Kisah Petani Kurma yang Jual Kebun karena Tak Khusyuk Shalat
Fajar adhitya
Ahad, 01 Agustus 2021 - 18:55 WIB
Kondisi kebun kurma yang luas. (Foto: TFA Manasek).
Seorang petani yang berasal dari kaum Anshar melihat-lihat dan mengagumi kebun kurmanya di Madinah yang luas dan lebat. Dedaunannya menari ke sana kemari tertiup angin, kurma-kurma ranum yang siap dipetik.
Namun lamunannya kemudian buyar saat adzan Ashar berkumandang. Pria tersebut bergegas berwudhu untuk mendirikan shalat. Namun di tengah-tengah ibadah, dia lupa rakaat shalatnya, karena memikirkan buah-buah kurma dari kebunnya itu.
"Buah kurma ini telah mengganggu ketenanganku dalam shalat," kata pria itu.
Kemudian dia pun berkunjung ke Khalifah Utsman bin Affan untuk meminta nasihat. Khalifah mendengarkan cerita pria itu tentang kebun kurmanya yang lebat dan kekhusyukkan shalatnya yang terganggu.
"Menurutku, sedekahkan saja kebun itu di jalan kebaikan," saran Khalifah Utsman.
Pria itu menerima saran Khalifah dan menyerahkan kebunnya yang dia baru saja kagumi. Khalifah Utsman lalu membeli kebun tersebut dengan harga 50.000 dinar.
Kisah ini diceritakan Abdullah bin Abu Bakar. Kondisi ini menggambarkan kualitas Muslimin di masa kekhalifahan Utsman bin Affan, baik dari kesalihan maupun kekayaan. Mereka rela melepas kekayaan sebagai hukuman kelalaian beribadah.
Namun lamunannya kemudian buyar saat adzan Ashar berkumandang. Pria tersebut bergegas berwudhu untuk mendirikan shalat. Namun di tengah-tengah ibadah, dia lupa rakaat shalatnya, karena memikirkan buah-buah kurma dari kebunnya itu.
"Buah kurma ini telah mengganggu ketenanganku dalam shalat," kata pria itu.
Kemudian dia pun berkunjung ke Khalifah Utsman bin Affan untuk meminta nasihat. Khalifah mendengarkan cerita pria itu tentang kebun kurmanya yang lebat dan kekhusyukkan shalatnya yang terganggu.
"Menurutku, sedekahkan saja kebun itu di jalan kebaikan," saran Khalifah Utsman.
Pria itu menerima saran Khalifah dan menyerahkan kebunnya yang dia baru saja kagumi. Khalifah Utsman lalu membeli kebun tersebut dengan harga 50.000 dinar.
Kisah ini diceritakan Abdullah bin Abu Bakar. Kondisi ini menggambarkan kualitas Muslimin di masa kekhalifahan Utsman bin Affan, baik dari kesalihan maupun kekayaan. Mereka rela melepas kekayaan sebagai hukuman kelalaian beribadah.
(bal)