LANGIT7.ID - Kabupaten Jombang sebagai tempat berdirinya Nahdlatul Ulama Ormas Islam terbesar di Indonesia menyimpan banyak sejarah. Terlebih sebagai Kota Santri, pesantren-pesantren di Jombang punya banyak sejarah terkait berdirinya Nahdlatul Ulama. Terdapat tiga pesantren utama di Jombang yang dikenal sebagai segitiga pilar dari Nahdlatul Ulama yaitu Pondok Pesantren Tebuireng, Tambakberas dan Denanyar.
Tiga Kiai pendiri NU berasal dari pesantren ini yaitu Hadratus Syaikh KH Hasyim Asy’ari berasal dari Pesantren Tebuireng, KH Abdul Wahab Hasbullah berasal dari Pesantren Tambakberas dan KH Bisri Syansuri berasal dari Pesantren Denanyar.
Untuk mengetahui lebih dalam sejarah masing-masing pesantren, berikut ulasannya.
Pesantren Tebuireng
![Sejarah Segitiga Pilar NU di Jombang: Pesantren Tebuireng, Tambakberas dan Denanyar]()
Pondok Pesantren Tebuireng didirikan oleh KH Hasyim Asy'ari pada tahun 1899 M, setelah Kiai Hasyim pulang dari pengembaraannya menuntut ilmu di berbagai pondok pesantren dan di tanah Mekkah. Tebuireng didirikan dalam rangka mendakwahkan ilmu yang telah diperolehnya.
Dulu, Dusun Tebuireng sempat dikenal sebagai sarang perjudian, perampokan, pencurian, pelacuran dan perilaku negatif lainnya. Namun sejak kedatangan KH Hasyim Asy’ari dan santri-santrinya, secara bertahap pola kehidupan masyarakat dusun tersebut berubah semakin baik dan perilaku negatif masyarakat di Tebuireng pun terkikis habis.
Seiring dengan perjalanan waktu, santri yang berdatangan menimba ilmu semakin banyak dan beragam. Kondisi tersebut telah mendorong Pondok Pesantren Tebuireng beberapa kali telah melakukan perubahan kebijakan yang berkaitan dengan pendidikan.
Sebagaimana pesantren-pesantren pada zaman pendiriannya, sistem pengajaran awal yang digunakan adalah metode
sorogan di mana santri membaca sendiri materi pelajaran kitab kuning di hadapan Kiai. Lalu metode
wetonan atau
bandongan, di mana Kiai membaca kitab dan para santri memberi makna.
Semua bentuk pengajaran tersebut tidak dibedakan dalam jenjang kelas. Kenaikan tingkat pendidikan dinyatakan dengan bergantinya kitab yang
khatam dikaji dan diikuti santri. Materi pelajarannya pun khusus berkisar tentang pengetahuan agama Islam, ilmu
syari’at dan bahasa Arab.
Perubahan sistem pendidikan di pesantren ini pertama kali diadakan KH Hasyim Asy’ari pada tahun 1919, yaitu dengan penerapan sistem madrasi atau klasikal dengan mendirikan
Madrasah Salafiyah Syafi’iyah. Sistem pengajaran disajikan secara berjenjang dalam dua tingkat, yakni
Shifir Awal dan
Shifir Tsani.
Kemudian pada tahun 1929, kembali dilakukan pembaharuan yaitu dengan dimasukkannya pelajaran umum ke dalam struktur kurikulum pengajaran. Hal tersebut adalah suatu tindakan yang belum pernah ditempuh oleh pesantren lain pada waktu itu. Bahkan sempat muncul reaksi dari para wali santri, bahkan para ulama dari pesantren lain.
Hal demikian dapat dimaklumi mengingat pelajaran umum saat itu dianggap sebagai kemungkaran, budaya Belanda dan semacamnya. Hingga terdapat wali santri yang sampai memindahkan putranya ke pondok lain. Namun, madrasah ini berjalan terus karena Pondok Pesantren Tebuireng beranggapan bahwa ilmu umum akan sangat diperlukan bagi para lulusan pesantren.
Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas
![Sejarah Segitiga Pilar NU di Jombang: Pesantren Tebuireng, Tambakberas dan Denanyar]()
Pesantren Tambakberas Jombang merupakan salah satu pondok pesantren tertua dan terbesar di Jawa Timur. Hingga sekarang pondok ini masih bertahan di tengah kecenderungan kuat sistem pendidikan modern.
Pondok Pesantren Bahrul Ulum (PPBU) didirikan oleh KH Abdus Salam seorang keturunan Raja Majapahit, pada tahun 1838 M di desa Tambakberas, 5 km arah utara Kota Jombang Jawa Timur.
Banyak cerita yang mengisahkan secara kronologis bahwa Kiai Abdus Salam yang seorang keturunan ningrat, bisa sampai ke desa kecil yang kala itu masih berupa hutan belantara penuh dengan binatang buas dan dikenal sebagai daerah angker. Dalam kisah tersebut, Kiai Abdus Salam meninggalkan kampung halamannya menuju Tambakberas untuk bersembunyi menghindari kejaran tentara Belanda.
Bersama pengikutnya, ia membangun perkampungan santri dengan mendirikan sebuah langgar dan tempat pondokan sementara untuk 25 orang pengikutnya. Oleh karena itu pondok pesantren ini pada awalnya juga dikenal sebagai Pondok
Selawe yang berarti dua puluh lima.
Perkembangan pondok pesantren ini mulai menonjol saat kepemimpinan pesantren dipegang oleh KH Wahab Hasbullah, cicit Kiai Abdus Salam. Setelah kembali dari belajar di Mekkah, ia segera melakukan revitalisasi pondok pesantren.
Pertama kali yang didirikan adalah madrasah yang diberi nama
Madrasah Mubdil Fan. Ia juga membentuk kelompok diskusi
Taswirul Afkar dan mendirikan organisasi
Nahdlatul Wathon yang kemudian dideklarasikan sebagai organisasi keagamaan dengan nama Nahdlatul Ulama (NU). Deklarasi itu ia lakukan bersama dengan KH. Hasyim Asy’ari dan KH Bisri Syansuri serta ulama lain pada tahun 1926.
Hari ini, Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang terus melakukan pengembangan dan perubahan seiring dengan dinamika perkembangan dan tuntutan global, dengan tetap mempertahankan nilai-nilai luhur kepesantrenan, berpegang pada prinsip
al-muhafadhah ‘al al-qadim al-shalih wa al-akhdhu bi al-jadid al-ashlah yang bermakna senantiasa berusaha menjaga tradisi yang bernilai baik dan menjadi pesantren yang terbuka terhadap sesuatu yang datang dari luar dan dinilai dapat bermanfaat bagi kemajuan pesantren. Prinsip tersebut tentunya dilakukan dengan berpegang kepada Aqidah
Ahlussunnah Wal-Jama’ah ala NU.
Salah satu upaya yang telah dilakukan di tengah kecenderungan kuat sistem pendidikan formal, Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang hingga saat ini telah mendirikan 18 unit pendidikan formal mulai dari tingkat pra sekolah sampai dengan perguruan tinggi.
Selain itu, Pesantren Bahrul Ulum juga menjalin kerjasama dalam bidang pendidikan dengan perguruan tinggi dalam dan luar negeri diantaranya adalah Makkah, Syiria, dan Al-Azhar Kairo.
Secara struktural, pesantren ini berada di bawah naungan Yayasan Pondok Pesantren Bahrul Ulum. Yayasan ini berdiri sejak tahun 1966 melalui Akte Notaris nomor 03 tanggal 06 September 1966.
Pesantren Denanyar
![Sejarah Segitiga Pilar NU di Jombang: Pesantren Tebuireng, Tambakberas dan Denanyar]()
Pondok Pesantren Denanyar dirintis oleh KH Bisri Syansuri atau akrab disapa Mbah Bisri. sekitar tahun 1917. Beliau adalah ulama kelahiran Jawa Tengah. Seusai menimba ilmu agama di berbagai Pondok Pesantren, Kiai Bisri mendirikan ponpes di Desa Denanyar.
Pada awal berdirinya, santri dari Kiai Bisri hanya empat orang. Mereka tinggal di surau yang didirikan Kiai Bisri dengan jalan menyekat sebagian ruang langgar untuk kamar tempat tinggal mereka.
Sistem pendidikan yang digunakan masih bersifat
sorogan dan dilakukan Kiai Bisri secara tekun selama dua tahun. Pada waktu itu KH Bisri Syansuri hanya menyediakan tempat untuk santri putra. Karena, santri putra dianggap cukup kuat untuk digembleng secara fisik.
Kala itu, penjajah tidak hanya dianggap telah menjajah secara ekonomi tapi juga secara kultur. Penjajah telah membawa budaya barat yang berbeda dengan budaya setempat yang lambat laun dapat mempengaruhi masyarakat setempat. Secara moral masyarakat setempat dianggap telah bobrok akhlaknya, kekejaman di mana-mana, moral para wanita menjadi rusak, wanita menjadi binal dan tak mau menerima bimbingan ulama.
Oleh karena itu pondok pesantren berusaha membentengi santrinya dari pengaruh budaya yang dapat merusak akhlak. Pembinaan akhlak santri ditanamkan bahkan sampai cara berpakaian pun harus berbeda dengan penjajah dan pengikut-pengikutnya. Kemudian semakin hari pembinaan akhlak di pesantren semakin dapat dirasakan oleh masyarakat dan PP Mambaul Ma’arif semakin di kenal oleh masyarakat luas.
Beberapa tahun kemudian KH Bisri Syansuri dan istrinya Nyai Hj Chodidjah membuat keputusan berani dengan membuka kelas khusus perempuan sekitar tahun 1927 di Pondok Pesantren Denanyar. Langkah ini adalah yang pertama di kawasan Jawa Timur. Santrinya adalah anak tetangga sekitar, yang diajar di beranda belakang rumah KH Bisri Syansuri sendiri. Langkah penting ini adalah percobaan pertama di lingkungan pesantren untuk memberikan pendidikan sistematis kepada anak-anak perempuan dan para muslimah.
Langkah yang demikian dianggap kurang sesuai di mata ulama kala itu, sehingga hal tersebut tidak luput dari pengamatan guru Kiai Bisri,
Hadratus Syaikh KH Hasyim Asy’ari, sehingga pada suatu hari sang guru datang melihat sendiri perkembangan yang terjadi di pesantren muridnya itu.
Walaupun tidak memperoleh izin spesifik dari sang guru, KH. Bisri Syansuri memilih melanjutkan pengajaran itu, karena tidak ada larangan langsung dari sang guru, KH Hasyim Asy’ari. Ketetapan hatinya untuk meneruskan percobaan adalah suatu perubahan sikap cukup besar dalam diri KH Bisri Syansuri. Diterimanya perempuan menjadi santri dalam sebuah pesantren, waktu itu bukanlah hal yang lazim dan tidak pernah terjadi sebelumnya. Perlahan namun pasti pesantren yang diasuh oleh Bisri mengalami perkembangan cukup pesat.
Sebagai kelanjutan dari sistem pendidikan dasar, maka harus ada pendidikan lanjutan. Maka pada tahun 1925, dibukalah
Madrasah Tsanawiyah Putra. Disusul dengan Madrasah Tsanawiyah Putri pada tahun 1958. Kemudian, pada tahun 1962 dibuka
Madrasah Aliyah Putra Putri.
Akhirnya berdasarkan SK Menteri Agama RI No. 24 tahun1969, lembaga
Madrasah Tsanawiyah dan
Aliyah yang sebelumnya masih berstatus swasta menjadi negeri, yaitu MTsN dan MAN.
Tetapi sebagai upaya untuk terus meningkatkan pengembangan institusi pendidikan masa kini dan masa depan, maka didirikanlah
Madrasah Tsanawiyah Mambaul Ma’arif (status swasta) tahun 1993. Kemudian
Madrasah Aliyah Mambaul Ma’arif (status swasta) pada tahun 2000. Dengan menggunakan sistem kurikulum terpadu yang mengacu pada kurikulum tetap dan kurikulum pesantren dengan spesifikasi ilmu-ilmu agama, bahasa Arab, bahasa Inggris. Ada juga sekolah kejuruan dengan nama SMK Bisri Syansuri yang mulai dibuka pada tahun 1999. Disamping itu, Yayasan
Mambaul Ma’arif juga mendirikan institusi pendidikan penunjang sebagai peletak tata nilai Islam dalam mengembangkan dan mengaplikasikan ilmu pengetahuan. Diantaranya : Taman Pendidikan Al Qur’an (TPQ),
Madrasah Diniyah serta lembaga Bahasa Arab dan Inggris (LBAI).
Segitiga Pilar NU Tiga Pesantren ini disebut sebagai Segitiga Pilar Nahdlatul Ulama bukan hanya karena ketiga Kiainya merupakan pendiri NU. Namun juga karena ketiganya masih memiliki relasi sebagai sanak famili. Antara KH Hasyim Asy’ari dan KH Wahab Hasbullah adalah sepupu, ibu dua Kiai ini yakni Nyai Lathifah dan Nyai Halimah adalah kakak beradik. Kemudian KH Bisri Syansuri diambil menantu oleh Kiai Hasbullah yang merupakan ayah KH Wahab Hasbullah, artinya antara Kiai Bisri dan Kiai Wahab adalah ipar. Sementara putra KH Hasyim Asy’ari menikahkan putranya KH Abdul Wahid Hasyim dengan putri Kiai Bisri Syansuri.
Tiga Kiai ini disebut sebagai pendiri NU karena ketiganya adalah di antara yang berperan paling signifikan pada awal pembentukan NU. Juga karena ketiga kiai ini adalah pimpinan tertinggi di NU secara berurutan. KH Hasyim Asy’ari adalah pemimpin tertinggi NU yang pertama, sebagai Rais Akbar. Beliau wafat digantikan oleh KH Abdul Wahab Hasbullah, dan ketika wafat digantikan KH Bisri Syansuri, dengan jabatan tertinggi di NU sebagai Rais 'Aam.
Sumber: NU Online, Tebuireng Online, Tambakberas.com , Ponpesmama.org dan berbagai sumber(jqf)