LANGIT7.ID - Tak banyak yang tahu, ternyata tak sedikit Ulama Muhammadiyah yang pernah menjadi santri Pesantren Tebuireng yang didirikan oleh KH Hasyim Asy’ari.
Selain merupakan pendiri Nahdlatul Ulama (NU), KH Hasyim Asy’ari merupakan ahli hadits. Mempunyai majelis yang khusus mengkaji Kitab Shahih Bukhari dan Muslim. Setiap Ramadhan, ulama dari berbagai penjuru datang ke Tebuireng untuk ngaji hadits ke beliau.
NU dan Muhammadiyah sebenarnya memiliki hubungan erat. Pendiri NU, KH Muhammad Hasyim Asy’ari dan pendiri Muhammadiyah KH Ahmad Dahlan memiliki satu guru yang sama. Keduanya satu guru, sama-sama nyantri kepada Kiai Saleh Darat di Semarang dan Syaikhona Kholil di Bangkalan.
Muhammadiyah sering disebut pula sebagai ‘saudara tua’ bagi NU. KH Dahlan juga lebih senior 7 tahun daripada Kiai Hasyim. Kiai Dahlan lahir di Yogyakarta 1 Agustus 1868 dan wafat di Yogyakarta 23 Februari 1923. Kiai Hasyim lahir di Demak 10 April 1875 dan wafat di Jombang 25 Juli 1947.
Maka tak heran pula jika ada pimpinan dan Ulama Muhammadiyah yang pernah nyantri di pesantren yang didirikan KH Hasyim Asy'ari. Setidaknya tercatat ada dua Ulama Muhammadiyah yang pernah nyantri di Pondok Pesantren Tebuireng.
Di antaranya ada almarhum KH Muammal Hamidy dan almarhum KH Afnan Anshori dari Lamongan. Selain itu, ada banyak tokoh-tokoh Muhammadiyah yang pernah belajar di pesantren-pesantren NU, misalnya KH Abdurrahim Nur.
KH Abdurrahim Nur pernah pernah belajar Pondok Pesantren Darul Ulum, Peterongan, Jombang. Seperti halnya Tebuireng, pesantren tersebut pun diasuh para kiai Nahdliyin, di antaranya KH Romli Tamim dan KH Dahlan Kholil.
Mengenal KH Afnan AnshoriDilansir dari pwmu.co, KH Afnan Anshori adalah perintis Muhammadiyah di Blimbing Paciran maupun Lamongan bersama KH Adnan Noor, KH Ridlwan Syarqowi, dan KH Sakdullah. Dia menyelesaikan pendidikan di MI Islamiyah Blimbing lulus 1960. Setelah lulus dari sekolah tersebut, beliau melanjutkan pendidikan ke Tebuireng.
KH Anshori melanjutkan pendidikan ke MTs Ponpes Tebuireng Jombang dan lulus tahun 1963 dan MA di Ponpes Tebuireng Jombang MA lulus pada 1966. Takhassus Ilmu Hadits dan Tafsir lulus tahun 1968. Kemudian melanjutkan ke Fakultas Ilmu Agama dan Dakwah (FIAD) Universitas Muhammadiyah Surabaya setahun kemudian.
KH Anshori merupakan Ketua Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Brondong 1960-1985. Kemudian menjadi Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Brondong 1985-1990, 1990-1995 dan 1995-2000.
Kemudian, beliau menjadi Ketua PDM Lamongan pada periode 2000-2005 dan Wakil Ketua PDM Lamongan 2005-2015. Ditingkat Jawa Timur ia menjabat sebagai anggota MTTPI PWM Jawa Timur 2000-2005.
KH Afnan Anshori menjadi pengurus MUI Lamongan cukup lama. Sebagai Ketua MUI Lamongan Bidang Ukhuwah periode 2001-2006, dan periode 2007-2012.
Perintis dakwah Muhammadiyah di Lamongan ini baru saja wafat beberapa bulan lalu akibat Covid-19 19. KH Afnan Anshori tutup usia di umur 74 tahun. Jenazahnya dimakamkan di pemakaman Islam Brondong Lamongan.
Mengenang KH Muammal HamidyKH Muammal Hamidy merupakan mantan Wakil Ketua Pengurus Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur. Beliau menjadi santri Ponpes Tebuireng pada 1958 setelah lulus dari Madrasah Ibtidaiyah di Sedayu Gresik tahun 1955, lalu lulus dari Pesantren Tebuireng Jombang tahun 1958.
Setelah dari Tebuireng, KH Muammal Hamidy melanjutkan nyantri ke Pesantren PERSIS Bangil dan lulus pada tahun 1963. Ia kemudian melanjutkan studi ke Sekolah Tinggi PERSIS Bangil dan lulus di tahun 1968. Setelah dari Bangil ia bertolak ke Madinah dan melanjutkan studi di Universitas Islam Madinah. Setelah lulus dari Madinah, beliau melanjutkan kembali studi di Universitas Al-Azhar Cairo.
Sepulang dari Mesir, M Natsir mendirikan Pesantren Tinggi yang lantas dikenal dengan sebutan Al-Ma’had Aly Lil Fiqh Wa Al-Dakwah. KH Muammal Hamidy pun ditunjuk menjadi pemimpin atau Mudir Ma’had Aly tersebut.
KH Muammal Hamidy dikenal sebagai sosok yang rajin menulis. Mulai dari lembar ceramah hingga buku. Meski hanya untuk sekadar menyampaikan pengajian di hadapan 20-an orang saja dia tetap membuat tulisan untuk dibagikan kepada yang hadir. Maka, dari titik ini, sangat mudah dipahami alasan beliau memiliki banyak guru.
Beliau aktif menulis sejak menjadi santri. Sudah banyak buku yang telah beliau tulis, baik karya asli maupun terjemahan. Untuk karya sendiri, antara lain berjudul Tanda-tanda Khusnul Khotimah, Kumpulan Doa dan Dzikir, Tuntunan Singkat Cara Merawat Jenazah, Tahlilan menurut Sunnah untuk Orang Hidup, Tuntunan Shalat Praktis, Lima Pilar menuju Rumah Tangga Sakinah, Enam Hari Puasa Syawal, Polemik Antar Ulama Fiqh, dan Islam dalam Kehidupan Keseharian (terbit 2011).
KH Muammal Hamidy tutup usia di umur 74 tahun pada 14 April 2015 di Surabaya.
(jqf)