Tebing Sawapudo, Area Rock Climbing Berketinggian Hingga 20 Meter
Hasanah syakim
Selasa, 05 Juli 2022 - 14:43 WIB
Tebing Sawapudo (foto: disparsultra.id)
Tebing Sawapudo merupakan sebuah dinding batuan karst yang kerapkali digunakan sebagai area rock climbing serta wahana uji nyali oleh para komunitas pencinta alam. Sebab, tebing ini memiliki ketinggian sekitar 20 meter.
Dilansir dari disparsultra.id, Tebing Sawapudo berlokasi di Kecamatan Soropia, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara masyarakat setempat biasanya menyebutnya dengan Tebing Kotani Langge. Wisatawan dapat menempuh perjalanan sekitar 26 kilometer dengan menggunakan mobil ataupun motor dari pusat Kota Kendari.
Tebing ini terbentuk dari batuan berjenis batu kapur khas karst, keras dan berwarna putih keabu-abuan dengan struktur permukaan tebingnya banyak terdapat lubang dan tonjolan.
Berbeda dengan jenis batu lainnya, tekstur dan jenis batu pada tebing ini keras dan tidak mudah rapuh membuat orang lebih menyukai tebing sawapudo.
Baca juga:Harga Tiket Masuk Rp3,75 juta, Ini Penjelasan Pengelola TN Komodo
Dengan tekstur batunya yang keras saat memanjat keamanan dan kenyamanan bisa dirasakan wisatawan. Banyak batuan besar yang terpisah dari batuan ini sehingga proses pembentukan alam ini diperkirakan sekitar tiga juta tahun yang lalu.
Pada mulanya, tebing sawapudo ditemukan oleh pegiat alam Mapala Unsultra tahun 1996. Sawapudo sendiri di ambil dari nama sawa yang berarti diam dan pado artinya penggal dalam bahasa lokal.
Dilansir dari disparsultra.id, Tebing Sawapudo berlokasi di Kecamatan Soropia, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara masyarakat setempat biasanya menyebutnya dengan Tebing Kotani Langge. Wisatawan dapat menempuh perjalanan sekitar 26 kilometer dengan menggunakan mobil ataupun motor dari pusat Kota Kendari.
Tebing ini terbentuk dari batuan berjenis batu kapur khas karst, keras dan berwarna putih keabu-abuan dengan struktur permukaan tebingnya banyak terdapat lubang dan tonjolan.
Berbeda dengan jenis batu lainnya, tekstur dan jenis batu pada tebing ini keras dan tidak mudah rapuh membuat orang lebih menyukai tebing sawapudo.
Baca juga:Harga Tiket Masuk Rp3,75 juta, Ini Penjelasan Pengelola TN Komodo
Dengan tekstur batunya yang keras saat memanjat keamanan dan kenyamanan bisa dirasakan wisatawan. Banyak batuan besar yang terpisah dari batuan ini sehingga proses pembentukan alam ini diperkirakan sekitar tiga juta tahun yang lalu.
Pada mulanya, tebing sawapudo ditemukan oleh pegiat alam Mapala Unsultra tahun 1996. Sawapudo sendiri di ambil dari nama sawa yang berarti diam dan pado artinya penggal dalam bahasa lokal.