Saat Nabi Muhammad Jadi Juru Damai Pertikaian Kabilah di Makkah
Muhajirin
Rabu, 29 Juni 2022 - 21:15 WIB
Ilustrasi Makkah di zaman dahulu (foto: pinterest)
Nabi Muhammad SAW bukan hanya seorang pemimpin yang diakui kawan dan lawan. Beliau merupakan tokoh pembawa perdamaian, bahkan sebelum diangkat menjadi nabi dan rasul.
Ustadz Ahmad Zarkasih dalam buku “Manusia yang tidak Seperti Manusia” menceritakan, Kakbah pernah direnovasi oleh para pemuka kabilah di Makkah saat Nabi Muhammad SAW berusia 35 tahun. Waktu itu beliau belum menjadi nabi.
Kala itu, Kakbah sudah menjadi bangunan terhormat yang memiliki keagungan bagi setiap kabilah di Hijaz. Dalam rekonstruksi Kakbahitu, para pemuka kabilah membagi peran dalam pembangunan agar semua mendapat kehormatan.
Setiap kabilah mendapat jatah masing-masing batu untuk dibangun menjadi Kakbah. Namun, mereka tetap mengangkat seorang arsitek sebagai komandan pembangunan. Arsitek itu berasal dari Romawi yang bernama Yaquum.
Baca Juga:Apakah Suku Quraisy Masih Eksis Sampai Sekarang?
Saat Pembangunan sampai pada posisi Hajar Aswad, para tetua Kabilah itu justru berselisih. Mereka memperebutkan siapa yang berhak dan dari kabilah mana yang pantas mendapatkan kehormatan meletakkan Hajar Aswad di tempatnya.
Pada kondisi genting itulah Nabi Muhammad SAW menjadi juru damai. Hingga pada akhirnya semua tetua kabilah senang dengan solusi yang ditawarkan oleh Nabi Muhammad.
Ustadz Ahmad Zarkasih dalam buku “Manusia yang tidak Seperti Manusia” menceritakan, Kakbah pernah direnovasi oleh para pemuka kabilah di Makkah saat Nabi Muhammad SAW berusia 35 tahun. Waktu itu beliau belum menjadi nabi.
Kala itu, Kakbah sudah menjadi bangunan terhormat yang memiliki keagungan bagi setiap kabilah di Hijaz. Dalam rekonstruksi Kakbahitu, para pemuka kabilah membagi peran dalam pembangunan agar semua mendapat kehormatan.
Setiap kabilah mendapat jatah masing-masing batu untuk dibangun menjadi Kakbah. Namun, mereka tetap mengangkat seorang arsitek sebagai komandan pembangunan. Arsitek itu berasal dari Romawi yang bernama Yaquum.
Baca Juga:Apakah Suku Quraisy Masih Eksis Sampai Sekarang?
Saat Pembangunan sampai pada posisi Hajar Aswad, para tetua Kabilah itu justru berselisih. Mereka memperebutkan siapa yang berhak dan dari kabilah mana yang pantas mendapatkan kehormatan meletakkan Hajar Aswad di tempatnya.
Pada kondisi genting itulah Nabi Muhammad SAW menjadi juru damai. Hingga pada akhirnya semua tetua kabilah senang dengan solusi yang ditawarkan oleh Nabi Muhammad.