LANGIT7.ID-Bagi komunitas Yahudi di masa awal Islam, keberadaan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam adalah dinding tebal yang tak tertembus. Karisma dan bimbingan wahyu yang melekat pada beliau menutup rapat celah makar. Namun, sejarah mencatat babak baru yang kelam segera setelah fajar kenabian itu surut. Wafatnya Rasulullah dipandang sebagai momentum emas untuk menjalankan skenario memalingkan kaum muslimin dari agamanya dengan cara yang lebih rapi, terstruktur, dan mematikan.
Tipu daya ini tidak lagi dilakukan lewat konfrontasi terbuka di medan laga, melainkan melalui infiltrasi ke dalam struktur sosial dan pemikiran. Kehilangan figur sentral pemersatu, akumulasi pengalaman dari kegagalan masa lalu, hingga taktik "pura-pura beriman" untuk menjadi mata-mata, menjadi modal utama mereka. Penelusuran literatur sejarah mengungkap tiga fragmen besar yang menjadi tonggak keberhasilan makar ini.
Prahara di Rumah Sang Dzun NurainPintu fitnah pertama terbuka lebar melalui peristiwa pembunuhan Khalifah Utsman bin Affan Radhiyallahu anhu. Di balik kekacauan sosiopolitik itu, muncul nama Abdullah bin Saba, atau yang dikenal sebagai Ibnu Sauda. Tokoh Yahudi asal Yaman ini melakukan infiltrasi dengan jubah keislaman, lalu menyebarkan doktrin ekstrem yang memuja Ali bin Abi Thalib secara berlebihan sembari menghasut massa untuk membenci Utsman.
Inilah awal mula perpecahan internal yang melahirkan sekte-sekte menyimpang. Strategi Ibnu Saba berhasil menciptakan "bola salju" kekacauan yang puncaknya adalah tumpahnya darah sang khalifah di atas mushaf al-Quran. Sejarah mencatat, luka ini menjadi titik awal disintegrasi umat yang dampaknya masih terasa hingga milenium ketiga.
Sekte Bathiniyah: Perang di Wilayah PemikiranKeberhasilan Ibnu Saba memicu keberanian tokoh Yahudi lainnya. Pada tahun 276 Hijriah, muncul sosok Maimun bin Dishan al-Qadah di Kufah. Ia merupakan arsitek di balik berdirinya sekte Bathiniyah, sebuah gerakan esoteris yang mengajarkan bahwa syariat memiliki makna batin yang hanya diketahui segelintir orang.
Imam al-Baghdadi dalam kitab
Al-Farqu bainal Firaq menceritakan bahwa Maimun al-Qadah bersama rekannya membangun fondasi sekte ini di dalam penjara Irak. Targetnya bukan lagi fisik, melainkan penghancuran syariat. Gerakan ini menyebar luas, merusak tatanan moral hingga ke titik ekstrem di mana mereka menghalalkan hal-hal yang diharamkan Allah, termasuk pernikahan sesama mahram. Ini adalah upaya dekonstruksi agama dari dalam, sebuah virus pemikiran yang didesain untuk melumpuhkan imunitas akidah kaum muslimin.
Runtuhnya Payung Terakhir: Turki UtsmaniStrategi paling kolosal terjadi pada pengujung sejarah kekhilafahan. Orang-orang Yahudi menyadari bahwa sumber kekuatan umat Islam terletak pada persatuan di bawah satu kepemimpinan. Maka, target utama mereka adalah meruntuhkan Kekhilafahan Turki Utsmani. Upaya ini berlangsung sistematis selama empat abad.
Konspirasi ini melibatkan racun yang menewaskan Sultan Muhammad al-Fatih di tangan dokter Yahudi, Yaqub Basya, hingga intrik internal di masa Sultan Sulaiman al-Qanuni. Namun, pukulan telak baru datang melalui gerakan Masoniyah dan Yahudi ad-Dunamah—sebutan bagi kaum Yahudi yang secara lahiriah memeluk Islam namun batinnya tetap pada keyakinan lama.
Puncak dari makar ini adalah kemunculan Mushthafa Kamal Ataturk. Catatan sejarah merekam langkah-langkah sistematisnya: menghapus kesultanan pada 1922, meresmikan Republik Turki pada 1923, hingga penghapusan total lembaga kekhilafahan pada 2 Maret 1924. Dengan jatuhnya Turki Utsmani, "benteng" pelindung umat pun runtuh, menyisakan perpecahan dan negara-negara kecil yang lemah di bawah pengaruh ideologi sekuler.
Upaya mematikan ini selaras dengan peringatan dalam al-Quran:
مَنْ يَشَإِ اللَّهُ يُضْلِلْهُ وَمَنْ يَشَأْ يَجْعَلْهُ عَلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ"
Barang siapa yang dikehendaki Allah (dalam kesesatan), niscaya akan disesatkan-Nya. Dan barang siapa dikehendaki Allah (untuk diberi petunjuk), niscaya Dia menjadikannya berada di atas jalan yang lurus." (QS. al-An’am: 39).
Sejarah panjang makar ini memberikan pelajaran berharga bahwa permusuhan Yahudi terhadap Islam bersifat permanen dan adaptif. Mereka tidak akan pernah berhenti melakukan tipu daya (makar) hingga kaum muslimin kehilangan jati dirinya.
(mif)