home global news

Meneropong Kesehatan Mental dalam Organisasi

Rabu, 04 Agustus 2021 - 04:00 WIB
Pemerhati Human Capital Management, Muhamad Ali. Foto: LANGIT7.ID
Sakit membuat setiap diri kita makin sadar dan merasakan pentingnya kesehatan fisik. Pandemi Covid-19 membuat kombinasi pentingnya menjaga, tidak hanya fisik, tetapi juga psikis. Lalu, bagaimana organisasi --bisnis maupun birokrasi— mendeteksi status kesehatan yang tidak kasat mata ini?

Status kesehatan fisik dapat dilihat dan dirasakan oleh setiap orang. Apakah terdapat gangguan fisik atau tidak, orang itu sendirilah yang dapat merasakannya. Sementara, gangguan psikis, seringkali justru tidak dirasakan dan dipikirkan oleh orang yang mengalaminya. Orang-orang di sekelilingnyalah yang merasakan pertama kali efeknya.

Pandemi Covid-19 telah membuat batas ketahanan fisik kita ikut bobol dan memengaruhi cara berpikir dan mentalitas kita. Kita punya pandangan atau pengetahuan bersama bahwa Covid-19 adalah flu yang disebabkan oleh virus, dan fakta menunjukkan bahwa sakit yang diakibatkannya dapat disembuhkan. Namun, kenyataan bahwa virus ini telah menjadi pandemi global yang berkepanjangan telah membuat mentalitas setiap orang menjadi sangat letih.

Dan kalau kita lihat fenomenanya, gelombang kedua penularan virus ternyata telah membuat kita semua kian letih, lantaran harus menghadapi kematian yang semakin dekat. Lebih-lebih lagi, tidak ada satu negara pun yang dapat mengklaim bahwa metode ini paling berhasil, atau negara ini paling sukses menangani. Semuanya bersifat “trial and trial and trial”, dan kita berada pada kondisi yang relatif sama. Trial selalu berisiko pada kemungkinan error.

Semakin dekat orang-orang yang terpapar berasal dari lingkungan terdekat dengan diri kita masing-masing. Mulai dari lingkaran di dalam keluarga, lingkaran di dalam tempat kerja, sampai dengan lingkaran di sekeliling tempat tinggal kita. Artinya, kita makin menghadapi risiko semakin tinggi untuk dapat terpapar sewaktu-waktu, tanpa tahu lagi dari mana sumber virus berasal. Kondisi seperti itu tentu membawa tekanan mental yang semakin besar. Belum lagi ketika orang-orang di dalam lingkaran terdekat itu tidak dapat terselamatkan dan akhirnya berpulang akibat terpapar Covid-19.

Kesehatan Mental

Kondisi fisik itu terbatas, tetapi mentalitas tidak. Fisik bisa saja lemah, tetapi psikislah yang menjadi sumber penentu apakah fisik kita menjadi kuat atau melemah. Maka, mentalitas, posisinya justru lebih penting dalam situasi tekanan seperti pandemi saat ini.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Topik Terkait :
kesehatan mental human capital management muhamad ali kesehatan pandemi
Berita Terkait
Berita Lainnya
berita lainnya