Gernas MUI Buka Layanan Konsultasi Kesehatan Virtual
Ahmad zuhdi
Jum'at, 06 Agustus 2021 - 23:28 WIB
Ilustrasi konsultasi kesehatan jarak jauh atau virtual. Foto: Langit7.id/iStock
Gerakan Nasional Majelis Ulama Indonesia (Gernas MUI) Penanggulangan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi meluncurkan layanan konsultasi agama dan kesehatan bagi masyarakat secara virtual terkait. Wakil Ketua Gernas MUI KH Cholil Nafis menyebutkan, hasil kajian Universitas Oxford Inggris yang diterbitkan Jurnal The Lancet Psychiatry menemukan fakta satu dari lima penyintas Covid-19 mempunyai risiko terkena gangguan mental.
Dalam riset tersebut terungkap sebanyak 20 persen orang yang pernah terinfeksi Covid-19 mengalami gangguan kejiwaan dalam waktu 90 hari. Gejala yang banyak muncul setelah mereka dinyatakan sembuh adalah kecemasan, depresi, dan insomnia.
"Layanan ini didasari hadirnya pandemi Covid-19 di Indonesia yang tidak hanya mengancam kesehatan fisik, tetapi berdampak pada kesehatan mental," kata kyai Cholil dalam bincang-bincang di TV MUI, dikutip Jumat (6/8/2021).
Pimpinan Pesantren Cendikia Amanah itu menjelaskan, sejalan dengan survei Puslitbang Bimas Agama dan Layanan Keagamaan Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama berjudul Urgensi Layanan Agama di Masa Pandemi Covid-19 menyebutkan, 55,1 persen responden setuju Covid-19 memengaruhi keyakinan atau praktik keberagamaan.
"Pandemi Covid-19 memang telah meluluhlantahkan sendi-sendi kehidupan, termasuk rutinitas mengakses kajian, ceramah, dan tausiyah keislaman secara langsung tatap muka dengan ustadz yang barangkali biasa dilakoni dalam kondisi normal. Apalagi bagi mereka yang terpapar parah Covid-19. Kendala akses tentu lebih sulit lagi," ucapnya.
Kabar baiknya, kata kyai Cholil, 86,7 persen responden berupaya terhubung dengan (mencari support dari) pemuka agama dan komunitas agama mereka. Saat isolasi mandiri, ragam aktivitas dilakukan. Sebanyak 56,3 persen mendengar atau membaca kitab suci, 47,2 persen mendengar ceramah, dan 42,8 persen dzikir atau meditasi.
"Sedikit sekali yang konsultasi psikologis khusus," ujarnya.
Dalam riset tersebut terungkap sebanyak 20 persen orang yang pernah terinfeksi Covid-19 mengalami gangguan kejiwaan dalam waktu 90 hari. Gejala yang banyak muncul setelah mereka dinyatakan sembuh adalah kecemasan, depresi, dan insomnia.
"Layanan ini didasari hadirnya pandemi Covid-19 di Indonesia yang tidak hanya mengancam kesehatan fisik, tetapi berdampak pada kesehatan mental," kata kyai Cholil dalam bincang-bincang di TV MUI, dikutip Jumat (6/8/2021).
Pimpinan Pesantren Cendikia Amanah itu menjelaskan, sejalan dengan survei Puslitbang Bimas Agama dan Layanan Keagamaan Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama berjudul Urgensi Layanan Agama di Masa Pandemi Covid-19 menyebutkan, 55,1 persen responden setuju Covid-19 memengaruhi keyakinan atau praktik keberagamaan.
"Pandemi Covid-19 memang telah meluluhlantahkan sendi-sendi kehidupan, termasuk rutinitas mengakses kajian, ceramah, dan tausiyah keislaman secara langsung tatap muka dengan ustadz yang barangkali biasa dilakoni dalam kondisi normal. Apalagi bagi mereka yang terpapar parah Covid-19. Kendala akses tentu lebih sulit lagi," ucapnya.
Kabar baiknya, kata kyai Cholil, 86,7 persen responden berupaya terhubung dengan (mencari support dari) pemuka agama dan komunitas agama mereka. Saat isolasi mandiri, ragam aktivitas dilakukan. Sebanyak 56,3 persen mendengar atau membaca kitab suci, 47,2 persen mendengar ceramah, dan 42,8 persen dzikir atau meditasi.
"Sedikit sekali yang konsultasi psikologis khusus," ujarnya.