Ini Nasihat Ustaz Abdul Somad Soal Persatuan Umat di Tengah Perbedaan
Muhajirin
Kamis, 17 Maret 2022 - 10:55 WIB
Umat Islam selalu dihadapkan dengan perbedaan-perbedaan baik di bidang ilmu hadis hingga fikih, namun semua perbedaan lebur dalam shalat berjamaah. Foto: Istimewa
Da’i kondang Ustaz Abdul Somad (UAS) mengungkapkan cara mewujudkan persatuan umat Islam di tengah perbedaan. Umat Islam memang selalu dihadapkan dengan perbedaan-perbedaan. Mulai perbedaan di bidang ilmu hadis hingga perbedaan di bidang fikih.
Dia mencontohkan perbedaan di bidang fikih. Umat Islam mengenal empat mazhab (aliran) fikih yang telah disepakati yakni Mazhab Hanafi, Mazhab Maliki, Mazhab Syafi’i, dan Mazhab Hambali. Ulama-ulama yang berpegang pada mazhab tersebut tentu saling berbeda pendapat, namun mereka bersatu jika sudah berbicara masalah akidah.
Bahkan, kata dia, perbedaan pendapat di tubuh umat Islam sudah terjadi sejak Rasulullah SAW masih hidup. "Kita terbiasa dengan perbedaan sejak tahun pertama hijirah. Jadi, tinggal mengemasnya sehingga dapat disajikan kepada umat tidak dalam bentuk barang mentah, sehingga umat mampu dipersatukan," kata UAS dalam Acara Halal bi Halal JATTI untuk Mewujudkan Pesatuan Umat melalui akun Youtube UFS Official Channel.
UAS berpendapat, salah satu hal penting untuk menyatukan semua perbedaan itu menjadi persatuan umat adalah dengan adanya sosok pemimpin yang berdiri di atas semua golongan. Pemimpin yang demikian, kata dia, tidak memiliki kepentingan pribadi maupun kelompok, sehingga mampu merangkul semua kelompok. “Sehingga kita bersatu meski banyak perbedaan pendapat,” ucapnya.
Sosok ulama kelahiran Sumatera Utara itu mengutip sebuah ungkapan yang menyebut bahwa menyatukan buaya itu mudah, yang susah adalah mempersatukan pawang-pawang buaya. Jika semua pawang buaya semua bersatu, maka semua akan ikut bersatua.
Dia mengibaratkan, jika semua ulama, ustaz, hingga da’i mampu bersatu maka secara otomatis umat Islam akan bersatu. Umat Islam akan dianugerahi kelembutan hati untuk bersatu dan saling menerima perbedaan pendapat. Maka itu, dia mengajak semua ulama untuk merajut persatuan di tengah banyaknya perbedaan pendapat.
“Kalau terjadi konflik di antara para ustaz, maka jamaahnya lebih keras daripada ustaznya. Maka ketika mereka melihat kebersamaan itu, bagaimana menyikapi perbedaan, maka sesungguhnya umat Islam dengan sendirinya akan menyatu,” ucap UAS.
Dia mencontohkan perbedaan di bidang fikih. Umat Islam mengenal empat mazhab (aliran) fikih yang telah disepakati yakni Mazhab Hanafi, Mazhab Maliki, Mazhab Syafi’i, dan Mazhab Hambali. Ulama-ulama yang berpegang pada mazhab tersebut tentu saling berbeda pendapat, namun mereka bersatu jika sudah berbicara masalah akidah.
Bahkan, kata dia, perbedaan pendapat di tubuh umat Islam sudah terjadi sejak Rasulullah SAW masih hidup. "Kita terbiasa dengan perbedaan sejak tahun pertama hijirah. Jadi, tinggal mengemasnya sehingga dapat disajikan kepada umat tidak dalam bentuk barang mentah, sehingga umat mampu dipersatukan," kata UAS dalam Acara Halal bi Halal JATTI untuk Mewujudkan Pesatuan Umat melalui akun Youtube UFS Official Channel.
UAS berpendapat, salah satu hal penting untuk menyatukan semua perbedaan itu menjadi persatuan umat adalah dengan adanya sosok pemimpin yang berdiri di atas semua golongan. Pemimpin yang demikian, kata dia, tidak memiliki kepentingan pribadi maupun kelompok, sehingga mampu merangkul semua kelompok. “Sehingga kita bersatu meski banyak perbedaan pendapat,” ucapnya.
Sosok ulama kelahiran Sumatera Utara itu mengutip sebuah ungkapan yang menyebut bahwa menyatukan buaya itu mudah, yang susah adalah mempersatukan pawang-pawang buaya. Jika semua pawang buaya semua bersatu, maka semua akan ikut bersatua.
Dia mengibaratkan, jika semua ulama, ustaz, hingga da’i mampu bersatu maka secara otomatis umat Islam akan bersatu. Umat Islam akan dianugerahi kelembutan hati untuk bersatu dan saling menerima perbedaan pendapat. Maka itu, dia mengajak semua ulama untuk merajut persatuan di tengah banyaknya perbedaan pendapat.
“Kalau terjadi konflik di antara para ustaz, maka jamaahnya lebih keras daripada ustaznya. Maka ketika mereka melihat kebersamaan itu, bagaimana menyikapi perbedaan, maka sesungguhnya umat Islam dengan sendirinya akan menyatu,” ucap UAS.