Dua Ulama Muhammadiyah Alumni Pesantren Tebuireng
Muhajirin
Rabu, 04 Agustus 2021 - 09:00 WIB
Dua Ulama Muhammadiyah Alumni Pesantren Tebuireng KH Muammal Hamidy dan KH Afnan Anshori (foto: istimewa)
Tak banyak yang tahu, ternyata tak sedikit Ulama Muhammadiyah yang pernah menjadi santri Pesantren Tebuireng yang didirikan oleh KH Hasyim Asy’ari.
Selain merupakan pendiri Nahdlatul Ulama (NU), KH Hasyim Asy’ari merupakan ahli hadits. Mempunyai majelis yang khusus mengkaji Kitab Shahih Bukhari dan Muslim. Setiap Ramadhan, ulama dari berbagai penjuru datang ke Tebuireng untuk ngaji hadits ke beliau.
NU dan Muhammadiyah sebenarnya memiliki hubungan erat. Pendiri NU, KH Muhammad Hasyim Asy’ari dan pendiri Muhammadiyah KH Ahmad Dahlan memiliki satu guru yang sama. Keduanya satu guru, sama-sama nyantri kepada Kiai Saleh Darat di Semarang dan Syaikhona Kholil di Bangkalan.
Muhammadiyah sering disebut pula sebagai ‘saudara tua’ bagi NU. KH Dahlan juga lebih senior 7 tahun daripada Kiai Hasyim. Kiai Dahlan lahir di Yogyakarta 1 Agustus 1868 dan wafat di Yogyakarta 23 Februari 1923. Kiai Hasyim lahir di Demak 10 April 1875 dan wafat di Jombang 25 Juli 1947.
Maka tak heran pula jika ada pimpinan dan Ulama Muhammadiyah yang pernah nyantri di pesantren yang didirikan KH Hasyim Asy'ari. Setidaknya tercatat ada dua Ulama Muhammadiyah yang pernah nyantri di Pondok Pesantren Tebuireng.
Di antaranya ada almarhum KH Muammal Hamidy dan almarhum KH Afnan Anshori dari Lamongan. Selain itu, ada banyak tokoh-tokoh Muhammadiyah yang pernah belajar di pesantren-pesantren NU, misalnya KH Abdurrahim Nur.
KH Abdurrahim Nur pernah pernah belajar Pondok Pesantren Darul Ulum, Peterongan, Jombang. Seperti halnya Tebuireng, pesantren tersebut pun diasuh para kiai Nahdliyin, di antaranya KH Romli Tamim dan KH Dahlan Kholil.
Selain merupakan pendiri Nahdlatul Ulama (NU), KH Hasyim Asy’ari merupakan ahli hadits. Mempunyai majelis yang khusus mengkaji Kitab Shahih Bukhari dan Muslim. Setiap Ramadhan, ulama dari berbagai penjuru datang ke Tebuireng untuk ngaji hadits ke beliau.
NU dan Muhammadiyah sebenarnya memiliki hubungan erat. Pendiri NU, KH Muhammad Hasyim Asy’ari dan pendiri Muhammadiyah KH Ahmad Dahlan memiliki satu guru yang sama. Keduanya satu guru, sama-sama nyantri kepada Kiai Saleh Darat di Semarang dan Syaikhona Kholil di Bangkalan.
Muhammadiyah sering disebut pula sebagai ‘saudara tua’ bagi NU. KH Dahlan juga lebih senior 7 tahun daripada Kiai Hasyim. Kiai Dahlan lahir di Yogyakarta 1 Agustus 1868 dan wafat di Yogyakarta 23 Februari 1923. Kiai Hasyim lahir di Demak 10 April 1875 dan wafat di Jombang 25 Juli 1947.
Maka tak heran pula jika ada pimpinan dan Ulama Muhammadiyah yang pernah nyantri di pesantren yang didirikan KH Hasyim Asy'ari. Setidaknya tercatat ada dua Ulama Muhammadiyah yang pernah nyantri di Pondok Pesantren Tebuireng.
Di antaranya ada almarhum KH Muammal Hamidy dan almarhum KH Afnan Anshori dari Lamongan. Selain itu, ada banyak tokoh-tokoh Muhammadiyah yang pernah belajar di pesantren-pesantren NU, misalnya KH Abdurrahim Nur.
KH Abdurrahim Nur pernah pernah belajar Pondok Pesantren Darul Ulum, Peterongan, Jombang. Seperti halnya Tebuireng, pesantren tersebut pun diasuh para kiai Nahdliyin, di antaranya KH Romli Tamim dan KH Dahlan Kholil.