BNPT Ungkap Strategi Pencegahan Radikalisme di Indonesia
Hasanah syakim
Kamis, 30 Juni 2022 - 09:38 WIB
Narasumber dalam Diskusi Panel dan Deklarasi Kebangsaan Mahasiswa Indonesia yang digelar Rabu (19/6/2022) (foto: hasanah syakim)
Direktur Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) RI, Brigjen Pol. R. A Nurwahid menyampaikan bahwa pihaknya mempunyai tiga klaster dalam pencegahan penyebaran radikalisme di Indonesia melalui tiga strategi.
Menurut Nurwahid, cara pertama yaitu klaster moderat atau mereka yang belum tetapi tetap berpotensi terpapar paham radikal melalui strategi kesiapsiagaan nasional dengan melakukan upaya moderasi beragama, berbangsa, serta vaksinasi ideologi sebagai imunitas terhadap virus radikal.
"Klaster ini sekitar 47,8 persen masih moderat dan baik tapi rata-rata dari mereka hanya diam. Ketika semisal di whatsapp grup ada pihak yang menyebarkan kebencian, atau menyebarkan hoax mayoritas moderat diam," katanya dalam kegiatan Diskusi Panel dan Deklarasi Kebangsaan Mahasiswa Indonesia, Rabu (19/6/2022).
Baca juga:Penanggulangan Terorisme di Indonesia Harus dilakukan Komprehensif
Menurutnya, hal tersebut harus diperhatikan jangan sampai secara tidak sadar orang moderat terpapar paham radikal yang disebarkan lewat dunia maya.
"Karena sesuatu yang salah bila dibiarkan seolah-olah menjadi sesuatu yang benar, ini yang sebenarnya harus diwaspadai," terangnya.
"Kabar baiknya, saat pandemi indeks orang tanpa gejala atau OTG dari radikalisme turun menjadi 12,2 persen karena kita sudah ada regulasi. Kendati belum lengkap sampai dapat menjerat aspek ideologinya tapi ini bagus meski belum optimal," ujarnya.
Menurut Nurwahid, cara pertama yaitu klaster moderat atau mereka yang belum tetapi tetap berpotensi terpapar paham radikal melalui strategi kesiapsiagaan nasional dengan melakukan upaya moderasi beragama, berbangsa, serta vaksinasi ideologi sebagai imunitas terhadap virus radikal.
"Klaster ini sekitar 47,8 persen masih moderat dan baik tapi rata-rata dari mereka hanya diam. Ketika semisal di whatsapp grup ada pihak yang menyebarkan kebencian, atau menyebarkan hoax mayoritas moderat diam," katanya dalam kegiatan Diskusi Panel dan Deklarasi Kebangsaan Mahasiswa Indonesia, Rabu (19/6/2022).
Baca juga:Penanggulangan Terorisme di Indonesia Harus dilakukan Komprehensif
Menurutnya, hal tersebut harus diperhatikan jangan sampai secara tidak sadar orang moderat terpapar paham radikal yang disebarkan lewat dunia maya.
"Karena sesuatu yang salah bila dibiarkan seolah-olah menjadi sesuatu yang benar, ini yang sebenarnya harus diwaspadai," terangnya.
"Kabar baiknya, saat pandemi indeks orang tanpa gejala atau OTG dari radikalisme turun menjadi 12,2 persen karena kita sudah ada regulasi. Kendati belum lengkap sampai dapat menjerat aspek ideologinya tapi ini bagus meski belum optimal," ujarnya.