IDEAS: 7,8 Juta Perokok Miskin Alami Kerawanan Pangan Hingga Kelaparan
Redaksi
Selasa, 31 Mei 2022 - 23:50 WIB
Ilustrasi (foto: langit7.id/istock)
Lembaga Riset Institute For Demographic and Poverty Studies (IDEAS) menemukan fenomena yang mengkhawatirkan dimana 7,8 juta perokok miskin terkonfirmasi pernah mengalami kerawanan pangan, dari derajat ringan hingga parah.
Kerawanan pangan ringan terkonfirmasi di 5,6 juta perokok yang mengaku pernah tidak bisa makan makanan sehat dan bergizi karena kekurangan uang. Kerawanan pangan menengah, dimana individu pernah mengalami kehabisan persediaan pangan, terkonfirmasi di 1,6 juta perokok.
“Bahkan, kerawanan pangan parah juga terkonfirmasi dimana individu telah mulai mengalami kondisi kelaparan. Sebesar 640 ribu perokok pernah tidak makan sepanjang hari karena tidak memiliki uang,” ungkap Fajri Azhari, PenelitiIDEAS dalam keterangan tertulisnya kepada LANGIT7.ID pada Hari Tanpa Tembakau Sedunia (HTTS), Selasa (31/5/2022).
Baca Juga: DPR Minta Pemerintah Antisipasi Peredaran Rokok Ilegal
Dengan laki-laki pada umumnya berposisi sebagai kepala rumah tangga dan pencari nafkah, perokok akan mempertahankan pengeluaran rokok-nya meski kondisi ekonomi menurun. Dengan sifat adiktif-nya, rokok telah menjadi “kebutuhan dasar” rumah tangga perokok, setara dengan kebutuhan pangan.
“Fakta ini membawa petunjuk yang jelas yaitu mengorbankan gizi keluarga demi terus merokok adalah umum ditemui di keluarga perokok miskin. Prevalensi malnutrisi kuat diduga sangat tinggi di keluarga perokok,” ucap Fajri.
Kerawanan pangan ringan terkonfirmasi di 5,6 juta perokok yang mengaku pernah tidak bisa makan makanan sehat dan bergizi karena kekurangan uang. Kerawanan pangan menengah, dimana individu pernah mengalami kehabisan persediaan pangan, terkonfirmasi di 1,6 juta perokok.
“Bahkan, kerawanan pangan parah juga terkonfirmasi dimana individu telah mulai mengalami kondisi kelaparan. Sebesar 640 ribu perokok pernah tidak makan sepanjang hari karena tidak memiliki uang,” ungkap Fajri Azhari, PenelitiIDEAS dalam keterangan tertulisnya kepada LANGIT7.ID pada Hari Tanpa Tembakau Sedunia (HTTS), Selasa (31/5/2022).
Baca Juga: DPR Minta Pemerintah Antisipasi Peredaran Rokok Ilegal
Dengan laki-laki pada umumnya berposisi sebagai kepala rumah tangga dan pencari nafkah, perokok akan mempertahankan pengeluaran rokok-nya meski kondisi ekonomi menurun. Dengan sifat adiktif-nya, rokok telah menjadi “kebutuhan dasar” rumah tangga perokok, setara dengan kebutuhan pangan.
“Fakta ini membawa petunjuk yang jelas yaitu mengorbankan gizi keluarga demi terus merokok adalah umum ditemui di keluarga perokok miskin. Prevalensi malnutrisi kuat diduga sangat tinggi di keluarga perokok,” ucap Fajri.