Kisah Gus Dur yang Punya 2 Versi Tanggal Lahir, Salah Satunya Hari Ini
Ahmad jilul qurani farid
Rabu, 04 Agustus 2021 - 16:30 WIB
Abdurrahman Wahid (Gus Dur) di usia muda (foto: santrijagad.org)
Presiden Republik Indonesia ke-4 KH Abdurrahman Wahid memiliki dua versi tanggal lahir yakni 4 Agustus 1940 dan 7 September 1940. Dikutip dari akun instagram @jaringangusdurian, muncul dua tanggal lahir yang berbeda sebab ada kesalahpahaman dalam pencatatan dari petugas.
Saat petugas bertanya ke Ibunda Gus Dur Nyai Solichah, beliau menjawab bahwa Gus Dur lahir tanggal empat bulan delapan. Maksudnya adalah menurut penanggalan hijriah yakni tanggal 4 Sya'ban atau bertepatan dengan 7 September 1940. Namun petugas salah mencatatnya menjadi tanggal 4 Agustus.
Perbedaan versi ini tidak sampai di situ. Karena Nyai Aisyah, adik kandung Gus Dur, lahir bulan Juni 1940. “Tidak mungkin tanggal adik Gus Dur lebih tua kan? Terus tanggal lahir Gus Dur kapan dong? Wallahua'lam,” tulis akun @jaringangusdurian.
Namun karena sudah terlanjur tercatat di Catatan Sipil, akhirnya tanggal 4 Agustus 1940 yang juga jatuh hari ini adalah tanggal yang digunakan untuk keperluan administrasi Gus Dur.
Gus Dur kecil lahir dengan nama lengkap Abdurrahman Addakhil yang diambil dari nama pendiri dinasti Umayah di Andalusia atau Spanyol. Addakhil sendiri berarti Sang Penakluk. Nama Wahid sendiri merupakan nama ayah Gus Dur KH Wahid Hasyim, sehingga Gus Dur kemudian lebih familiar disapa KH Abdurrahman Wahid.
Di masa kecilnya, Gus Dur dikenal sebagai anak yang sangat aktif. Dalam buku Biografi Gus Dur: The Authorized Biography of Abdurrahman Wahid karya Greg Barton, disebut Gus Dur kecil sering memanjat pohon bahkan beberapa kali jatuh hingga tangannya pernah dua kali patah. Selain itu, Gus Dur kecil juga dikenal jenius, bahkan saking jeniusnya sering menggampangkan pelajaran di sekolah hingga tinggal kelas.
Gus Dur kemudian berkuliah di Universitas Al-Azhar Kairo tapi tidak tamat karena lebih senang membaca buku di Perpustakaan dan beraktivitas di luar kelas. Lalu Gus Dur pindah ke Universitas Baghdad dan menamatkan pendidikannya di Irak. Sepulang dari Irak, Gus Dur aktif menjadi peneliti dan akademisi dan tentu melanjutkan peran kakek dan ayahnya sebagai Ulama. Hingga kemudian Gus Dur terpilih menjadi Ketua Umum Nahdlatul Ulama selama beberapa periode.
Saat petugas bertanya ke Ibunda Gus Dur Nyai Solichah, beliau menjawab bahwa Gus Dur lahir tanggal empat bulan delapan. Maksudnya adalah menurut penanggalan hijriah yakni tanggal 4 Sya'ban atau bertepatan dengan 7 September 1940. Namun petugas salah mencatatnya menjadi tanggal 4 Agustus.
Perbedaan versi ini tidak sampai di situ. Karena Nyai Aisyah, adik kandung Gus Dur, lahir bulan Juni 1940. “Tidak mungkin tanggal adik Gus Dur lebih tua kan? Terus tanggal lahir Gus Dur kapan dong? Wallahua'lam,” tulis akun @jaringangusdurian.
Namun karena sudah terlanjur tercatat di Catatan Sipil, akhirnya tanggal 4 Agustus 1940 yang juga jatuh hari ini adalah tanggal yang digunakan untuk keperluan administrasi Gus Dur.
Gus Dur kecil lahir dengan nama lengkap Abdurrahman Addakhil yang diambil dari nama pendiri dinasti Umayah di Andalusia atau Spanyol. Addakhil sendiri berarti Sang Penakluk. Nama Wahid sendiri merupakan nama ayah Gus Dur KH Wahid Hasyim, sehingga Gus Dur kemudian lebih familiar disapa KH Abdurrahman Wahid.
Di masa kecilnya, Gus Dur dikenal sebagai anak yang sangat aktif. Dalam buku Biografi Gus Dur: The Authorized Biography of Abdurrahman Wahid karya Greg Barton, disebut Gus Dur kecil sering memanjat pohon bahkan beberapa kali jatuh hingga tangannya pernah dua kali patah. Selain itu, Gus Dur kecil juga dikenal jenius, bahkan saking jeniusnya sering menggampangkan pelajaran di sekolah hingga tinggal kelas.
Gus Dur kemudian berkuliah di Universitas Al-Azhar Kairo tapi tidak tamat karena lebih senang membaca buku di Perpustakaan dan beraktivitas di luar kelas. Lalu Gus Dur pindah ke Universitas Baghdad dan menamatkan pendidikannya di Irak. Sepulang dari Irak, Gus Dur aktif menjadi peneliti dan akademisi dan tentu melanjutkan peran kakek dan ayahnya sebagai Ulama. Hingga kemudian Gus Dur terpilih menjadi Ketua Umum Nahdlatul Ulama selama beberapa periode.