkait berdirinya Nahdlatul Ulama. Terdapat tiga pesantren utama di Jombang yang dikenal sebagai segitiga pilar dari Nahdlatul Ulama yaitu Pondok Pesantren Tebuireng, Tambakberas dan Denanyar.
Tiga Kiai pendiri NU berasal dari pesantren ini yaitu Hadratus Syaikh KH Hasyim Asy’ari berasal dari Pesantren Tebuireng, KH Abdul Wahab Hasbullah berasal dari Pesantren Tambakberas dan KH Bisri Syansuri berasal dari Pesantren Denanyar.
Untuk mengetahui lebih dalam sejarah masing-masing pesantren, berikut ulasannya.
Pesantren Tebuireng
Pondok Pesantren Tebuireng didirikan oleh KH Hasyim Asy'ari pada tahun 1899 M, setelah Kiai Hasyim pulang dari pengembaraannya menuntut ilmu di berbagai pondok pesantren dan di tanah Mekkah. Tebuireng didirikan dalam rangka mendakwahkan ilmu yang telah diperolehnya.
Dulu, Dusun Tebuireng sempat dikenal sebagai sarang perjudian, perampokan, pencurian, pelacuran dan perilaku negatif lainnya. Namun sejak kedatangan KH Hasyim Asy’ari dan santri-santrinya, secara bertahap pola kehidupan masyarakat dusun tersebut berubah semakin baik dan perilaku negatif masyarakat di Tebuireng pun terkikis habis.
Tiga Kiai pendiri NU berasal dari pesantren ini yaitu Hadratus Syaikh KH Hasyim Asy’ari berasal dari Pesantren Tebuireng, KH Abdul Wahab Hasbullah berasal dari Pesantren Tambakberas dan KH Bisri Syansuri berasal dari Pesantren Denanyar.
Untuk mengetahui lebih dalam sejarah masing-masing pesantren, berikut ulasannya.
Pesantren Tebuireng
Pondok Pesantren Tebuireng didirikan oleh KH Hasyim Asy'ari pada tahun 1899 M, setelah Kiai Hasyim pulang dari pengembaraannya menuntut ilmu di berbagai pondok pesantren dan di tanah Mekkah. Tebuireng didirikan dalam rangka mendakwahkan ilmu yang telah diperolehnya.
Dulu, Dusun Tebuireng sempat dikenal sebagai sarang perjudian, perampokan, pencurian, pelacuran dan perilaku negatif lainnya. Namun sejak kedatangan KH Hasyim Asy’ari dan santri-santrinya, secara bertahap pola kehidupan masyarakat dusun tersebut berubah semakin baik dan perilaku negatif masyarakat di Tebuireng pun terkikis habis.