Kenaikan Biaya Bahan Baku, Toyota Kehilangan Laba Capai 20 Persen
Ummu hani
Kamis, 12 Mei 2022 - 10:50 WIB
Interior salah satu pabrikan Toyota, yakni Toyota Sienta. Foto: Astra
Toyota Motor memperingatkan bahwa kenaikan biaya bahan baku dapat memotong seperlima dari laba setahun penuh. Untuk tahun fiskal saat ini, Toyota memperkirakan laba operasi akan turun sekitar 20 persen menjadi 2,4 triliun yen atau sekitar Rp268 triliun.
Sementara itu, analisis memperkirakan pendapatan akan naik 12 persen menjadi 3,36 yen atau sekitar Rp376 triliun. Seperti diberitakan Reuters,Toyota juga mencatatkan adanya penurunan 33 persen pada laba operasi kuartal keempat.
Baca Juga:Gaikindo: Penjualan Mobil di Maret 2022 Tertinggi Selama Dua Tahun Terakhir
Sahammereka pun merosot lebih dari 5 persen pada Rabu (11/5/2022), sebelum ditutup turun lebih dari 4 persen, penurunan terbesar perusahaan dalam dua bulan terakhir. Dengan demikian, kini Toyota tidak bisa lagi mengabaikan krisis rantai pasokan yang telah mengguncang industri.
Diketahui bahwa pada awal-awal krisis semikonduktor global, Toyota memiliki nasib baik berkat persediaan chip yang lebih besar. Namun, kini perusahaan juga harus memangkas produksi karena krisis yang berkepanjangan dan pembatasan wilayah akibat Covid-19 di China.
Toyota mengatakan, pihaknya memprediksi bahwa biaya bahan baku menjadi lebih dari dua kali lipat pada tahun fiskal yang dimulai pada April. Untuk itu, mereka berharap dapat hal itu dapat diatasi dengan beralih ke bahan yang biayanya lebih rendah.
Sementara itu, analisis memperkirakan pendapatan akan naik 12 persen menjadi 3,36 yen atau sekitar Rp376 triliun. Seperti diberitakan Reuters,Toyota juga mencatatkan adanya penurunan 33 persen pada laba operasi kuartal keempat.
Baca Juga:Gaikindo: Penjualan Mobil di Maret 2022 Tertinggi Selama Dua Tahun Terakhir
Sahammereka pun merosot lebih dari 5 persen pada Rabu (11/5/2022), sebelum ditutup turun lebih dari 4 persen, penurunan terbesar perusahaan dalam dua bulan terakhir. Dengan demikian, kini Toyota tidak bisa lagi mengabaikan krisis rantai pasokan yang telah mengguncang industri.
Diketahui bahwa pada awal-awal krisis semikonduktor global, Toyota memiliki nasib baik berkat persediaan chip yang lebih besar. Namun, kini perusahaan juga harus memangkas produksi karena krisis yang berkepanjangan dan pembatasan wilayah akibat Covid-19 di China.
Toyota mengatakan, pihaknya memprediksi bahwa biaya bahan baku menjadi lebih dari dua kali lipat pada tahun fiskal yang dimulai pada April. Untuk itu, mereka berharap dapat hal itu dapat diatasi dengan beralih ke bahan yang biayanya lebih rendah.